Syurrrrr
Segelas air tiba-tiba saja mengguyur surai hitam Ruby yang memejamkan matanya erat merasakan sensasi dingin menerjang kulit kepalanya. Flora membulatkan mata melihat hal tersebut.
"Ups, tangan gue terpeleset!!" Celetuk Sandra mendramatis membekap mulutnya membuat-buat ekspresi terkejut, Flora menggebrak meja naik pitam.
BRAKKK
"Cari masalah bener lo!! Ruy lagi diem-diem aja tiba-tiba di siram pake air! maksud lo apa hah?!! sengaja cari gara-gara lo!!" Flora melangkah mendekati Sandra yang berdiri di belakang Ruby yang bangkit, Ruby lupa jika Flora ada cewek bar-bar yang mudah tersulut emosi. Tidak pernah terhapus dari memori Ruby fakta Flora yang pernah berkelahi di toilet dengan tiga senior cewek sewaktu kelas sepuluh.
Sebelum hal buruk terjadi, Ruby menarik Flora untuk melerai agar tidak terjadi pertarungan jambak saling menjambak rambut.
Dari pintu kantin, Elang dan Alan yang berpapasan dari toilet hadir bersamaan memasuki kantin, hal yang pertama kali menjadi pusat perhatian mereka tentu saja mereka yang tengah beradu mulut tersebut.
"Itu ada apa? kayaknya lagi serius." gumam Alan merasa penasaran. Sebenarnya ia tidak berkenan untuk ikut berpartisipasi dengan urusan betina, tapi ia dapat menangkap sosok pujaan hatinya di sana. Mengikuti dorongan hatinya, langkah kakinya membawanya menghampiri mereka.
Lain halnya dari Alan, Elang menyunggingkan senyum devil sesaat terlintas sebuah ide licik di kepalanya, lalu pergi ke arah stand minuman yang menjual aneka varian rasa.
Pandangan Ruby mengedar ke sekeliling, seisi kantin menyorot ke arah mereka. Jika mereka ribut, akan menjadi bahan gunjingan. Tidak hanya malu bahkan beresiko akan masuk ruang terkutuk yakni ruang BK. "Udah Flo, gue gak papa.."
Sandra memutar matanya sewot. "Tuh kan? orangnya aja bilang gak papa, masa lo-nya yang sensi sih?"
"Ruy seperti itu karena terlalu baik!! jangan samain gue sama Ruy!! kalo gue jadi dia, gak bakal gue biarin orang yang nusuk gue dari belakang hidup tenang!!" cercanya, jari telunjuknya mengarah pada Sandra yang merasa jengah, tidak peduli banyak mulut yang berbisik-bisik memerhatikan ke arah mereka bertiga.
"Itu lo! bukan---"
Syurrrrr
Sandra melongo merasakan air membasahi permukaan kepalanya, lebih dingin dari yang ia siramkan kepada Ruby tadi karena sekarang yang mengguyurnya bukan air sembarang air tetapi air es!! tangannya meraba rambutnya yang lengket sekali dengan pop ice rasa cokelat.
"Ups sorry, sengaja." Tidak berbeda jauh dari Sandra, Elang menutup mulutnya berpura-pura terkejut. Sandra berputar tubuh melihat sang pelaku, "Lo!!" Karena merasa marah, kedua tangannya ia remas melayangkan tatapan sinis nya.
"Apa hah? mau ngajak gelut? ayok!!" Kedua tangannya terlipat di dada, maju kepada Sandra yang memundurkan langkah karena was-was Elang terus melangkah menujunya, hanya tiga langkah kebelakang betisnya menyenggol bangku kantin otomatis membuat dirinya terduduk, ingin bangkit kembali, aksesnya di blokir oleh Elang yang meletakkan kedua tangannya di pinggir meja antara sudut kiri dan kanan dirinya. Sial!! ia terkurung!!
Merasa terpojok, Sandra menelan salivanya susah payah, Elang tersenyum penuh kemenangan melihat raut wajah takutnya. Main kekerasan terhadap sejenis wanita? oh tentu tidak!! itu bukan ciri khas geng mereka. Lebih baik membalas dengan gertakan melalui tindakan halus seperti ini. "Takut lo?"
Sandra gelagapan, "E-enggak!! siapa juga yang takut!!" Dagunya terangkat sok menantang. Sementara Alan mengabaikan drama mereka, ia mendekati Ruby yang hanya menyaksikan berdiri berdampingan dengan Flora.
"Ruy? rambut kamu kenapa basah?" Tangan besarnya terangkat bersiap menyentuh surai hitam legam Ruby yang lekas di tepis kasar oleh sang pemilik.
"Kenapa lagi? kalo bukan perbuatan dari pacar ke sayangan lo itu!" Dagunya menunjuk Sandra yang kini menahan napas kala wajah Elang mengikis jarak di antara mereka, bahkan hembusan napas dari hidung Elang dapat menerpa permukaan kulit Sandra.
"Ng-ngapain lo!!" Matanya tertutup ketika Elang terus memajukan wajahnya hingga berjarak tinggal dua centi menyetuh bibirnya, Elang seketika tergelak di hadapan wajah Sandra hingga napas panas di campur oleh hawa bau jigong yang menganggu penciuman Sandra dari jarak sedekat ini.
Elang menjauhkan diri. "Lo pikir gue bakal nyium lo? mimpi lo ke tinggian!! bahkan langit runtuh sekali pun gue gak bakal nyium bekasan Alan!!" Cercanya terbahak-bahak hingga terpingkal-pingkal tertuju untuk Sandra yang hanya fokus mengipas-ngipas wajahnya yang memerah sambil menjepit hidungnya menggunakan jari telunjuk juga jempolnya. "Bau jigong huekk!!"
Rautnya langsung berubah seratus sembilan puluh delapan derajat menjadi sumringah melihat Alan yang menghampirinya, "Lan? kenapa? lo udah sadar kalo lo cinta ke gue, dan mau ngajak gue balikan?"
"Ikut gue!!" Alan menarik kasar tangannya untuk bangkit dan menyeretnya pergi meninggalkan pusat perhatian. Mengedikkan bahunya bodo amat, Elang lantas melangkah ke arah Flora. "Flo? lo gak ada lecet-lecet sedikit pun kan?" Dengan lancangnya cowok itu meraba-raba seluruh tubuh Flora untuk memeriksa.
Jengkel, Flora memukul lengan Elang. "Gak ada yang lecet-lecet!! justru yang jadi korban di sini itu, Ruy! bukan gue!!"
Alan dapat bernapas lega mendengarnya, "Gue saranin lo berhenti deh cari masalah sama orang demi ke damaian bersama. Kalo lo luka sedikit aja gimana? yang jadi sasarannya Gatra itu gue, Flo. Bukan Elo! bisa-bisa gue pulang tinggal nama."
Bibir Flora mencebik acuh, "Kan yang nyari masalah duluan tadi itu si Medusa bukan gue!"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments