Dentuman musik DJ mengalun keras, tak berhenti menyaluri ruangan dengan kesan big party tersebut. Terdengar begitu mendengung di telinga bagi siapapun yang berada di sana. Lampu sorot terpancar kesana-kemari menemani hiruk pikuk orang-orang yang meliuk-liuk kan tubuh. Berusaha menghibur diri agar bisa melupakan masalah walaupun hanya sejenak.
Ruby. Gadis cantik itu duduk di kursi paling sudut dalam keadaan mabuk berat. Gelas-gelas minuman alkohol dengan dosis rendah yang telah kosong, tergeletak asal di atas meja. Mengingat bahwa Ruby bukanlah tipikal wanita yang biasa meminum minuman keras, memudahkannya mabuk meski belum cukup banyak mengonsumsi nya.
Tukk
Satu gelas lagi Ruby teguk dan kesadarannya tertelan oleh mabuknya. Kepalanya oleng dan bersandar di bahu Flora yang ada di sisinya. Melupakan sebagian niat awal mereka yang katanya mencari cogan. Bagaimana caranya mencari cogan kalau sudah mabuk kepalang?
Sejak tadi, Ruby meracau-racau tidak jelas di bahu Flora yang belum kalap sepertinya. Namun, kepalanya juga cukup pening. "Dasar badebah!! Alan jelek! gak cukup satu cewek!! gue kurang apa sampe lo selingkuh hah?!! katakan!!" Racaunya. "Aku ceburin kelaut lo biar di makan sama buaya sejenis sama lo!!"
Drrrttttt
Flora menyingkirkan kepala Ruby dari bahunya dan merogoh sakunya untuk mengambil ponsel, sejak tadi benda itu terus bergetar hingga ia terpaksa harus mengecek siapa yang sedari tadi meneleponnya.
...Farzan...
Dahi Flora mengerut, 'Kakak?' Kemudian ia bangkit dari duduknya, di sini berisik sekali tidak pantas jika mengangkat panggilan di tempat ini. "Ruy lo tunggu di sini. Jangan kemana-mana gue ngangkat telepon bentar." Pesannya yang entah di dengarkan oleh Ruby atau tidak. Setelah itu Flora pergi mencari tempat menerima panggilan yang pas.
Kepala Ruby sempoyongan, keramaian di sana terlihat kabur di pandangan Ruby. Mulutnya komat-kamit tidak henti-hentinya meracau dan tentunya sudah dapat di ketahui jelas siapa yang menjadi objek racaunya tidak ketinggalan menyematkan sumpah serapah untuk Alan.
Pelayan bar yang di juluki barista tiba-tiba datang menghampirinya dan menyerahkan segelas minuman alkohol lagi kepada Ruby yang menerimanya senang hati, Gadis itu mengacuhkan kondisi kesadarannya yang ada dan menghabiskannya dalam satu kali tegukan. Ruby meringis kecil, minuman ini lebih memekakkan dari pada alkohol yang ia konsumsi sebelumnya.
Bola mata Ruby berbinar ketika tidak sengaja melihat pria tampan yang memancarkan kharisma tengah duduk di salah satu meja tidak jauh dari tempatnya saat ini. Entah mengapa kalau sudah mengenai cowok ganteng, netranya mendadak jernih seketika. Ia tersenyum miring. "Lo pikir cuma lo doang yang bisa mengkhianati? gue juga bisa!!" tukasnya sinis entah kepada siapa.
Ruby berdiri dengan sisa-sisa kesadarannya, jalan oleng menuju lelaki yang menjadi targetnya. Belum sampai di tempat tujuannya, ia bertubrukan dengan pria tua yang perutnya gembul, "Eh Nona manis?" Gigi emasnya menyilaukan mata bagi siapapun yang melihat. Ia mencolek dagu Ruby genit, di sisi lain gadis itu merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. "Sendiri aja Nona? mau abang temanin?"
Pekikan Ruby teredam di balik dentuman DJ yang tidak berhenti menggema di keramaian, pria paru baya itu sudah memeluknya. Ruby mencoba menolak pelukan sekuat tenaga, "Lepasin gue b.a.n.gk.e!" Tubuhnya mendadak panas tidak karuan dan terasa tidak nyaman. Ini menyiksanya. 'Apakah malam ini gue akan berakhir dengan pria tua ini. Oh no!!' Batinnya menjerit panik. Pergerakan yang awalnya menolak di gantikan oleh gerakan gelisah.
Perhatian Athala yang sedang berbincang-bincang dengan rekan bisnisnya tersita kearah Ruby yang tengah di kunkung oleh pria tua, ia paling benci dengan pemandangan yang seperti itu, menjijikan sekali di matanya.
Athala beranjak tanpa basa-basi, tidak mempedulikan apa lagi yang di bicarakan oleh mereka. "Tha? lo mau kemana?" tanya Reygan asisten dari Athala. Dan tidak mendapat respon sama sekali. Ia juga ikut bangkit, mingkem permisi kepada rekan bisnis mereka sebelum menyusul Athala.
Athala menarik bahu pria tua itu dan menghempasnya hingga berakhir terduduk di lantai, ia meringis merasakan bokongnya yang kebas membentur kuat lantai. "Kamu siapa? berani-beraninya ikut campur dengan urusanku?!!" Marahnya kepada Athala yang mengadahkan tangannya kepada Reygan cepat tanggap, menyerahkan sapu tangan.
Athala mengusap tangannya yang menyentuh pundak pria tua buncit itu dengan sapu tangan seolah-olah itu adalah noda yang patut untuk di bersihkan. Kemudian setelah menyerahkan kembali barang itu kepada Reygan, ia hendak berlalu begitu saja mengabaikan pria tua yang meradang sudah berkoar-koar marah tidak jelas.
Tubuh Athala berputar kembali kala tangannya di tarik paksa oleh Ruby, lalu matanya melotot lebar hampir terlepas saat gumpalan lembut dan empuk tiba-tiba mendarat persis di bibirnya tanpa aba-aba. Itu semua terjadi di luar dugaan.
Reygan memejamkan mata rapat seraya meringis kecil, 'Ternyata masih ada cewek yang punya keberanian besar bisa nyium Atha. Tamatlah riwayatnya. Tuhan, lindungilah cewek itu.'
Kelopak mata Reygan terbuka sedikit, mengintip mereka. Ia terperangah dengan mulut ternganga lebar. Terkejut mendapati Athala dan Ruby saling menikmati pagutan. Bukan, bukan itu yang menjadi kejutan untuknya. Melainkan Athala sendiri.
Langkah sekali lelaki itu bisa bercumbu dengan wanita sementara ia mempunyai kelainan. "Waw!!" Reygan bertepuk tangan untuk apresiasi. 'Apakah Atha sudah sembuh?' batinnya merasa tidak percaya sekaligus haru.
Athala dan Ruby menyudahi ciuman panas membara di antara mereka, 'S.h.it!!' Athala mengumpat dalam hati, merasa jika dirinya lepas kendali hanya gara-gara gadis kecil ini. Ia mengusap bibir Ruby yang terdapat jejak salivanya. "Gadis kecil, lo kenapa?" tanyanya, ia mengamati Ruby yang bergerak tidak nyaman di rengkuhannya nya, kedua tangan Athala mengalun di pinggang rampingnya.
Ekspresi penuh gairahnya, memancing gejolak aneh pada diri Athala. Perasaan ini baru pertama kali di alami oleh Athala dan asing untuknya.
"Tolongin gue.. gue tersiksa.. ini menyakitkan.."
Netranya sayu, Ruby mengigit bibir bawahnya menahan sensasi yang ia rasakan. Dan hendak melepas bajunya karena ia merasa sangat kegerahan untunglah Athala langsung menahannya, "Hey, lo mau telanjang di sini?" Athala menyebar pandangan menyapu sekeliling yang terlihat padat oleh keramaian, lalu kembali mengalihkan fokus kepada Ruby. "Di sini ramai." Peringatnya.
"Gue kepanasan.. tolongin gue please.." Ruby memasang wajah merah padamnya penuh memelas. Athala malah salah fokus pada belahan dada Ruby yang terlihat, ia menelan salivanya kasar lalu memperbaiki pakaian Ruby agar tidak berantakan. "Baiklah, gadis kecil. Lo ikut gue, ya?" Pintanya.
Melepas jas hitamnya dan memasangkannya di tubuh kecil Ruby yang tenggelam di balik kemeja kebesarannya. Hingga detik berikutnya tubuh Ruby melayang di udara, Athala menggendongnya ala karung beras.
Baru tiga langkah Athala jalan ia kembali berhenti, menyempatkan menoleh pada Reygan yang terus-terusan mengekori-nya, "Mau sampe kapan lo ngikutin gue?"
"Lo-- gak bakalan bunuh cewek itu kan?" Reygan takut akan terjadi hal yang tidak di inginkan. Athala membuang napas jengah. "Lo pikir gue psikopat?" Sarkasnya, menghunuskan tatapan elangnya pada Reygan yang sukses membuat lelaki itu terintimidasi.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Icaa
Galau😭
2023-05-22
0
Yuki✨
Habis
2023-05-21
0
Yuki✨
Ramai bet
2023-05-21
0