Adakalanya kita sebagai manusia ada titik jenuhnya. Seperti fase yang di alami oleh Alan. Ia merana setiap kali Ruby tidak mempunyai waktu banyak bersamanya. Sulit untuk di ajak jalan, bertemu saja susah. Awalnya, Alan masih mencoba sabar dan sabar. Tapi, Ruby terlalu sibuk. Hanya sibuk belajar dan bekerja. Alan bisa memaklumi itu semua kalau Ruby masih menerima meski hanya sedikit saja bantuan darinya. Namun, Ruby menolak setiap bantuan yang Alan tawarkan. Jadi, apa gunanya ia sebagai pacar jika tidak bisa di andalkan sedikit pun?
Sampai akhirnya ia memilih untuk mencari kesenangan yakni kepada Sandra. Sandra selalu memiliki waktu dan cukup membuat Alan tidak kesepian.
Tetapi di satu sisi, tidak mudah juga bagi Alan, ia terus di hantui oleh rasa bersalah jika sewaktu-waktu Ruby mengetahui kebusukan mereka. Sudah pasti Ruby akan terluka. Ia selalu meyakinkan diri, Ruby tidak akan mengetahui hubungan mereka jika mereka menutupinya dengan rapat dan tidak ada yang kompor. Nyatanya pikirannya cukup sempit, bahkan tanpa ada yang mengetahui rahasia besar mereka dan membocorkan kepada Ruby, Ruby sudah tahu lebih dulu.
Alan cukup sadar dari lama, kalau itu semua salah. Dan lebih sadar lagi kala Ruby mengetahui hubungan mereka. Sepertinya sudah cukup. Alan tidak ingin lagi membuat Ruby semakin terluka dan ia telah membulatkan tekad untuk mengakhiri hubungannya dengan Sandra.
Sore ini, Alan sudah membuat janji temu dengan Sandra di sebuah Cafe untuk menyampaikan keputusannya. Kini, Alan dan Sandra sudah berjumpa di tempat janji temu mereka.
Tidak langsung to the poin. Pertama-tama, Alan dan Sandra menikmati hidangan terlebih dahulu. Butuh kemantapan hati untuk itu, karena Alan tahu, Sandra juga akan terluka sama seperti Ruby.
Sesungguhnya, tidak tega Alan menyakiti hati dua gadis. Terlebih mereka adalah sahabat. Namun itu semua adalah salahnya dan sudah patutnya ia yang menuntaskan. Biarlah, semua kembali berjalan seperti sedia kala.
Hingga usai menikmati hidangan, mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Sandra mencoba berbicara hal random untuk mencari-cari topik obrolan. Tapi, Alan selalu memiliki cara tertentu untuk menutup pembicaraan mereka.
Alan menarik napasnya panjang bersiap membicarakan keputusan. "San, gue ingin hubungan kita berakhir."
Sandra membeku mendengar keputusan Alan, bahkan waktu seolah berhenti berputar saat itu juga. Kebisingan cafe menguap entah kemana . Hanya ada kata-kata menyakitkan Alan terngiang-ngiang di kepalanya.
"Kenapa..?" tanyanya miris.
"Kenapa? lo tanya kenapa?" Alan menghela napas kasar lalu meraup wajahnya gusar, "Dari awal hubungan kita udah salah San."
"Bukan hubungannya yang salah. Tapi lo-nya Lan!!"
"Kalo emang lo cinta dan sayang sama Ruy, kenapa lo mau-mau aja gue ajak selingkuh?!!" Tambah Sandra dalam nada suara naik beberapa oktaf.
Gigi Alan bergemeretak. "Gue bosan! gue muak! gue males sama Ruy yang selalu sibuk belajar dan bekerja!! dia tidak punya waktu lebih banyak sama gue!!"
"Tapi asal lo tahu? di antara itu semua gue lebih benci kepada diri gue sendiri yang gak bisa di andelin sama Ruy. Di saat gue selalu nawarin bantuan, dia selalu nolak dan lebih milih berusaha sendiri!! gue ngerasa gak berguna jadi pacar."
"Tapi tetap saja, jauh di lubuh hati gue yang paling terdalam, gue cinta dan sayang banget sama dia."
Kedua tangan Alan mengepal di atas meja ketika menumpahkan keluh kesahnya. Tidak berbeda jauh dengan Sandra, ia juga mati-matian memendam emosinya di dalam hati. Di bawah sisi meja yang tersimpan di pangkuannya sebenarnya tangannya juga mengepal mungkin lebih kuat dari pada kepalan Alan.
"Jadi, gue minta. Kita udahan aja ya? gue gak pengen ngelukai Ruy lebih dalam. Gue sayang banget sama dia." finalnya. Sandra menggeleng keras, menentang keputusan Alan yang sama sekali tidak bisa ia terima begitu saja.
"Gak!! gak bisa! setelah perjuangan gue selama ini, lo pikir lo bisa dengan mudah lepas dari gue? lo hanya mikirin perasaan Ruy sedangkan gue? apakah lo pernah mikirin gimana hati gue? gue juga sakit Lan!! sakit!!"
Beruntun jari telunjuk Sandra mendarat di dadanya. Mengungkapkan bagaimana perasaannya yang terluka tak kalah perih dari apa yang di dapat oleh Ruby.
"Gue gak peduli San, karena lo gak sepenting itu bagi gue." Alan bangkit merasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Sandra sontak menahan pergelangan tangannya kala Alan hendak beranjak, "Lo jangan egois Lan!! gue juga cinta sama lo. Bahkan perasaan gue lebih besar dari dia."
Segenap kekuatannya mencekal pergelangan tangan Alan untuk mencegahnya pergi. Lelaki itu malah menepisnya kasar membuktikan bahwa keputusannya sudah benar-benar bulat kali ini, "Gak penting mau sebesar apa pun perasaan lo ke gue. Itu gak bakal ngalahin perasaan gue yang hanya menginginkan Ruy."
Alan melenggang tanpa berbalik lagi meski hanya sekedar untuk melihat bagaimana keadaan Sandra.
Rahang Sandra mengeras sepeninggalan Alan, jangan lupakan tangannya pula yang kembali mengepal lebih kuat dari sebelumnya. "Ruby..." Desisnya. Netranya menyorot penuh kebencian.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Dear_Y
smangaat Thor... feedback ya... 🤝🙌
2023-07-05
0
Yuki✨
Jdii sdikitttt😐😐
2023-05-21
0