Mobil Alan berhenti di tepi kawasan lahan kosong tanpa bangunan, samar-samar dapat Ruby tangkap kericuhan suara pukulan serta tendangan. Alan membuka sabuk pengaman, sebelum keluar ia sempat berpesan kepada Ruby. "Kamu tunggu di sini ya? jangan kemana-mana."
Ruby hanya mengangguk patuh, lagi pula ia tidak tahu ini di mana dan tempat seperti apa. Ia mengintip keluar lewat jendela mobil dan menerawang, nyaris tak kasat mata punggung Alan berjalan, menjelikan indera penglihatan mencoba mendeteksi hal penting apa yang terjadi di sana hingga Alan harus berlari tergesa-gesa, sialnya tidak jelas karena gelap. Terpintas satu keyakinan di dalam pikiran Ruby, bahwa itu permasalahan Geng perGeng-an mereka yang Ruby tidak mengerti sama sekali.
Dari arah barat daya dalam jarak tempuh tujuh puluh meter tepatnya di bawah sebuah pohon besar, terlihat dua lelaki berjaket kulit warna hitam, nama AODRA tertera di jaket mereka. Panggil saja mereka, Saka dan Gio. Salah satu dari mereka membawa teropong mengeker ke lokasi mobil Alan yang terparkir. "Di sana ada mobil, kayaknya milik salah satu komplotan Geng Vagos."
"Coba sini gue liat!" Saka merebut teropong dan menggantikan Gio mengeker, benar saja sebuah mobil terparkir di sana, tapi sepertinya ia tahu siapa empunya. "Itu mobil Alan, wakil ketua Vagos."
"Bagusnya kita apain tuh mobil?" Gio mengusap dagu berpikir, sedangkan Saka masih sibuk mengalihkan teropong ke arah lain di mana tempat Gerombolan mereka dan Geng Vagos bentrokan. Lima menit lalu, mereka ikut bertempur, mengalami luka-luka yang cukup serius di bagian wajah, mereka memutuskan untuk mundur dan menetap di sini membiarkan teman-teman mereka melanjutkan pertarungan di pimpin oleh ketua mereka.
"Gue punya ide!" Gio menjetikkan jari ketika terbesit sebuah ide yang cemerlang.
"Ide apa?"
"Ada." Gio tersenyum misterius lantas merapat pada Saka dan berbisik ke telinganya.
"Wih, good idea!" seru Saka usai mendengar apa yang Gio bisikkan, mereka melakukan tos ala laki-laki. Dan beranjak dari posisi mereka merealisasikan sebuah misi.
Delapan menit telah berlalu namun Alan belum balik-balik juga membuat Ruby jadi kalut dan bosan di dalam mobil. 'Apa kah Alan sengaja ninggalin aku di sini?' batinnya mulai berpikir negatif. Masih mencoba bersabar beberapa menit, hingga Ruby dapat mendengar sayup bisik-bisik suara bas sahut menyahut mendekat ke arah tempatnya berada.
Seakan mendengar alarm mara bahaya Ruby merendahkan tubuh, meringkuk di balik kursi mobil untuk menyembunyikan diri. Ia tidak tahu apa motif oleh dua orang misterius di luar sana, tapi sepertinya mereka mengutak-atik bagian mobil Alan.
"Buruan!! nanti bisa ketahuan!!" Desis salah satunya.
"Ntar, dikit lagi kelar."
Tidak berniat menguping, tapi Ruby dapat mendengar semuanya dari jaraknya yang sedekat ini. Ruby sudah tegang dan gugup luar biasa tidak tahu harus melakukan apa. Di luar sana barangkali adalah penjahat atau yang sejenisnya.
Mengapa cowok itu belum kembali juga?
Apakah Alan memang meninggalkan dirinya di sini atau melupakan dirinya sedang menunggu?! oh tidak!! ia harus kabur sebelum di culik.
"Oke! selesai."
"Ayok cepat kita harus segera pergi sebelum ketahuan!"
Sedikit mengintip Ruby mengecek keluar nampak tidak jelas dua lelaki berjaket, berlarian mulai menjauh. Ia dapat bernafas lega dan dengan gerakan cepat membuka pintu mobil agar bisa keluar, ketika Ruby mulai mengambil langkah cepat ke arah kanan, di dua langkah kakinya tersandung oleh batu yang cukup besar hingga membuatnya tersungkur.
"Sial! ada yang ke tinggalan!" Saka menepuk dahinya. Salahkan dirinya yang baru teringat jika tadi ia membawa teropong dan kelupaan di sana. Lari kecil mereka perlahan-lahan terhenti, Gio menoleh pada Saka. "Apa?"
"Teropong Lio!!"
"S.h.i.t! ngapain lo pake bawa teropong segala?!" Gio benar-benar tidak habis pikir, Saka sangat ceroboh. Seharusnya Saka meninggalkan barang itu di bawah pohon karena mereka akan kembali ke posisi awal.
"Yah-- tadi gak sengaja ke bawa aja."
"Cepat ambil gih!" Tidak bisa Gio bayangkan bila teropong itu hilang, nyawa mereka akan melayang hanya gara-gara teropong. Tidak ada cara selain mengambilnya kembali.
"Tapi--- gue takut ketahuan!!" Saka di landa panik berdampingan dengan rasa takut.
"Itu teropong ke sayangan Lio!! kalo sampe hilang, kita bisa mampus!"
"Temanin gue, ayok! biar kalo ketahuan gue ada temennya."
"Idihh ambil sendiri! lo yang bawa berarti lo yang ngambil!"
"Dasar tega!!" Menyungut, Saka ingin menangis saja rasanya karena harus pergi kembali kesana sendirian, penuh resiko ia terpaksa berlari ke tempat tujuannya.
"Ssshhh" Langkah Saka terjeda tidak lama meneruskan langkah memelan kala telinganya mendengar suara rintihan kecil perempuan, berusaha sepelan mungkin ia memijakkan telapak kakinya di tanah bahkan sedikit menjijitkan kaki agar derap langkahnya tidak terdengar.
"Aduh--apes banget sih gue." Dengan posisi duduk menekuk kan sebelah lutut, Ruby memijit bagian pergelangan kakinya yang terkilir tak lama kemudian ia berusaha bangkit dengan bantuan berpegangan pada tubuh mobil Alan.
Belum juga tubuhnya tertegak sempura---
BUGHH
BUGHH
Pukulan bertenaga dari Saka mendarat dua kali di tengkuk Ruby hingga mengakibatkan sang empu ambruk terjatuh pingsan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments