"Lang!!" Ruby memekik takut saat Elang membawa kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata, cengkraman Ruby di ujung sweater abu-abu Elang menguat. Elang terkekeh lucu, melihat penampilan Ruby dari balik kaca spion. Terlihat berantakan.
Rambutnya melayang hingga tak terkondisikan. Tidak hanya itu saja, letak helmnya juga sudah tidak teratur lalu matanya terpejam tegang.
Elang seolah tidak mengaca padahal surainya juga tidak berbeda jauh dari, Ruby. Sudah tuing-tuing berterbangan karena tidak mengenakan helm. Dapat Elang rasakan guncangan di bahunya yang di lakukan oleh cewek di belakangnya.
"Stop Lang stop!!" Teriaknya tidak kuat lagi. Angin memang kencang untuk saat ini di temani oleh awan kelabu. Pergerakan udara terlalu banyak menyerbunya hingga ia dapat merasakan oksigen yang terlalu berlebihan menghantamnya dan membuatnya kesulitan untuk bernafas. Salahkan ia karena tadi kelupaan menutup kaca helm. "Stop!!" Jeritnya lagi menjambak rambut Elang.
Elang merasa surainya nyaris rontok akibat ulah Ruby. Ia memelankan laju motornya oleng-oleng lalu menepikan motornya. Menghentikan kendaraannya sesuai perintah Ruby.
Grusa-grusu, Ruby turun dari motor. Memang sudah niatnya dari awal, kalau menggunakan Elang hanya untuk kabur dari Alan. Tidak ada niatnya untuk nebeng sampai sekolah. "Nih." Ruby menyerahkan helm kepada sang empu.
Belum langsung menyautnya, tatapan Elang mengedar menyusur ke segala arah. Ini masih jauh jarak dari sekolah. Tapi, mengapa cewek ini malah meminta turun dari sini? "Yakin lo turun di sini? dari sini masih jauh banget jarak ke sekolah." Elang akhirnya mengambil helmnya dari tangan Ruby.
"Iya gue tahu. Gue bisa naik apa aja untuk lanjutin perjalanan."
Elang berdecak, kemudian memasang kembali helm kepada Ruby meski sempat menolak, Elang memasangkannya dengan paksa mengaitkan pengait helm. Getok kan tangan Elang mendarat berulang kali di kepala Ruby yang sudah terlapisi helm. "Gue harus nganterin lo sampe tujuan. Zaman now, banyak yang harus di waspadai. Termasuk tukang-tukang ojek atau pun yang sejenisnya. Ada yang kebanyakan modus. Benar-benar bahaya."
"Kalo terjadi apa-apa sama lo, gue bakalan di omelin sama Bu Negara. Lagi pula kita juga satu tujuan." Tambahnya.
"Justru yang bahaya itu, lo Lang. Lo bawa motornya ngajak mati. Bisa-bisa kita belum nyampe sekolah udah nembus ke alam lain." Mulutnya tak henti-hentinya menggerutui Elang. Namun, tidak urung naik ke atas motor karena tidak ada pilihan lain. Elang malah semakin ngakak saja mendengar celotehannya.
Numpang bersama Elang itu menguntungkan. Selain bisa cepat mencapai tujuan, tanpa mengeluarkan biaya pula. Tapi, taruhannya adalah nyawa.
***
Hiruk-pikuk area kantin terdengar ramai oleh para pelajar yang akan melakukan rutinitas di jam istirahat yakni mengisi perut. Ruby dan Flora duduk di ujung tempat ternyaman untuk mereka, makan seraya berbincang-bincang.
Jika hari-hari sebelumnya Ruby makan bersama kalau tidak bersama Sandra maka bersama Alan. Kini telah berbeda, ia memilih menghindar dari mereka dan mengajak Flora untuk ke kantin bersama.
Ruby dan Flora memang sebelumnya tidak bisa di bilang akur, mereka tidak lebih hanya lah rekan kerja, tetapi semenjak hari di mana Ruby mengetahui kenyataan menyakitkan itu, mereka jadi menghabiskan waktu bersama. Dan rupanya Flora lumayan asik juga di jadikan teman.
"Oh iya Ruy? semalem lo pulang bareng sama siapa?"
Pertanyaan Flora rupanya seperti racun yang mampu membuat tenggorokan Ruby menolak untuk menelan minuman yang sudah ia seruput, reflek tersedak. "Uhhuukk uhhhukkk" air dari mulutnya terciprat kearah Flora yang memejamkan mata dalam-dalam merasakan semprotan sesuatu dari mulut Ruby menerpa wajahnya.
"Ruy..." geramnya merasa kesal, meraup wajahnya.
"Aduhh maaf-maaf Flo!! gue gak sengaja!!" panik melihat wajahnya yang basah hingga merembes ke seragam Flora di bagian dada, Ruby kalang kabut meraih beberapa lembar tisu dan membantu Flora membersihkan.
"Udah gak papa Ruy, gue bisa sendiri." Flora mengambil alih tisu dan mengelap wajah tidak lupa sampai ke seragamnya. "Lo belum jawab, semalam lo pulangnya gimana? gue pulang duluan soalnya, Kakak gue hubungin gue semalam, Mama gue masuk rumah sakit karena mengalami kecelakaan."
"Eumm? tadi malem gue pulangnya---" Sedikit gugup, Ruby masih berpikir keras untuk mencari jawaban yang pas, "Sendiri!! iya sendiri!! naik taksi!"
Gerakan Flora terhenti dengan mata memicing mengamati ekspresi Ruby yang terlihat jelas tegang, cewek ini tipe ekspresif tidak pandai menyembunyikan rautnya. Semua emosinya tergambar di tingkah lakunya. "Beneran?"
"Iya bener!!" balas Ruby cepat.
"Kalo gitu gak perlu tegang gitu juga kali."
"E-emang gue kelihatan tegang gitu? hahaha enggak lah!! gue gak tegang kok!!" Sangkal nya, untuk mengurangi rasa gugupnya, kemudian Ruby meneguk lagi air minum yang terletak di atas meja. "Ngomong-ngomong, kondisi nyokap lo gimana?" Ruby sengaja mengubah pembicaraan.
"Mama? semalam sempat drop, tapi sekarang udah baik-baik aja kok, cederanya juga gak terlalu fatal. Pagi tadi gue tinggal dia sedang makan bubur di suapi Kakak gue."
Ruby manggut-manggut seraya ber-oh ria, "Bagus deh kalo gitu."
Syurrrrr
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments