Pukul sepuluh lewat malam Ruby dan Flora merapikan cafe. Mereka keluar dan Ruby yang menutup pintu kedai. Ruby menyangka Alan sudah pulang, ternyata ia masih menunggu di bagian sisi Cafe. Jengah sekali Ruby rasa jika terus berhadapan dengan Alan.
Tidak lupa Ruby memutar balikan label plat dari open ke close. Padahal kalau tidak ada Alan yang datang, minimal pukul sembilan mereka sudah pulang. Kedatangan Alan memperpanjang durasi mereka di cafe hingga mau tidak mau untuk malam ini mereka pulang terlambat.
Tujuan pulang Ruby saat ini bukan kostnya melainkan rumah Flora. Sejak kejadian di mana Alan menunggunya di depan kost pagi itu, Ruby memutuskan untuk menginap di rumah Flora saja untuk sementara waktu karena Alan terus-terus menguntit dirinya bagaikan stalker. Setidaknya, sampai Alan lelah sendiri.
Tidak pagi, siang, malam, Alan selalu saja muncul di sekitar kostnya. Kemungkinan nanti Ruby mau balikan barulah ia menghentikan aksinya yang ngecosplay jadi paparazi.
"Ruy? kamu pulang bareng siapa?"
"Buta mata lo? lo gak liat nih ada cecunguk di samping gue? gue pulang bareng dia lah!" Ruby menjawab jutek sekali. Jari telunjuknya melayang menunjuk Flora yang jalan di sebelahnya.
"Eh enak aja lo ngatain gue cecunguk!!" Flora mengelak tidak terima. Alan mengiringi langkah mereka menuju jalan raya. Terpaksa Ruby balik badan karena risih Alan terus-menerus mengikuti mereka.
"Lan? lo bisa gak sih jangan ikutin gue mulu?!" Sarkasnya muak. "Lo punya harga diri gak sih? meski pun lo ngejar-ngejar gue sampe mati sekalipun. Lo pikir gue mau balikan lagi? enggak Lan enggak!! lo lupa? kalo yang udah bikin hubungan kita kandas itu lo sendiri!!"
Alan merunduk. Bibirnya keluh tidak bisa membuka suara sedikit pun, sadar jika yang di utarakan Ruby itu semua kebenaran yang tidak bisa ia sangkal. Tetapi, untaian kalimat menusuk Ruby begitu menohok di relungnya. Tangannya mengepal merasa marah sekaligus lara.
"Salah satu pedoman hidup gue adalah, gak bakal mau kembali pada orang yang udah menoreh kan luka buat gue! lo pikir gue cewek gampangan yang mudah lo dapetin hanya dengan kata-kata manis yang ternyata semua dusta seperti sebelumnya?" Ruby berdecih sinis. "Basi tahu gak itu Basi!!" Pungkasnya menggebu-gebu.
Wajahnya memerah padam karena amarah. Kalau tidak mengingat jika manusia di hadapannya beda jenis dengannya, ke mungkinan besar ia sudah menjambak rambutnya. Di lain sisi, Flora sudah menghentikan sebuah taksi.
"Kalo kamu gak mau kita kembali, setidaknya kita bisa jadi teman Ruy. Jangan asing. Aku gak bisa.." Lirih Alan mencoba menangkap tangan Ruby yang terus menepisnya kasar. Ruby malah memutar bola matanya muak. Mengapa lelaki ini tidak melamar kerja sebagai aktor saja? pintar sekali bersandiwara! Malahan di sini terlihat, layaknya Ruby yang berperan sebagai antagonis. Faktanya justru sebaliknya.
Flora? ia merasa tidak ada hak jika melibatkan diri dalam masalah mereka. Alangkah baiknya jika mereka berdua menyelesaikan masalah mereka dengan kepala dingin. Bukan seperti ini. Tapi, ya sudah lah mau bagaimana lagi. Yang namanya Ruby yah Ruby. Kepribadiannya mudah menanam kebencian dengan orang lain.
Terutama, terhadap orang-orang yang memahat cedera dalam dirinya. Ia akan menyimpannya dalam palung hati nya dengan awet.
"Ruy... aku udah mengakhiri hubunganku dengan Sandra karena aku lebih mencintai kamu dari pada dia. Kamu beneran gak cinta lagi sama aku? kalo emang iya, setidaknya jangan asing.." Alan bersikeras membuntuti Ruby yang sudah melangkah kearah di mana Flora berada. "Ruy..aku butuh ke pastian.."
Ruby berputar badan lagi, "Pergi dari hidup gue Lan!! gue gak mau liat lo lagi!! lo udah goresin luka besar untuk gue!!!" Tiba-tiba Ruby berteriak histeris terdengar melengking, ia tidak kuat lagi menahan semua gelora yang membendung di dalam dirinya.
Alan menarik tangannya dan membawa tubuh mungil Ruby masuk ke dalam dekapannya. Bahunya bergetar, isak tangis Ruby dapat terdengar jelas. Sesakit itu kah? pikir Alan.
Ruby benci dengan kesensitifan-nya jika berkaitan dengan Alan. Ia benci kepada dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol dirinya di depan Alan. Mestinya ia tidak menangis, tapi air matanya jatuh tanpa bisa di cegah.
Dari belakang Ruby, Flora mengasih kode kepada Alan bahwa ia akan pulang duluan, bermaksud menitipkan Ruby padanya. Alan memberinya anggukan persetujuan.
"Maaf Ruy.. maaf," bisik Alan menenangkan. Ia membelai lembut kepala Ruby yang menangis sesenggukan di dada bidangnya. "Aku menyesal. Aku khilaf Ruy, maaf. Janji kalo kamu kasih aku kesempatan ke dua, aku gak akan ulangin kesalahan yang sama."
Ruby memukul-mukul keras dada Alan melampiaskan emosi dan kesedihannya nya yang terkumpul, "Lo tega selingkuhin gue!! lo nyakitin gue!! lo jahat!! kalian jahat khianatin gue!!"
Embun mengucur di pipinya, ia menangis pilu. Alan tidak berkomentar apapun hanya membiarkan Ruby menyalurkan amarah dan kesedihannya. Berharap dengan begini, Ruby akan jauh lebih lega dan tenang.
"Iya Ruy iya, aku jahat. Aku cowok brengsek dan terbajingan di dunia."
Percuma menampik keras, nyatanya Ruby tidak bisa membohongi hatinya. Semua hanya palsu, perasaannya tetap utuh. Ia benci, sudah di sakiti sejauh ini, ia tetap memiliki cinta terhadap Alan. Mengapa?
"Gue benci.. gue benci banget sama lo Lan!! lo udah sakitin gue tapi kenapa? kenapa perasaan gue gak bisa hilang?" paraunya. Tepukan telapak tangan Alan menyentuh punggung Ruby yang tengah menangis sesenggukan.
"Itu tandanya kita tidak di takdirkan berpisah Ruy... balikan sama aku yah? kita masih sama-sama memiliki perasaan. Jadi, apa salahnya kita kembali menjalin kasih?"
"Takut Lan.. gue takut terluka lagi.." Ruby menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Alan yang menumpukkan dagunya di atas kepala Ruby. Aroma mint menyeruak masuk ke dalam hidung Ruby. "Janji setelah ini, aku tidak akan ulangi kesalahan yang sama. Hanya ada kita. Aku dan kamu tidak ada lagi orang yang ke tiga."
Kepala Ruby ia tarik sedikit memberi jarak dari dada Alan, menetralisir diri agar berhenti dari sisa-sisa tangisannya. Anggukan pelan darinya sebagai jawaban dari ajakan Alan. Reaksi Alan? tidak perlu di tanya tentu langsung melepas pelukan secara sepihak dan menatap Ruby tidak percaya, "Beneran? kamu mau balikan lagi sama aku?"
Jika di adegan-adegan drama Korea di situasi seperti ini, cowoknya akan mengusap air mata perempuannya. Ah, tapi itukan tidak lebih hanya lah drama. Mana bisa di bandingkan dengan realita. Tenang, Ruby manusia mandiri, ia bisa mengusap matanya yang sembap sendiri.
Ruby mengangguk lagi, "Beneran?" Alan masih tidak percaya membuat Ruby memberengut tidak senang, "Kalo kamu gak percaya yaudah, aku tarik kemba---"
Omongan Ruby di cegat oleh Alan dengan benda kenyal dan lembut, hangat membubuhi persis di bibir ranum Ruby. Tidak ada pergerakan sama sekali pada masing-masing organ indera sentuhan yang saling merapat, Alan hanya menciumnya singkat.
"Fiks! kita resmi balikan!" Seru Alan sesudahnya membuat Ruby tersipu malu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Haryani Yuliwulansih
kok sandra
2023-09-22
0
Ayu Sulistyawati
kok balikan sihhh
2023-03-19
0