Selama mata pelajaran terakhir, hati Ruby terus di gerogoti sesak yang hebat. Mengingat bagaimana sahabat dan pacar--ralat mantan main di belakangnya, ia hanya ingin menangis saja. Katakan saja Ruby lemah. Benar itulah yang ia rasakan.
Tidak seperti biasanya, kali ini Ruby dan Sandra pisah bangku. Ruby yang pindah menghindari kecanggungan satu sama lain. Padahal sejak kelas sepuluh mereka duduk sebangku. Hubungan mereka juga sangat erat, dekat, bahkan sering tidur bareng dan main bersama. Sandra adalah teman pertama Ruby saat memasuki jenjang masa putih abu-abu.
Dua tahun lebih mereka menjalin persahabatan dan itu hancur hanya karena cowok?
Jangan hanya salahkan Ruby. Dalam hal itu, Sandra lebih salah. Tidak semestinya kan dirinya mengkhianati sahabatnya sendiri?
Bukan sahabat namanya jika merebut yang dapat ia tahu jelas, bahwa itu adalah kekasih pihak lainnya. Mau bagaimana pun besar rasa itu, tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengkhianati. Setidaknya, rasa itu bisa di pendam demi jalinan yang erat sejak awal, tidak peduli akan rasa sakit yang akan di terima. Apa lagi Alan tidak benar-benar mencintainya.
Selama pelajaran berlangsung, Ruby hanya berkonsentrasi penuh mengikuti mata pelajar meski itu tidak cukup efektif mengalihkan pikirannya yang berkecamuk. Tak hanya sekali dua kali ia menghela napas. Hingga Flora--yang menjadi teman sebangkunya sekarang sekaligus teman satu pekerjaan dengannya, ikut simpati melihatnya yang murung.
Flora mengambil sesuatu dari dalam tasnya kemudian menggeser kemasan bermerek 'Better' mengarah pada Ruby yang teralih atensinya. Alis Ruby terangkat dengan bingung.
"Buat gue?" Menggunakan pulpen Ruby menunjuk dirinya sendiri di sambut anggukkan oleh Flora.
"Kata iklan di tv, galau? di betterin aja." katanya berbisik pelan membuat Ruby terkekeh kecil, "Lo tahu dari mana gue lagi galau?"
"Lo tahu bagaimana bentuk pakaian yang gak di setrika?"
"Kusut?" Ruby menerka-nerka.
"Nah iya, seperti itu muka lo, kusut banget." Flora mencibir pada Ruby yang memberengut kesal. "Gak separah itu juga kali." sangkalnya.
"Gak percaya? nih gue contohin yah muka lo itu kayak gini."
Flora meniru mimik Ruby yang di lebih-lebihkan, tidak terkecuali keningnya yang ia tekuk hingga membentuk gestur angry bird dan bibirnya yang ia lengkungkan kebawah seperti ingin menangis, Ruby reflek ketawa keras sampai lupa tempat dan situasi.
Brakk-brakk!!
Bu Ani--Guru IPA Sains memukul meja beberapa kali sebagai bentuk intrupsi, "Itu yang di belakang! fokus!!" berhasil membuat bibir Ruby dan Flora terkatup.
*****
Waktu mengalir begitu cepat, hingga tidak terasa lonceng bel pulang telah berkumandang terdengar nyaring di telinga semua para pelajar. Bahu menurun juga napas menghembus lega, seolah seluruh beban di pundak telah terangkat.
"Flo?" Panggil Ruby. Ia sibuk membenahi atribut belajarnya, mulai dari buku hingga pulpennya ke dalam tas. Flora menoleh ketika mendengar panggilan dari Ruby, "Kenapa?"
"Mungkin hari ini gue gak bakal masuk kerja."
"Kenapa? lo sakit?"
Ruby memberikan gelengan. "Enggak. Gue hanya ingin nenangin diri. Izinin gue ke Kak Vino, ya?"
Flora hanya manggut-manggut. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Ruby, tapi mengingat bagaimana murungnya Ruby sejak tadi. Tanpa perlu bertanya, Flora bisa mengambil kesimpulan jika Ruby sedang ada masalah meski Flora tidak tahu tentang apa.
Ruby dan Flora berjalan ke pintu keluar, di ambang pintu lengan Ruby terguncang sengaja di senggol oleh Sandra kemudian mendapati di sisi pintu bahwa Alan sudah menunggu di sana, hal tersebut dapat membuat suasana hati, Ruby makin anjlok.
Gadis itu merotasikan matanya jengah. Ia mengayunkan cepat mendahului Flora. Alan tentu tidak akan tinggal diam, ia menyusul. Flora sendiri membiarkan saja mungkin Alan lah penyebab mood Ruby buruk dan mereka perlu waktu luang berdua.
"Ruy!! kita harus bicara, ada yang perlu aku jelasin!!" Alan menjangkau tangan Ruby, lekas gadis itu tepis kasar. Bahkan ia kelihatan enggan walau hanya sekedar bersitatap dengannya. "Gak ada yang perlu di jelasin!"
"Please, jangan putusin aku Ruy!! aku gak bisa hidup tanpa kamu." Alan terus membuntuti Ruby hingga menuju parkiran. "Bulshit!" Sarkas Ruby terlampau muak.
Alan meraup wajahnya kasar kemudian membuang napas berat. Menjalin hubungan dengan Ruby selama dua tahun lebih, Alan dapat mengenali Ruby dari segala sisi. Termasuk sikap keras kepalanya, ia tidak mudah goyah dengan pendiriannya. Untuk saat ini tidak ada solusi lain selain mengalah dan pasrah. Butuh waktu jika ingin kembali meluluhkan Ruby.
"Kalo kamu ingin hubungan kita berakhir, oke! tapi izinin aku anter kamu pulang ya?"
Ruby menulikan kedua telinganya berpura-pura tidak mendengar apapun omong kosong Alan, termasuk ajakannya. Lantas ia malah memanggil seseorang, "Lang!"
Tangannya melambai seraya terus berjalan, hingga akhirnya Ruby tiba di tempat parkir Cakrawala.
"Kenapa?"
Elang--salah satu sohib Alan. Ia menampilkan ekspresi bertanya ke arah Ruby. Tumben sekali Ruby mau menyapanya. Selama mereka satu sekolah, Ruby tidak pernah menyapanya walau Elang adalah teman dekat dari Alan selaku kekasihnya. Satu lagi, Elang adalah tetangga Flora yang berarti hubungan mereka cukup baik.
"Elang, bisa anter gue pulang?"
Mendengar permintaan Ruby, Elang menggulir mata, melirik Alan yang memberi sebuah gelengan kepalanya sebagai sinyal tidak memperbolehkan..Elang mengusap tengkuknya yang sama sekali tak gatal berubah menatap Ruby tidak enak. "Gimana, yah?"
Ruby menyatukan kedua tangannya, penuh permohonan. Masa bodo dengan harga dirinya, kali ini tidak ada waktu untuk memikirkan itu. Tujuannya hanya pulang dan menangis sepuasnya di kamar. "Please anterin gue pulang Lang! gak gratis kok, bakal gue kasih lo kompensasi."
Berpikir untuk sejenak membuat pertimbangan, Elang menopang dagunya di tangan mencermati Ruby dan Alan secara bergantian. "Oke deh."
Elang setuju ketika ternyata Ruby menumpang tidak cuma-cuma. Dari pada itu, Elang peka, sepertinya mereka sedang tidak baik-baik saja.
Raut Alan langsung berubah menjadi tak bersahabat. Elang menyadari itu namun ia hanya bersikap acuh tidak acuh lantas menepuk bahu Alan sekali, "Rezeki gak bisa di tolak, bro!"
Elang naik ke atas motornya tidak ketinggalan memberikan helmnya pada Ruby yang sudah naik di belakangnya kemudian menerimanya dengan senang hati memakainya.
"Dasar teman pengkhianat!"
Alan merutuki Elang yang sudah melajukan motornya menjauhi kawasan perkiraan. Objek yang di jadikan Alan untuk menyalurkan emosi adalah mobilnya yang terparkir di sampingnya, tendangan cukup kuat ia layangkan di sana.
"Arghhh!" Alan mengerang frustasi. Mengacak rambutnya kasar. Sepertinya, kali ini ia membutuhkan perjuangan yang lebih besar dari sebelumnya untuk memikat hati Ruby agar bisa kembali ke sisinya.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
S
ingat bestie jangan pernah memperkenalkan atau pun mempublish pacarmu di depan bestiemu yg jombloh mending pendamlah erat2
2023-07-23
2
Yuki✨
Mnghilangkan ke galauan...😭
2023-05-19
0
Yuki✨
Rasain
2023-05-19
0