Sensasi panas membara akan hasrat gairah menyelimuti dua insan yang berbeda jenis tersebut. Bunyi decapan ciuman intens terdengar nyaring di ruang kamar hotel yang kedap suara. Mereka saling m.el.u.m.a.t, menyesap dalam bibir satu sama lain.
Awalnya, Ruby masih kaku karena ini adalah ciuman pertamanya yang mendalam. Namun lambat laun, ia bisa mengimbangi ciuman penuh nafsu tersebut. Tidak berbeda jauh dari Athala, ia juga memang tidak berpengalaman dalam hal ini. Tapi apabila mengikuti naluriah laki-lakinya, ia bagaikan seseorang yang sudah mahir dan berpengalaman.
Nafas mereka naik turun setelah berakhirnya pagutan mereka. Lebih tepatnya, Athala yang menyudahi ciuman secara sepihak. Ia mengubah posisinya melintang di sebelah Ruby. Tangannya ia letakkan di atas dahinya, 'Sial!'
Athala melirik Ruby yang tengah menggeliat gelisah di atas kasur. Mengapa gadis kecil ini dapat membuatnya terangsang? sejak dini ia tidak pernah merasakan gejolak aneh seperti ini. Athala tidak memiliki gairah kepada wanita atau bisa di sebut impotensi. Dan itu tanpa suatu alasan yang Athala pribadi, tidak mengetahui apa penyebabnya. Penyakit itu mungkin saja, sudah ada sejak ia lahir.
Di lihat-lihat gadis ini masih sangat mudah. Bisa Athala terka dia adalah siswa SMA. Lalu mengapa gadis kecil ini bermain-main ke tempat yang tidak layak untuk anak di bawah umur?
Terjadi pergolakan antara batin dan logika yang mana diri Athala terbagi menjadi dua bagian. Dilema antara ingin mengikuti akal sehatnya yang semakin meronta-ronta ingin melakukan hal lebih gila atau mengikuti hatinya yang ingin berhenti di sini agar tidak mengambil kesempatan dalam keadaan Ruby tidak sadar seratus persen.
"Atha.. dia lagi gak sadar. Masa lo gunain kesempatan dalam keadaan seperti ini? itu gak gentle namanya." Monolognya menyadarkan dirinya sendiri. Percayalah, Athala sedang mencoba mengendalikan diri semampu yang ia bisa untuk sekarang.
Ruby naik keatas tubuhnya. Saat itu juga tembok pertahanan Athala hancur seketika seolah raganya telah dirasuki oleh setan, desisan kecil lolos dari mulutnya saat tangan mungil Ruby mulai nakal bermain di dadanya. "Hey little girl, gue gak bisa nahan diri, kalo gini." Beritahunya. Tatapannya memancarkan sirat yang tidak bisa di definisikan. Berbeda beberapa derajat dari sebelumnya, kali ini lebih di dominan oleh hawa nafsu birahi.
Bukannya berhenti, Ruby justru kian gencar membuat Pria di bawahnya makin tidak karuan. Bahkan dua di antara jemarinya lentiknya lihai menari-nari di dada bidang Athala yang masih terbungkus oleh pakaian tipis berwarna putih.
Athala menggenggam tangan Ruby yang kini mengigit bibir bawahnya dan itu terlihat begitu seksi di mata Athala.
"Lo sengaja goda gue?" Suara berat di lengkapi serak basah itu mengalun merdu. Itu terdengar menggoda di telinga Ruby, ia membelai rahang Athala agresif. Netranya juga berkabut gairah sama seperti Athala. "Handsome man, you are mine tonight." ujarnya terdengar mutlak. Perlahan-lahan tangan Athala merambat ke pinggul Ruby dan meremasnya sensual. "Hmm. Yes, I am yours and you are also mine, little girl."
Dalam satu kali gerakan gesitnya, Ruby telah berada di bawah kungkungan Athala menggantikan posisi Ruby barusan. Kaos putih polosnya terlempar asal kelantai ia lepas hingga tubuh bagian atasnya yang proporsional terekspos sempurna. Menuntun tangan Ruby mengalun di lehernya, "Gue harap, lo gak menyesali ini, gadis kecil."
Usai menuturkan rangkaian kalimat peringatan, Athala memulai aksi liarnya, mencumbu rakus Ruby di mulai dari bibir hingga leher jenjang putih mulusnya. Ruby kini hanya pasif menerima semua serangan Athala, sesekali mengeluarkan suara erotis. Tangan besar serta kekar Athala juga tidak bisa diam, menjelajah setiap lekuk tubuh mungil Ruby yang masih terbungkus kain.
"Alan.." Ruby menggumam dengan mata terpejam resah. Menghentikan aksi Athala untuk sesaat. Alan? hey! gadis ini berani sekali menyebut nama lelaki lain ketika sedang bercumbu dengannya!
"Sebut nama cowok lain saat bermain denganku, huh?" Sudut bibirnya tertarik sebelah. Rahang Athala mengeras marah, ini adalah kali pertama untuknya dan gadis kecil ini malah menyebut nama lelaki lain di saat-saat begini. Katakan saja Athala serakah, ia tidak ingin gadis yang pertama menyentuhnya dan sebaliknya, yang ia sentuh hanya menginginkan lelaki lain dalam bayangannya sendiri.
Tangan yang ber-urat itu menelusup masuk kedalam dress milik Ruby dan mengelus pahanya sensual. "Enghhhh." Ruby melenguh nikmat merasakan telapak tangan Athala menyentuh asetnya lembut.
"Setelah ini. Jangan harap lo bisa lepas dari gue. Lo, harus tanggung jawab." peringat Athala menekankan walau ia tahu, Ruby tidak akan mendengarnya. Ruby masih belum menyadari jika di mulai detik ini, ia akan terjerat dalam genggaman CEO perusahaan terbesar dan ternama se-indonesia
Kemudian mereka melewati malam paling bersejarah dalam hidup mereka. Dinding white gray yang terpatri di setiap sisi ruangan itu menjadi saksi bisu bagaimana keduanya melebur kedalam kesenangan duniawi.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Yuki✨
Wow gw hnya bisa pura-pura gk lihat
2023-05-21
0
Yuki✨
Ada gambarnya bkin tmbah panas
2023-05-21
0