Brughhh
Punggung Sandra menabrak tembok karena dihempas kuat oleh Alan yang tengah emosi, "Cukup San!! gak seharusnya lo giniin dia!!"
Sandra terkekeh kecil, "Gak seharusnya? sementara gara-gara dia hubungan kita hancur?"
Urat-urat berwarna biru menghiasi tangan Alan yang terkepal kuat. "Itu bukan karena dia San! itu semua adalah keinginan gue!! keputusan gue!! di antara kita, dia gak lebih hanya orang yang paling tersakiti! jadi please, stop it! lo itu sahabatnya.. jangan jadi penjahat.."
Decihan sinis keluar dari Sandra ."Heh, emang gue peduli dia sahabat gue atau bukan? selama dia ngerebut apa yang seharusnya jadi milik gue, maka itu akan jadi permulaan permusuhan di antara kami!!"
Terlampau di selimuti amarah, Alan menarik kerah baju Sandra, hendak mendaratkan bogeman mentah di wajah Sandra, untung akal sehatnya masih bisa membawa kuasa untuknya hingga kepalan tangannya nya hanya menggantung di udara nyaris melayang persis di wajah Sandra yang memejamkan mata takut, tapi mulutnya berujar pasrah, "Pukul gue pukul!! kalo itu memang buat lo puas!! silahkan salurkan emosi lo ke gue!!"
Bughhh
Tangan Alan berujung mendarat mulus di tembok samping kepala Sandra, kalau tidak mengingat orang di hadapannya adalah sejenis wanita, bisa di jamin Alan akan menghajarnya hingga membabi-buta.
Mengabaikan tangannya yang sudah tercipta sebuah cedera hingga mengalir sebuah cairan darah kental dari sana, rahang Alan menegang. "Dari awal gue milik Ruy begitu pun sebaliknya, Ruy milik gue hingga lo tiba-tiba masuk di tengah-tengah kami. Gue gak nyangka, lo sejahat ini San.. lo pikir lo bisa menang hanya dengan menghancurkan Ruy?!"
Dapat Sandra lihat, tatapan Alan yang begitu menusuk hingga mentalnya menciut, sejujurnya Sandra juga ketar-ketir melihat wajahnya yang menyeramkan ibarat monster yang ingin membunuh orang. Tapi, Sandra mencoba untuk tetap memberanikan diri.
"Enggak San enggak!! inget, Ruy hancur, gue bakal ngehancurin lo balik bahkan lebih besar dari apa yang akan lo lakukan ke Ruy.." Lanjut Alan mendesis penuh akan isyarat ancaman.
***
Berjalan menyusuri koridor yang ada banyak siswa-siswi lain berkeliaran di sana, Ruby dan Flora tidak berhenti mengobrol-ngobrol ringan.
Di belakang mereka ada Elang yang mengawasi Flora dari belakang hanya menjadi pendengar setia tiap pembicaraan mereka. Anggaplah Flora adalah titipan ketua mereka ketika di sekolah, wajib untuk Elang menjaga dan melindunginya. Bila tidak, siap-siap saja mendapatkan perhitungan.
"Ruy? hari ini lo bakal masuk kerja kan?" tanya Flora.
Ruby mengangguk. Ia merasa dirinya sudah lebih baik dan tenang dari kemarin. Meski tidak bisa di pungkiri, sesak kadang kala melandanya saat tidak sengaja teringat kebejatan dua orang yang kini telah menjadi orang asing untuknya. Senyum simpul Ruby terpatri. "Gue ngerasa udah baikan sekarang. Thanks ya udah bawa gue healing."
"It's okay. Lagian gue juga emang lagi ke pengen ke tempat itu, sejak jadian sama tuh cowok, gue di larang ke Club. Jadi kesal deh." Flora bersidekap dada, bibirnya mengerucut kesal mengingat larangan pacarnya, jangan ini lah jangan itulah, mau membantah juga tidak bisa karena itu untuk kebaikannya.
Langkah kaki mereka sontak terhenti, mimik Ruby yang awalnya penuh suka cita langsung berubah ketika melihat sosok yang paling di benci oleh Ruby dari jarak tempuh tiga meter, ia menghela napas jengah, harus kah bertemu terus? jika tidak mengingat Ruby sudah kelas ujian ada ke mungkinan ia akan pindah sekolah.
Alan berlari kecil menampilkan senyum manisnya seraya melambaikan tangan sok ramah kepada Ruby, selangkah demi selangkah lari tidak lajunya kemudian ia berhenti pas di depan Ruby. "Ruy? mau nanti pulang bareng aku? sekalian kita jalan-jalan. Mampir di warung makan yang biasa kita singgahi? atau mau nonton bioskop?"
"Lan? bisa gak sih seha--ri aja jangan muncul di hadapan gue? gue pusing tahu gak liat lo mulu." Ruby memijat pelipisnya, selain pening dan malas, stres juga tiap-tiap melihat tampang Alan.
Alan termangu untuk sejenak, ia melirik ke arah Flora yang kini bersandar di dinding tidak jauh, menonton mereka berdua sembari melipat tangannya di depan dada, "Nama lo Flora kan?"
"Hm.." Flora berdehem menjawab hanya dengan anggukkan untuk meng-iya kan.
"Selama Ruy masih ngehindarin gue, gue minta tolong ke lo, jagaian dia buat gue ya? gue akan berjuang keras untuk dapetin maafnya dan hatinya kembali." ujarnya terdengar tulus. Acungan dari lingakaran membentuk O dari kedua jari di antara jemari lentik Flora sebagai tanggapan yang berarti oke.
Ruby malah merotasikan matanya, tidak percaya lagi dengan omong kosong Alan. "Cakep!!" timpal Elang tengil ingin membuat Alan kesal sayangnya kali ini Alan tidak menggubris dirinya.
"Eh ada tuan putri lo tuh!" Alan mengikuti arah tunjuk dagu Ruby menuju ke belakangnya dan menemukan Sandra yang tengah berjalan dari depan sana, Alan kembali berbalik tidak mengambil pusing dengan raut Sandra yang sudah tak bersahabat melihat dirinya sedang bersama Ruby.
Sedikit membungkuk agar menyesuaikan tubuh postur tingginya dengan Ruby yang hanya sebatas dadanya, ujung jari telunjuk Alan menoel hidung mancung milik Ruby hingga sang empu membuang pandangan sok cuek, aslinya ia salah tingkah bahkan jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya.
Gurat panas merambat ke wajahnya, kepalanya yang berpaling hanya berusaha menyembunyikan rona di pipinya. Dalam hati ia berdoa, semoga Alan yang tengah menatapnya teduh tidak terlalu memperhatikan wajahnya.
"Jangan ngambek terus, cantiknya Alan. Kapan-kapan udahan ya marahnya? cowok brengsek ini butuh maaf dari kamu." ungkap Alan.
"E'elehh, omong kosong!!" Cebik Elang menjulit, lagi-lagi di acuhkan oleh Alan.
Alan mengelus singkat pucuk kepala Ruby yang cemberut kemudian berlalu dari sana berjalan ke arah berlawanan dari Sandra yang sudah meradang tidak karuan. Beberapa kali hentakan kakinya yang sebal mendarat di lantai, "Alan!" geramnya menggebu-gebu. Warga sekolah yang berlalu lalang di sekitarnya hanya menatapnya aneh.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments