Episode 20-Hari Yang Indah

Suara langkah kaki terdengar begitu keras di lorong menuju perpustakaan sekolah. Eliana menghentikan lahkan kakinya tepat didepan pintu ruangan tersebut saat Riu hendak membawanya masuk.

"Ada apa, Eliana? Kenapa kau berhenti?" tanya Riu dengan tangan yang masih erat memegangi pergelangan tangan Eliana.

"Maaf, tapi apa kau bisa melepaskan tangan mu?" tanya Eliana dengan raut wajah sinis.

"Ah, ba-- baiklah ... "

"Riu, aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu. Tapi aku mengatakan hal ini demi kebaikan kita berdua," cakap Eliana yang masih belum di mengerti apa maksudnya oleh Riu.

"A-- apa mak-- ... "

"Jadi, aku harap kita tidak saling berinteraksi layaknya orang yang saling mengenal lagi. Aku tidak ingin kau menyakiti hati Bomi, begitu juga dengan ku. Setiap kali kau berbuat baik padaku, aku merasa kesal ... " lanjut ucap Eliana yang dalam sekejap merubah raut wajah Riu.

Lelaki di hadapannya menghela nafas panjang sembari membelai rambut coklatnya. Ia kemudian kembali memegang pergelangan tangan Eliana, namun langsung ditolaknya.

"Aku tidak sedang bermain-main!" tegas Eliana sambil menarik tangan nya dari cengkeraman Riu.

"E-- Eliana, kenapa tiba-tiba saja kau berubah? Maaf karena kemarin aku tidak menyapamu di acara Festival, tapi aku tidak bermaksud melakukan nya," jelas Riu dengan raut wajah cemas.

"Aku tidak memperdulikan hal itu. Intinya, yang aku katakan tadi akan berlangsung mulai hari ini. Camkan itu baik-baik ... "

Eliana berjalan menjauhi sosok Riu yang hendak mengatakan sesuatu di dalam ruangan perpustakaan. Ia berjalan dengan langkah kaki yang cepat agar segera menghilang dari pandangan Riu.

Tak disadarinya cairan bening keluar dari kedua bola matanya. Perlahan ia mengelap air matanya begitu sampai di depan ruangan kelas.

"Sudah selesai berbicara dengan Riu?" tanya Lucas yang tiba-tiba saja muncul di belakangnya.

"Ah, i-- iya," jawab Eliana tanpa menoleh dan menatap wajah Lucas. Ditambah suaranya yang terdengar berat tentu membuat Lucas curiga.

...----------------...

Hari-hari berlalu begitu cepat. Pagi yang disinari terik sinar matahari membuat suasana terasa lebih nyaman. Pohon yang ditanam di setiap tempat perlahan daunnya mulai rontok.

Eliana menguap, tangan nya meraih sebuah kalender yang berada di atas meja. Ia membuka matanya lebar-lebar begitu teringat jika hari ini ada hal penting yang harus dilakukan nya.

"Astaga! Aku harus bersiap-siap sebelum dia datang ke sini!" serunya seraya beranjak turun dari ranjang menuju sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar mandi.

Selang beberapa waktu, ia membuka pintu rumahnya yang masih tertutup rapat-rapat. Kedua bola matanya melihat sekeliling untuk memastikan bahwa orang yang dicari nya belum tiba.

"Huh, untunglah dia belum sampai," kata Eliana sambil menghela nafas panjang.

Begitu hendak menutup pintu, nampak seseorang yang tengah dicari nya berada di samping rumahnya. Jantungnya berdegup kencang lantaran terkejut.

"Kau pikir aku akan terlambat datang?" katanya seraya berjalan mendekati Eliana.

"Lucas ... singkirkan tangan mu!"

"Haha, iya ... maaf maaf,"

"Ayo cepat, kita tidak boleh kehabisan menu baru di Restoran WveN," ucap Riu seraya menarik lengan Eliana.

Keduanya berjalan dengan langkah kaki yang cepat menuju perempatan jalan raya untuk mencari taksi. Lucas menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat di depan mereka.

Sesampainya di Restoran WveN, tentunya antrian panjang menunggu mereka. Terpaksa keduanya harus menunggu giliran untuk bisa mendapatkan makanan yang mereka inginkan.

"Aku kira kita akan langsung memesan makanannya di dalam," lontar Eliana sambil melihat sekeliling tempat yang ramai di penuhi oleh pengunjung.

"Tidak, makanya aku menyuruhmu cepat-cepat ke sini. Yah ... karena seperti ini sistemnya," kata Lucas yang berdiri di belakang Eliana.

"Huh, kalau begini kakiku bisa retak!!"

Lucas hanya membalas perkataan nya dengan senyuman licik. Ia kemudian menyuruh Eliana untuk duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari lokasi antrian.

Setelah begitu lama mengantri untuk mendapatkan menu baru di Restoran WveN. Mereka pun di persilahkan untuk duduk di dalam Restoran dan menikmati makanan tersebut.

"Ternyata enak juga, ya ... " ucap Eliana dengan mulut yang penuh akan makanan.

"Telan dulu makananmu, baru bicara," tegur Lucas sambil memandangi wajah Eliana.

"Seandainya tour wisata sekolah kita benar-benar dilaksanakan dua minggu yang lalu, pasti menyenangkan ... musim gugur juga sudah mulai,"

"Memangnya kau senang jika pergi ke museum?"

"Ehmm ... tidak juga. Tapi aku ingin bersenang-senang,"

"Ya sudah, habiskan dulu makanan mu. Setelah ini kita lanjutkan obrolannya," ujar Lucas yang kembali melahap makanan di hadapannya.

Cukup lama mereka menghabiskan waktu di satu tempat itu, dan kini Lucas mengajak Eliana ke sebuah tempat yang belum pasti. Keduanya berjalan mengelilingi pusat kota, hingga akhirnya berhenti di sebuah taman hiburan yang sedang ramai di perbincangkan.

"Wah ... i-- ini kan ... "

"Iya, benar. Katanya kau mau bersenang-senang, jika di sini tidak masalah, kan?" imbuh Lucas.

Eliana tak merespon perkataan nya, didapati nya raut wajah berseri-seri yang terpasang pada wajah Eliana.

"Sepertinya dia benar-benar butuh hiburan," gumam Lucas di iringi senyuman yang mengembang di wajahnya.

Hal pertama yang dilakukan oleh mereka di taman hiburan tersebut adalah menaiki sebuah wahana yang tingginya tak biasa. Jerit dan tawa dari berbagai orang menghiasai suasana. Namun yang menjadi pusat perhatian Lucas kali ini hanyalah Eliana seorang.

Begitu selesai bermain-main dengan wahana itu, mereka melanjutkan nya dengan membeli camilan, salah satunya adalah pop corn dan cola.

Langit terlihat mulai gelap, sepoi-sepoi angin membuat suasana sore itu terasa lebih romantis. Ditambah dengan cerahnya langit sore dan burung-burung yang beterbangan di langit.

"Huh, aku lelah ... " seru Eliana sambil duduk di sebuah kursi.

"Yah, tapi menyenangkan, bukan?" tanya Lucas memastikan.

"Benar, ini adalah hari paling menyenangkan seumur hidupku,"

"Wah ... begitu, ya? Baguslah ... "

"Lucas sangat baik padaku, dia bahkan selalu menuruti apa perkataan ku walau mungkin dia tidak menyukainya. Terima kasih, Lucas ... " cakap Eliana dalam hatinya.

Tangannya perlahan memegangi tangan Lucas yang berada di pangkuannya. Keduanya saling bertatapan dengan senyuman yang mengembang dari wajah Eliana.

"Terima kasih untuk hari ini, Lucas ... " ucap Eliana sontak membuat wajah Lucas memerah.

"I-- iya, sama sama ... " balasnya dan berdalih menatap tempat lain.

"Aku tidak yakin jika ada orang baik yang sebaik dirimu. Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu, Lucas. Tidak ku sangka ada orang yang benar-benar sempurna dalam hidupku," celetuk Eliana sambil bersandar pada bahu Lucas.

"Sempurna katamu, Eliana? Aku bahkan iri dengan mu karena kau adalah seorang manusia. Apakah kau akan tetap berada di sisiku setelah mengetahui siapa diriku yang sebenarnya?" ucapnya dalam hati seraya menatap langit sore.

𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!