*KRING!!*
Bel istirahat berbunyi sangat nyaring hingga terdengar sampai ke lorong kelas. Para siswa-siswi yang masih di fokuskan oleh pelajaran mereka masing-masing hingga menahan lapar seketika saling menatap satu sama lain, lantaran bel istirahat telah menyelamatkan mereka dari ketidakpuasan.
Begitu juga dengan Eliana yang langsung merapikan buku serta alat tulis ke laci mejanya. Yun, teman laki-laki yang duduk sebangku dengan nya menatap heran sosok Eliana yang terlihat tak berenergi.
"Sebenarnya ada apa denganmu, Eliana? Sejak tadi pagi sepertinya kau terlihat lemas," cakap Yun pada Eliana yang tengah bersandar pada kursi.
"Aku tidak apa-apa, kau tidak perlu ikut campur urusan ku," seru Eliana dengan wajah datar.
Clau kemudian mendekat ke arahnya begitu mendengar percakapan antara Eliana dengan Yun yang terdengar ada masalah.
"Eliana," panggil Clau seraya menarik lengan Eliana yang terasa lemas.
"Kau tidak boleh terus seperti itu, ayo isi perutmu dengan makanan ... " ajak Clau penuh harapan bahwasanya Eliana akan bangkit dari keterpurukan nya.
"Kau duluan saja, aku tidak nafsu makan," lontar nya dengan nada rendah.
Mendengar penolakan dari temannya, Clau hanya mendengus kecewa. Kecewa karena ia telah memberitahukan pada Eliana bahwa Riu dan Bomi memulai hubungan percintaan mereka pagi ini.
......................
Langit oren ke orenan mulai nampak, siswa-siswi SMA Kongjae buyar keluar dari gedung sekolah mereka. Terlihat sosok Riu yang tak biasanya pulang bersama orang lain selain Eliana, kini lebih memilih berjalan bersama dengan kekasih nya.
Tentu hal itu membuat Eliana benar-benar putus asa, karena harapannya tak seindah kenyataan. Ia kemudian berjalan keluar gerbang sekolah menuju jalan yang mengarah ke taman dekat sekolah mereka.
Karena kesal, ia melempar sebuah batu yang cukup besar ke arah pohon rindang. Perlahan kedua bola matanya mengeluarkan cairan bening hingga membasahi pipi nya.
"Hiks ... hiks ... " suara tangisan nya mulai terdengar mengeras. Namun tak ada seorangpun yang mendengar tangisan nya.
"Kenapa hidupku sangat kacau! Aku tidak menyangka hidupku akan seburuk ini ... apa aku bunuh diri saja?" ucap Eliana pada diri nya sendiri.
Nampak sebuah tangan yang mengulurkan sapu tangan ke arahnya. Ia yang awalnya menangis sembari tertunduk seketika mendongak kan kepalanya untuk memastikan siapa orang tersebut.
Yang ia harapkan adalah Riu yang datang padanya di saat ia sedang terpuruk, namun ternyata seorang lelaki yang nampak asing baginya lah yang memberikan sapu tangan itu padanya.
"Jangan menangis, bersihkan air matamu dengan sapu tangan ini," seloroh lelaki itu masih dengan tangan nya yang mengulurkan sapu tangan.
"Te-- terima kasih, kak," ucap Eliana sembari menerima sapu tangan yang diberikan padanya.
Perlahan Eliana mengelap air mata yang membasahi pipi nya. Ia kemudian menatap ragu seorang lelaki yang terlihat seumuran dengan nya sedang memperhatikan nya. Tangan nya menepuk-nepuk sebuah ayunan yang kosong di sampingnya.
"Du-- duduklah, kak," ujar Eliana dengan nada rendah.
Lelaki itu kemudian duduk di ayunan yang kosong sambil terus menatap langit oren sore itu.
Keduanya saling terdiam tanpa mengatakan apapun selama kurang lebih sepuluh menit.
"Aku kira kau kuat, ternyata hatimu lemah juga ya," seloroh lelaki itu masih fokus menatap langit oren yang dihiasi oleh burung-burung yang tengah beterbangan.
"A-- apa maksudnya?" tanya Eliana sedikit terbata-bata.
"Sekarang kau tidak akan mengerti, tapi suatu hari nanti kau pasti akan mengerti apa maksud darin perkataan ku," imbuh lelaki tampan itu dengan wajah dingin bak es dalam freezer.
"Dia bahkan tidak menatap ku sama sekali, apa dia seorang penculik?" Gumam Eliana dalam hati hingga membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat.
"A-- aku akan pulang, keluarga ku pasti sudah menunggu ku. Te-- terima kasih untuk sapu tangan nya. Besok akan aku kembalikan setelah dicuci," seru Eliana yang kemudian beranjak turun dari ayunan mengambil ranselnya yang beberapa waktu lalu ia taruh di rerumputan taman.
Ia membungkuk kan badannya sebagai rasa hormat dan terima kasih. Setelahnya ia langsung berjalan dengan langkah kaki yang cepat agar bisa menjauh dari sosok lelaki yang nampak asing baginya.
"Berbahagialah ... " ucap lelaki itu dengan nada rendah sembari tersenyum sinis.
...----------------...
Eliana merebahkan tubuhnya di kasur lantai yang setiap hari ia gunakan untuk tidur. Tentu ia bersantai setelah mengerjakan pekerjaan rumah yang hanya dilakukan olehnya setiap hari.
*PRANK!!!*
"Dasar wanita j*l*ng!! Mati saja kau!!" Teriak seseorang yang terdengar familiar di telinga Eliana. Ia hanya menutup telinga nya dengan bantal karena merasa terganggu.
"Seharusnya kau saja yang mati!! Dasar suami tidak berguna! Pekerjaan mu itu mencari uang untuk menafkahi keluarga, bukan malah minum minum setiap malam!!!" Kini teriakan seorang wanita yang Eliana dengar membuatnya menatap langit-langit kamar.
"Heuh, kapan drama ini akan segera berakhir? Rasanya keluarga ku memang sudah berantakan sejak dulu," Eliana mendengus. Ia perlahan membuka pintu kamarnya yang beberapa waktu lalu ia kunci rapat-rapat.
**CRAK!!*
Sebuah vas bunga mendarat tepat di kepalanya begitu ia keluar dari kamar. Sedikit demi sedikit darah mulai bercucuran membasahi wajahnya. Ibu serta ayah yang sedang bertengkar karena masalah mereka hanya terdiam saat mendapati Eliana yang tengah terluka karena perbuatan mereka.
Eliana memegangi kepalanya yang berdarah akibat vas bunga yang tak sengaja terlempar ke arahnya.
"Mau sampai kapan kalian akan terus bertengkar seperti ini? Ayah, kumohon berubah lah," lontar Eliana dengan kedua bola mata yang sudah membendung air mata.
"Jangan ikut campur masalah kami! Kau hanya anak kecil yang tak tau masalah keluarga! Enyah lah dari hadapanku!" bentak ayahnya yang sudah terbakar emosi.
Mendengar perkataan itu, tentu membuatnya memutuskan untuk keluar dari rumah hingga keadaan kembali membaik. Ia berjalan sepanjang malam tanpa tujuan yang jelas.
"Meong ... meong ... "
"Eh? Bukan kah kau kucing yang waktu itu?" pikir Eliana sembari mengelus bulu kucing di hadapannya.
"Kemarin kau berlari terbirit-birit, sekarang kau malah mendatangi ku seperti ini," lanjut ucap Eliana dengan nada kesal.
Kucing itu menarik lengan pakaian Eliana hingga membuatnya berjalan mengikuti kucing tersebut. Eliana hanya tersenyum lebar mendapati sosok kucing yang mampu menghibur nya.
"Dunia ini tak seindah harapan ku saat kecil, aku pikir aku akan hidup bahagia bersama dengan keluarga ku. Tapi takdir berkata lain, keluarga ku yang menjadi panutan ku malah membuat ku menangis," celoteh Eliana dengan tatapan mengarah pada kucing di hadapannya.
Perlahan ia mengangkat kucing berbulu putih kebiruan itu ke pangkuannya. Sembari mengelus dengan penuh kasih sayang.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
𝒮🍄⃞⃟Mѕυzу᭄
.
2023-10-24
0