Hembusan angin sepoi-sepoi mulai merasuki tubuh Eliana yang tengah tertidur pulas di kasur lantai milik nya. Perlahan ia membuka kedua bola matanya setelah mendengar dering alarm yang berbunyi dari ponsel nya. Tangan nya merangkak mencari sumber suara untuk mematikan suara alarm tersebut dengan kedua mata yang masih sulit untuk terbuka lebar.
"Hoam ... " Eliana menguap, ia terduduk sebentar sembari melihat sekeliling ruangan kamar yang setiap harinya tetap sama.
Setelah rasa malasnya mulai berkurang, segera ia melangkahkan kakinya menuju sebuah ruang kamar mandi yang terletak di ujung rumah.Tentu saja untuk membersihkan tubuhnya sebelum berangkat ke sekolah.
Setelah cukup lama sibuk dengan sabun mandinya, Eliana pun keluar dari ruang kamar mandi menuju kamarnya. Satu persatu seperti pakaian juga sedikit bedak ia gunakan sebelum menuju sekolah.
Masih sibuk dengan persiapan nya sebelum berangkat, terdengar suara bising dari luar ruangan yang sudah biasa di dengan oleh nya. Hal itulah yang setiap pagi terjadi di rumahnya, namun ia menganggap semua itu seakan tidak pernah terjadi.
Ia berjalan keluar rumah tanpa sepatah katapun diucapkan pada anggota keluarganya yang tengah bertengkar. Ia memandangi sekeliling jalan dengan pemandangan yang indah. Ditambah dengan sepoi-sepoi angin pagi yang membuat udara terasa semakin sejuk.
"Heuh, sapu tangan ini masih belum ku kembalikan pada lelaki itu. Kenapa dia masih belum muncul juga, ya?" pikir Eliana sembari menatap sapu tangan di tangannya.
Selang beberapa waktu, akhirnya Eliana pun sampai di sekolahnya. Begitu memasuki ruangan kelas, ia langsung disambut oleh keromantisan antara Riu dan juga Bomi yang sudah 5 hari berpacaran dihitung sejak hari itu.
"Hei, Eliana! Kemari lah!" panggil Riu di tengah percakapan nya dengan Bomi.
"I-- iya? Ada apa?" tanya Eliana dengan gugup, sembari berjalan mendekati Riu.
"Apa kau benar-benar tidak mau ku traktir makanan? Jika memang mau, saat istirahat pertama aku akan mentraktir mu di kantin," tawar Riu setelah berkali-kali mendapat penolakan dari sahabatnya, Eliana.
"Kebetulan hari ini aku tidak diberi uang saku oleh kakak, apa aku harus menerima tawaran Riu? Tapi aku merasa tidak enak pada Bomi yang terus menatapku seperti itu," Pikir Eliana sembari bergumam.
**KRING!!!!***
Karena cukup lama terdiam, Riu yang berbeda kelas dengan Eliana pun menganggap bahwa Eliana menyetujui tawaran nya. Ia segera berlari keluar kelas Eliana menuju ruang kelasnya sendiri.
"Kenapa kau menerima tawaran Riu?" tanya Bomi dengan raut wajah yang tak enak dipandang.
Eliana hanya mengepalkan tangan nya karena kesal dengan Bomi yang bersikap kurang ajar pada nya. Ia tak menggubris perkataan Bomi dan segera kembali ke tempat duduknya sebelum guru di jam pelajaran pertama memasuki kelas.
"Apa kau kecewa karena Riu berpacaran dengan Bomi?" tanya Yun begitu Eliana duduk di bangkunya.
"Ti-- tidak! Jangan bercanda!" sanggah Eliana secara spontan.
...****************...
*KRING!!!***
Bel istirahat pertama berbunyi nyaring di setiap kelas, begitu juga dengan lorong yang sepi tanpa penghuni.
Eliana merapikan buku serta peralatan tulisnya ke dalam laci meja bangkunya.
Ia kemudian merenggangkan otot-otot tangan yang pegal lantaran banyak menulis.
"Riu!" panggil Bomi yang langsung berlari mendekati Riu yang baru saja masuk ke dalam kelas mereka.
"Ah, ada apa ini? Sepertinya kau sangat merindukan ku, padahal baru beberapa jam kita tidak bertemu," tutur Riu diiringi tawa kecil.
Eliana menatap keduanya dengan rasa pilu yang membakar seluruh tubuhnya.
"Sesuai janji, ayo kita pergi ke kantin!" ajak Riu pada Eliana yang tengah fokus memperhatikan nya.
"Eh? A-- apa kau yakin?" tanya nya memastikan.
"Tentu saja,"
Terpaksa Eliana menuruti perkataan Riu yang masih berstatus sahabat dengan nya. Sepanjang berjalan nya waktu, Eliana yang bergabung dengan sepasang kekasih yang baru 5 hari berpacaran itu membuatnya terdiam.
Ia tak tau harus berkata apa, lantaran suasana nya akan menjadi canggung jika diri nya ikut berbicara.
"Makan lah, Eliana,"
"Riu, sepertinya aku harus ke toilet dulu. Nanti akan aku habiskan makanan nya," cakap Eliana dengan pelan.
Belum mendapat respon dari Riu, ia langsung berjalan menjauh dari keduanya. Ia terpaksa berbohong pada Riu untuk pergi ke toilet, karena sebenarnya ia akan kembali ke kelas. Lantaran tatapan sinis dari siswa-siswi yang berada di kantin membuatnya risih.
...****************...
Seperti biasa, waktu yang menunjukkan pukul 15.00 WS menyatakan bahwa siswa-siswa SMA Kongjae akan segera pulang ke rumah mereka masing-masing.
Begitu bel berbunyi, Eliana juga teman-teman nya yang lain langsung berjalan keluar kelas seraya berebut pintu.
Eliana melihat ke sekeliling jalanan yang nampak lebih ramai dibandingkan biasanya. Ia berjalan dan terus berjalan tanpa melihat ke arah depan tentu membuatnya tak sengaja menabrak seseorang.
"Ma-- maafkan aku!! Aku tidak sengaja," ucap Eliana sambil beberapa kali membungkuk kan badannya.
"Lain kali hati-hati," tegur seseorang yang baru saja ditabrak nya. Suaranya yang terdengar familiar tentu membuat Eliana mendongak.
"Ka-- kakak?" sebut Eliana dengan membulatkan kedua bola matanya.
"I-- ini sapu tangan yang kakak berikan padaku, maaf aku baru bisa mengembalikan nya karena tidak berpapasan lagi dengan kakak," ucap Eliana merasa bersalah.
Kakak yang disebut nya itu sontak menarik lengan pakaian Eliana dan membawanya ke tempat yang sepi.
"Bicaralah di sini," ujar lelaki itu dengan raut wajah dingin. Perkataan yang baru saja di lontarkan olehnya tentu membuat suasana menjadi canggung.
"Ah, ini sapu tangan nya," Eliana kembali berucap seraya mengulurkan tangan untuk memberikan sapu tangan.
"Kau simpan saja sapu tangan itu, lagipula aku juga tidak membutuhkan nya," ketus lelaki itu yang sampai sekarang belum diketahui namanya oleh Eliana.
"Kalau boleh tau, nama kakak siapa? Sepertinya aku baru kedua kalinya melihat kakak," tanya Eliana dengan nada merendah.
"Nama, ya? Hmm ... panggil saja aku Lucas, yah ... kurang lebih seperti itu," lelaki di hadapan Eliana yang mengaku bernama Lucas kemudian memalingkan pandangan nya ke tempat lain.
"Oh, jadi nama kakak Lucas, ya? Perkenalkan nama ku Eliana Cordely, panggil saja aku Eliana," ujarnya memperkenalkan diri.
"Ngomong ngomong, sudah 5 hari berlalu sejak pertemuan pertama kita. Kenapa kakak tidak pernah muncul?" celetuk Eliana yang sontak membuat Lucas menatapnya heran.
"Apa kau bisa menghilangkan kata (Kakak) saat memanggil ku? Lagipula kita seumuran," seloroh Lucas yang merasa kaku.
"Sudah kuduga usia kita tidak berbeda jauh, tapi aku tidak berani memanggil namamu begitu saja," tandas Eliana seraya memperlihatkan senyuman tipis.
"Ah, aku harus pulang. Sepertinya keluarga ku sudah menunggu. Aku harap besok kita bertemu kembali," lontar Eliana yang kemudian beranjak dari kursinya.
"Biar ku antar," timpal Lucas dengan tatapan dingin mengarah pada Eliana.
"Yang benar saja?"
"Aku tidak pernah bercanda,"
Eliana ternganga mendengar perkataan Lucas yang mirip dengan seseorang. Namun aura tatapan nya yang berbeda membuatnya tidak berharap lebih.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
𝒮🍄⃞⃟Mѕυzу᭄
....
2023-11-01
0