Episode 11-Hujan Adalah Penyebabnya

Suara hujan yang bergemuruh terdengar mulai mendekat. Awan cerah seketika lenyap dari pandangan manusia. Begitu juga dengan angin yang mendadak berhembus kencang masuk melalui celah lubang udara.

"Tadi kau membeli apa di minimarket? Aku tidak melihatmu membawa apa-apa," tanya Lucas yang kemudian melepas headset yang dipakai nya sejak tadi.

"Tidak ada. Aku hanya melamar pekerjaan saja di sana," jawab Eliana dengan nada merendah.

"Kau memandang ku sebagai apa?" tanya Lucas untuk yang kedua kalinya.

"Hmm?? Sebagai ... teman?"

"Bukan, bukan itu maksud ku,"

"Lalu?"

"Banyak orang yang memandang ku hanya dengan sebelah mata, termasuk dirimu," lontar nya yang sontak membuat Eliana ternganga.

"Apa maksud mu?"

**GLUDUK!!*GLUDUK*

*WUSSHHHH!!** BRSSS!!*

Ditengah pembicaraan mereka, mendadak hujan turun dengan lebat. Keduanya pun menoleh ke arah jendela secara bersamaan.

"Sepertinya kita harus segera pulang. Aku akan mengantar mu dulu," kata Lucas yang bahkan belum menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Eliana pada nya.

"Hei, hei! Tunggu!!" teriak Eliana tanpa melihat ke sekelilingnya.

"Sttt! Jangan berisik, ada banyak orang berada di sini," seloroh Lucas yang kemudian menarik lengan Eliana dan dibawanya keluar dari Cafe, tempat dimana mereka mencairkan suasana.

Nampak rintik-rintik hujan yang begitu deras turun dari langit. Eliana memperhatikan satu persatu rintikan air itu tanpa henti. Ia kemudian tersadar kalau dirinya tidak membawa payung sebagai persiapan sebelum hujan.

"Astaga! Aku melupakan sesuatu!!" kata Eliana sembari menepuk dahinya.

"Apa?"

"Payung! Bagaimana kita bisa pulang jika tidak ada payung? Pasti kita akan basah kuyup," cakap Eliana dengan raut wajah murung.

Ia kembali memperhatikan hujan yang turun tanpa henti. Kalaupun menunggu hujan reda, pasti akan sangat lama dan membuang-buang waktu.

"Tidak apa-apa, pakailah ini." Lucas memakaikan jaket miliknya pada Eliana.

Tentu hal itu membuat Eliana tertegun. Ia sama sekali tak dapat berbicara ataupun bergerak sedikitpun.

Tapi pada akhirnya, Eliana memutuskan untuk segera melangkahkan kakinya menuju jalanan yang nampak ramai walaupun hujan turun.

Keduanya berjalan di bawah derasnya hujan tanpa menggunakan payung yang bisa melindungi mereka dari air.

**Ckitt___

Sebuah mobil berwarna hitam berkilau berhenti tepat di sampingnya. Seseorang yang berada di dalam mobil kemudian membuka jendelanya untuk mengatakan sesuatu.

Nampak seorang lelaki yang begitu dikenal Eliana tengah membuka jendela tersebut. Ia kemudian menyadari bahwa orang yang berada di dalam mobil adalah Riu, sahabatnya sendiri.

"Ri-- Riu?" panggil Eliana sedikit terbata-bata.

"Masuklah," perintah Riu. Namun Eliana tak mendengar perkataan nya lantaran suara hujan yang turun begitu keras.

Eliana mendekatkan wajahnya pada Riu, ia mendengarkan baik-baik apa yang Riu bicarakan kali ini.

"Masuklah, kau bisa sakit jika hujan-hujanan seperti itu," ucapnya mengulang perkataan.

"Ti-- tidak perlu. Aku cukup bersama Lucas saja. Lagipula kita juga sudah tidak begitu dekat," sanggah Eliana dengan raut wajah iba. Walaupun sebenarnya ingin sekali ia memasuki mobil untuk ditumpangi nya agar bisa sampai rumah dengan cepat.

Tentu Riu tak menggubris perkataan yang baru saja di lontarkan Eliana, lantaran ia sendiri yang telah memutuskan hubungan pertemanan mereka. Jadi tidak heran jika Eliana menolak nya.

Mobil hitam berkilau itu kemudian kembali melaju dengan kecepatan tinggi. Eliana terdiam begitu Riu serta mobilnya lenyap dari pandangan nya hanya dalam sekejap.

"Eh?"

"Hmm??"

"Kenapa tangan mu berada di atas kepala ku?" tanya Eliana yang dibuat heran oleh Lucas.

"Aku mengurangi sedikit beban mu," jawab Lucas secara spontan.

Eliana menghela nafas panjang, tanpa disadarinya, ia tersenyum lebar pada Lucas. Tentu hal itu membuat Lucas sedikit terkejut, namun dengan sifatnya, ia tidak merasa seperti lelaki lainnya saat berhadapan langsung dengan seorang wanita.

Selang beberapa waktu, akhirnya keduanya pun sampai tepat di depan komplek perumahan milik Eliana. Ia mengetuk pintu rumahnya dengan sangat keras, agar orang-orang yang berada di dalam bisa mendengarnya.

"Bagaimana?" tanya Lucas pada Eliana, lantaran tidak ada satupun anggota keluarga Eliana yang keluar untuk membukakan pintu.

"Entahlah, sepertinya tidak ada yang berada di rumah," cakap nya dengan memutar kedua bola matanya.

"Bagaimana jika ke rumahku saja?" Lucas mengusulkan. Eliana terdiam cukup lama setelah mendengar perkataan Lucas yang menurutnya tidak biasa. Ia tersenyum penuh keraguan.

"Ugh, terserah mu saja,"

"Baiklah, ayo,"

...----------------...

Itu artinya, Eliana menerima usulan dari Lucas. Begitu sampai di sana, Eliana dibuat takjub lantaran rumah yang ditinggali Lucas berada di luar dugaan. Ia meraba dinding yang terbuat dari emas.

"I-- ini benar rumah mu, ya?" tanya Eliana sedikit terbata-bata.

"Tentu saja, kenapa tidak?" Lucas tersenyum licik. Ia kemudian mengarahkan jalan untuk Eliana.

Walaupun rumahnya terlihat begitu luas, megah nan indah. Namun ada satu hal yang membuat Eliana merasa janggal. Karena sejak pertama melihat rumah ini, ia tak mendapati satupun orang berada di sana. Selain mereka berdua.

...----------------...

Malam pun tiba ...

Bulan yang bersinar dengan terang menerangi langit gelap. Eliana menatap langit-langit yang di penuhi oleh bintang-bintang juga rembulan.

Ditambah hembusan angin yang kencang membuat suasana terasa semakin tenang.

"Kenapa kau berada di sini?" tanya Lucas begitu keluar dari rumahnya.

"Ah, aku hanya sedang melihat bintang saja," jawab Eliana secara spontan. Ia berdalih menatap Lucas yang tengah berdiri di belakangnya.

"Apa kau benar-benar tidak mau mengganti pakaian mu? Itu kan basah?" tanya Lucas untuk yang kesekian kalinya setelah beberapa kali Eliana menolak.

"Tidak apa-apa, toh tidak ada baju yang sesuai dengan ku," kata Eliana sembari menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.

"Ngomong-ngomong, ada apa kau mencari ku?"

"Aku sudah memesan makanan, ayo kita makan malam," ajak Lucas seraya meraih tangan Eliana yang masih erat memegangi besi tangga.

"E-- eh?"

Eliana tak bisa menghentikan langkah kakinya begitu Lucas menariknya dengan sekuat tenaga. Nampak beberapa makanan yang sudah rapih di hidangkan di meja makan.

Eliana melihat sekeliling, untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang sedang menatapnya.

Ia kemudian berlari dan duduk di sebuah kursi yang berdiri tegak.

Perlahan ia melahap makanan-makanan yang telah disajikan untuknya. Namun, sebuah angan-angan melintas di benaknya. Sontak ia berhenti mengunyah makanan yang sudah penuh di dalam mulutnya.

"Lu cas bgeumeuana ... uhuk!!"

"Jangan bicara saat sedang makan, minum lah," kata Lucas seraya memberikan sebuah gelas yang penuh berisikan air putih.

"Uh, lega. Oh ya, ngomong-ngomong, dimana orang tua mu?" tanya Eliana begitu menelan semua makanan yang tadi berada di dalam mulutnya.

"Itu ..., kau tidak perlu tau." Lucas memperlihatkan wajah yang tak biasa. Ia berdalih menatap sudut ruangan lain untuk menghindari tatapan Eliana.

𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!