Episode 15-Perasaan Ragu Merebut Segalanya

Semburat mentari pagi memanjakan mata Eliana untuk terbangun. Ditambah kicauan burung dengan nyanyian yang merdu. Suara sering alarm berbunyi cukup nyaring di ruangan kamar Eliana, sontak membuat kedua bola matanya terbuka lebar.

Sesegera mungkin ia beranjak dari ranjangnya dan menuju ke sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar mandi. Cukup lama ia disibukkan oleh sabun mandi dan air.

**Kriettt**

Perlahan ia membuka pintu rumahnya yang sejak pagi masih tertutup rapat. Didapatinya sosok Lucas yang tengah menunggu nya tepat di depan rumah.

"Eh, tumben kau ke sini pagi-pagi sekali?" cakap Eliana seraya menutup pintu.

"Hmm, aku ingin berangkat ke sekolah dengan mu. Ayo cepat, sebentar lagi jam masuk sekolah," kata Lucas dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi.

"I-- iya, ayo ... "

Mereka berjalan mengikuti irama langkah kaki di pagi hari. Nampak dedaunan yang rontok dari ranting pohon, ditambah dengan hembusan angin yang kencang membuat suasana terasa lebih menyejukkan.

"Kau belum sarapan, kan?" tanya Lucas berdalih menatap Eliana.

"Belum, memangnya kenapa?"

"Ini, makanlah. Tadi aku tidak sengaja melihat penjual roti dan susu, kebetulan kau belum sarapan," tutur Lucas sembari mengulurkan tangan nya memberikan kantung plastik berwarna hitam.

"Ini benar untukku?" tanya Eliana memastikan penuh keraguan.

"Tentu saja, memangnya untuk siapa lagi?"

"Wahh, perutku sudah keroncongan begini. Bagaimana jika kita berhenti di taman itu dulu? Aku ingin mengisi perut ku," kata Eliana menunjuk sebuah taman yang nampak sepi.

"Baiklah, tapi jangan terlalu lama ya,"

"Oke,"

Keduanya pun berjalan mendekati sebuah taman yang bersih nan indah. Eliana duduk di sebuah ayunan agar bisa makan dengan tenang. Sedangkan Lucas hanya berdiri dan menatapnya selama Eliana melahap makanan tersebut.

Selang beberapa waktu, Eliana dan juga Lucas sampai tepat di depan sekolah. Namun sayangnya, Eliana yang terlalu lama mengisi perutnya membuat mereka harus terlambat sampai ke sekolah.

Tentu mereka harus menjalani hukuman yang cukup berat karena sudah terlambat datang.

"Bagaimana ini?!!" tanya Eliana yang sudah lebih dulu panik dari kejauhan.

"Tentu saja kita harus tetap masuk, kan?" cetus Lucas.

"Ta-- tapi, aku tidak ingin dihukum. Bagaimana jika reputasi ku hancur?!" cakap Eliana dengan raut wajah panik.

"Heuh, baiklah. Begini saja, kau naik melewati pagar ini, bagaimana?" Lucas mengusulkan.

"Tapi bagaimana caranya?"

"Aku akan membantu mu agar bisa naik, cepatlah,"

Tanpa berpikir panjang, Eliana langsung menginjak kan kakinya pada telapak tangan Lucas. Ia kemudian berusaha sekuat tenaga agar bisa naik melewati pagar tersebut.

Begitu Eliana berhasil naik sampai ke ujung, ia mengulurkan tangan nya untuk membantu Lucas yang masih berada di luar.

"Ayo ... " Ia menjulurkan tangan nya sampai ke bawah, namun Lucas hanya terdiam menatapnya dengan tatapan sinis.

Ia berlari tanpa mengatakan sepatah katapun pada Eliana yang berusaha membantunya naik.

"Hei!!! Lucas!!!" teriak Eliana.

"E-- eh?!!!" **BUGH!!!**

Eliana terjatuh saat dirinya hendak turun dari ujung pagar sekolah.

Tubuhnya ditangkap tepat sasaran oleh seorang siswa laki-laki yang kebetulan lewat di tempat tersebut.

"Kau berusaha untuk menghindari hukuman, ya?" tanya siswa itu sambil tersenyum licik.

"Ti-- tidak, kok!! Aku hanya ingin, hmm ... " sanggah Eliana yang nampak kebohongan nya.

Ia kemudian bangkit dari lengan siswa tersebut. Sesegera mungkin Eliana meraih ranselnya yang ikut terjatuh saat dirinya hendak turun.

"Ngomong-ngomong, terima kasih karena sudah menolong ku. Terserah mu mau berpikir apa tentang ku, tapi yang pasti aku minta tolong padamu agar tidak mengatakan hal ini pada siswa-siswi yang sedang berjaga di gerbang sekolah," cakap Eliana dengan posisi kepala tertunduk.

"Baiklah, semoga harimu menyenangkan," kata siswa laki-laki itu sambil memamerkan senyuman nya yang indah.

...----------------...

"Hosh ... hosh ... "

"Eliana, ada apa dengan mu?" tanya Clau yang berjalan menghampiri nya.

"A-- aku, ah ... dimana Lucas?" tanyanya begitu menyadari bahwa Lucas tidak berada di kelas.

"Eh, entahlah. Aku tidak melihatnya masuk tadi," Clau berkata sambil melihat sekeliling ruangan yang tak nampak sosok Lucas di dalamnya.

Rasa cemas Eliana kemudian membara, lantaran Lucas yang tadi berlari entah kemana belum sampai di kelas mereka. Ia kemudian teringat akan satu hal yang membuatnya semangat untuk belajar di sekolah pagi ini.

"Clau, Yun ... ada yang ingin aku katakan pada kalian," ucap Eliana sembari menaruh ranselnya di samping bangku.

"Apa?" keduanya bertanya secara serempak.

"Jadi sebenarnya, aku masih menyukai Riu. Ya-- yah, jangan berpikir yang tidak tidak! Tapi memang sejak dulu aku menyukainya, hanya saja aku tidak berani menyatakan perasaan ku pada Riu," tutur Eliana dengan raut wajah tak semangat.

"Hai, tersenyumlah ... " timpal Yun sambil menepuk bahu kanan dan kirinya.

"Lalu, apa yang kau inginkan?" tanya Clau memastikan.

"Aku ingin kalian membantu ku agar Riu bisa putus dengan Bomi. Lalu setelah itu aku akan menyatakan perasaan ku padanya,"

"Itu ... mungkin akan cukup sulit, tapi kami akan berusaha membantumu!" lontar Clau dengan menaikkan tangan nya.

"Tidak, tidak begitu sulit juga. Tenang saja, selama ada aku, maka kau akan bahagia ... " ujar Yun yang sempat membuat kedua temannya menatapnya dengan heran.

"Heuh, Riu, Eliana ... mungkin takdir akan berkata lain, kalian mungkin bisa bersama jika tidak ada rasa ragu pada diri kalian," Gumam Yun dalam hatinya.

**FLASHBACK ON**

Pagi-pagi sekali, kira-kira pukul enam pagi, nampak seorang murid laki-laki tengah berdiri di depan pintu ruangan kelas Eliana. Ia menatap sebuah kertas yang dibawanya sambil menghela nafas panjang.

"Eh, si-- siapa, ya?" tanya Yun yang merasa gemetaran begitu mendapati siswa yang terlihat aneh dari belakang.

Siswa itu menoleh, dan memperlihatkan ketampanan wajahnya yang tidak bisa diragukan lagi. Yun menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.

"Oh, ternyata Riu, ya. Maaf, aku pikir kau siapa," kata Yun sambil tersenyum kecil.

"Ti-- tidak apa-apa," jawab Riu yang dirasa ingin menyampaikan sesuatu.

"Ngomong-ngomong kenapa kau berdiri di sini?" tanya Yun memastikan.

"Sebenarnya aku ingin menaruh surat ini di laci meja Eliana. Tapi aku ragu untuk melakukan nya," kata Riu dengan raut wajah yang tak enak dipandang.

"Loh, kenapa harus merasa ragu?"

"Yah, begitulah. Sebenarnya dia juga pernah mengatakan sesuatu padaku. Dia bilang tidak ingin berpacaran dengan seseorang hingga lulus sekolah," jelas Riu tanpa rasa ragu sedikitpun.

"Wahh, gila!!! Ternyata dia menyukai sahabatnya sendiri, huhu aku harus mengatakan nya pada Eliana nanti," Pikir Yun dalam hatinya.

"Ah, aku jadi mengatakan yang tidak tidak padamu. Hmm, tolong jangan bilang pada siapa-siapa ya, jika aku melakukan hal ini. Lagipula, aku juga tidak jadi melakukan nya," lanjutnya.

"Ba-- baiklah, percayakan saja padaku," sahut Yun dengan tatapan heran.

𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!