Episode 16-Terkunci

Hembusan angin masuk melewati lubang udara pada jendela, ditambah tak ada satupun suara kendaraan yang merusak pendengaran. Eliana menatap ke luar jendela, nampak dedaunan yang rontok dari pohon nya.

Ia menghela nafas panjang begitu mengingat bahwa Lucas tak muncul hingga pelajaran terakhir.

**KRING!!!**

Bel berbunyi cukup nyaring di setiap kelas, itu artinya waktu pulang pun tiba. Para siswa-siswi berebut pintu agar bisa keluar lebih dulu.

"Huh, kenapa Lucas tidak masuk, ya? Padahal tadi pagi kita berangkat bersama ke sekolah," pikir Eliana yang tak terasa sudah keluar dari halaman sekolah nya.

Ia berjalan melewati sebuah gang kecil yang nampak sepi agar bisa sampai rumah lebih cepat.

"Meong ... meong ... meong ... "

"Eh? Ku-- kucing hitam!" Eliana terkejut begitu mendapati seekor kucing hitam yang kemarin dijumpai nya di tengah jalan.

Perlahan ia berjalan mundur agar bisa menghindari kucing tersebut. Tapi karena kelihatannya kucing itu sedang bermasalah, ia pun mencoba untuk mendekati nya.

"Ah, ternyata kakimu terluka, ya?" ujarnya seraya mengelus bulu kucing hitam itu. Tangan nya terlihat gemetaran setiap kali berusaha untuk mengelus bulunya. Walaupun begitu, kucing itu sama sekali tidak terlihat galak.

"Apa aku bawa kau pulang saja, ya?" kata Eliana sembari bergumam.

"Ah, ya sudahlah. Sepertinya aku tidak bisa mengobati mu di jalan. Maaf ya, aku akan membawa mu,"

...----------------...

Selang beberapa waktu, Eliana sampai di rumahnya dengan seekor kucing yang berada di tangannya. Perlahan ia menaruh kucing tersebut di atas sebuah kain miliknya.

Tentu ia langsung mengobati luka di kaki kucing tersebut. Apalagi lukanya terlihat cukup parah.

...****************...

Langit terlihat mulai gelap, bulan serta bintang mulai bermunculan di langit yang nampak gelap. Tentu lampu-lampu yang berada di jalanan pun dinyalakan untuk menerangi jalanan yang gelap.

Tepat pada pukul 21.00, Eliana memejamkan kedua bola matanya. Perlahan ia mulai tertidur lelap. Nampak kucing yang berada di kamarnya mulai menggeliat dan mendekatinya.

Sebuah cahaya mengitari kucing hitam di sampingnya itu, dan perlahan berubah menjadi sesuatu yang menakjubkan.

"Eliana, terima kasih sudah mengobati lukaku," cakap nya yang kemudian mendekatkan wajahnya pada Eliana yang tengah tertidur pulas.

...----------------...

Eliana terbangun begitu suara dering alarmnya berbunyi. Hal pertama yang dicarinya setelah terbangun adalah seekor kucing yang kemarin dibawanya pulang ke rumah.

Namun tak nampak kucing hitam itu berada di kamarnya yang sempit.

"E-- eh? Dimana kucingnya?!!!" kata Eliana seraya melihat setiap sudut ruangan kamarnya.

"Jangan-jangan, dia keluar dari kamarku dan ... mengacaukan seisi rumah?!!!" pikir Eliana yang langsung bangkit dari ranjangnya.

Perlahan ia membuka pintu kamarnya yang semalaman tertutup rapat. Dicarinya seekor kucing diluar ruangan kamar, namun tak nampak ada tanda-tanda kucing tersebut.

......................

Jalan yang cukup panjang dilaluinya untuk sampai ke sekolah. Ia duduk di bangku yang biasanya didudukinya. Wajahnya yang terlihat tak biasa tentu membuat teman-temannya mendekatinya.

Di sisi lain, Lucas yang baru saja memasuki gedung sekolah langsung mendapati Bomi serta Luisa yang tengah membicarakan sesuatu. Terdengar beberapa kali Bomi menyebut-nyebut nama Eliana dalam perbincangan nya dengan Luisa.

Perlahan ia mendekati keduanya yang tengah berdiri di tangga menuju lantai dua.

"Oke, jadi ... nanti aku bilang pada Eliana kalau bu Siera memanggilnya di ruang musik, lalu kau akan mengunci pintunya begitu Eliana berada di dalam?" Luisa memastikan ulang rencana yang telah dirancang oleh Bomi.

"Hmm, benar! Cepat sana! Aku akan segera ke ruang musik," perintah Bomi sambil mendorong kecil tubuh Luisa.

Begitu mendengar percakapan di antara keduanya, sesuatu hal langsung muncul di kepala Lucas. Ia kemudian berlari agar lebih dulu sampai di ruang musik sebelum Bomi dan juga Eliana.

**Bugh!! Bugh!! Bugh!!**

Terdengar suara langkah kaki yang berat mendekati ruang kelas 12#2.

**Srak!!**

Begitu pintu belakang terbuka, secara spontan matanya menatap sosok yang berada di tengah pintu.

"Eliana!!" panggil Luisa dengan berteriak.

"Ada apa?" Eliana langsung bangkit dari kursinya dan mendekati siswi yang baru saja memanggilnya.

"Bu-- bu Siera memanggil mu agar datang ke ruang musik sekarang, katanya darurat," ucap Luisa yang tak terdengar ada rencana di dalamnya.

Tentu hal itu membuat Eliana percaya dengan perkataan nya tanpa berpikir panjang. Ia kemudian melambaikan tangannya pada kedua temannya yang tengah berbicara dengannya tadi.

"Dimana bu Siera?" tanya Eliana pada dirinya sendiri begitu sampai di depan ruangan ruang musik.

**Bruk!!**

Seseorang mendorongnya dari arah belakang hingga ia terjatuh. Namun tak diketahuinya siapa yang baru saja mendorong dan mengunci pintu ruangan tersebut.

"To-- tolong!!!" teriak Eliana yang tak didengar oleh satupun orang kecuali Lucas.

"E-- Eliana?" panggil Lucas yang sontak membuat Eliana menoleh ke arahnya.

"Lu-- Lucas? Kenapa kau ada di sini? Jadi kemarin kau tidak masuk kelas karena berada di sini?" tanyanya dengan perasaan heran.

"Bukan begitu. Yah, entahlah, terserah kau mau menganggapnya seperti apa," jawab Lucas.

"Eh? Apa maksudnya? Tidak jelas sekali,"

"Lalu, kenapa kau berada di sini?" tanya Lucas yang berpura-pura tidak mengetahui kejadiannya.

"Tadi ada yang sengaja mendorong ku, lalu dia mengunci pintu ruang musik. Sepertinya ini ulah Bomi dan Luisa," cakap Eliana yang menduga bahwa orang-orang itulah yang telah mengerjai nya.

"Sebenarnya benar, tapi ... aku tidak tau harus mengatakan hal apa padamu," Gumam Lucas.

"Lucas, ayo cari cara agar kita bisa keluar dari sini! Aku tidak mau bolos pelajaran!!" lontar Eliana dengan raut wajah cemas.

"Heuh, ternyata kau cukup rajin juga ya," timpal nya seraya menghela nafas panjang.

Sesuai permintaan Eliana, Lucas pun berusaha mencari cara agar bisa membuka pintu yang telah di kunci menggunakan gembok. Tentu hal itu sangat mustahil bagi mereka untuk bisa menghancurkan gemboknya dari dalam ruangan.

"Eliana, sepertinya kita tidak bisa membuka nya dengan tangan kosong," cakap Lucas yang sontak merubah raut wajah Eliana.

"Itu artinya ... kita akan terjebak di sini sampai ada orang yang bisa menolong kita?" tanya Eliana memastikan.

"Hmm, benar ... "

"Tunggu, sepertinya aku membawa ponsel?" pikir Eliana seraya mencari-cari ponsel di sakunya. Namun tak ditemukan nya ponsel miliknya.

"Huh, ternyata ponsel ku berada di dalam tas. Kenapa hari ini aku sial sekali, ya?" lontar Eliana sembari menepuk dahinya.

Sudah beberapa jam setelah keduanya terjebak di ruangan musik, dan kini bel pulang telah berbunyi. Eliana hanya bisa pasrah karena tidak mungkin ada yang bisa menyelamatkan mereka setelah sekolah usai.

𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!