Episode 6-Tak Ingin Melepaskan

Langit mulai terlihat gelap, matahari pun sudah tenggelam ke arah barat. Begitu juga dengan siswa-siswi SMA Kongjae yang sudah mulai bersaing mendapatkan pintu gerbang untuk keluar dari halaman sekolah.

Eliana berjalan dengan langkah kaki yang tenang di ikuti oleh Lucas di sampingnya. Keduanya hanya terdiam tak mengatakan sepatah katapun. Sampai pada akhirnya, Eliana menghentikan langkah kakinya yang hendak keluar dari gerbang sekolah begitu mendengar seseorang memanggilnya berkali-kali.

"Eliana!!! Tunggu!!!" teriak sosok itu untuk yang kesekian kalinya.

Eliana terhenti, lalu menoleh ke belakang untuk memastikan siapa orang yang beberapa kali memanggilnya. Wajahnya seketika pucat saat mendapati sosok yang ingin sekali diajaknya bicara sejak saat itu.

"Ri-- Riu?" panggil Eliana dengan raut wajah iba.

"Hosh ... hosh ... jalan mu cepat sekali, ya. Aku berkali-kali memanggil mu tapi kau tidak mendengar nya," cakap Riu dengan nafas yang tidak teratur.

"Ada apa? Mana Bomi?" tanya Eliana sembari melihat kanan kiri Riu yang tak nampak sosok Bomi di sampingnya.

"Ah, kau tidak perlu membahas nya. Oh ya, kau lelaki yang bernama Lucas, kan? Jika bersedia, apakah kau bisa meninggalkan kami berdua saja? Aku ingin berbicara empat mata dengan nya," pinta Riu dengan tatapan kesal mengarah pada Lucas.

"Hm, terserah Eliana saja. Aku tidak mungkin memaksakan nya jika dia tidak mau," jawab Lucas yang kemudian menyenggol lengan Eliana.

"I-- itu, ba-- baiklah, ayo kita bicara sebentar. Lucas, kau tunggu di seberang sana, aku tidak akan lama," tutur Eliana dengan nada merendah.

"Baiklah,"

"Aku tidak percaya Riu akan lebih dulu menemui ku. Aku sangat merindukan nya, tidak bisa kah kau memutuskan hubungan mu dengan Bomi?" Pikir Eliana sembari bergumam.

Lucas kemudian berjalan menjauh dari Eliana agar tak dapat mendengar percakapan antara keduanya. Begitu mengetahui bahwa Lucas sudah berada di seberang, Riu pun memulai pembicaraan nya dengan Eliana.

"Apa kau tau, apa yang ku rasakan saat mengetahui bahwa kau mempunyai sahabat laki-laki selain aku?" tanya Riu dengan raut wajah cemas.

"Ah, te-- tentu saja tidak. Memangnya ada apa?" Eliana berbalik tanya.

"Aku merasa kecewa, aku sangat-sangat kecewa saat mengetahui hal itu dari teman-teman sekelas mu. Bisakah kau menjauh darinya?" ungkap Riu masih dengan raut wajah cemas nya.

"Apa Riu cemburu karena aku berteman dengan Lucas? Bagaimana bisa dia seperti itu?! Sedangkan aku ... dia bahkan tidak memikirkan perasaan ku sedikitpun," ucap Eliana dalam hatinya seraya menekan dada nya untuk menahan rasa sakit.

"Eliana? Kau mendengar ku, kan?"

"Kau ... bagaimana bisa kau berbicara seenaknya seperti itu?" tandas Eliana yang tanpa disadari meneteskan air mata hingga membasahi pipi nya.

"E-- Eliana! Jangan menangis, aku minta maaf jika bersalah!! Tolong jangan menangis," Riu kemudian memegangi dengan erat pergelangan tangan Eliana dan dibawanya mendekat ke sebuah kursi panjang.

Keduanya terduduk dan saling berdiam diri, namun pandangan Riu sama sekali tak terlepas sedikitpun dari wajah Eliana. Ia memperhatikan dengan seksama sosok gadis di hadapannya yang tengah menangis karenanya.

"Riu, aku tau kita sudah berteman lama. Kau adalah satu-satunya sahabat ku yang terbaik, itu yang sejak dulu aku pikirkan," cakap Eliana membuka keheningan yang cukup panjang di antara keduanya.

"Apa maksud mu, Eliana?"

"Yang aku maksud adalah, walaupun kita sudah menjadi sahabat sejak lama, tapi tidak seharusnya kau berbuat seenaknya pada ku," tegas Eliana yang kemudian bangkit dari kursi.

Riu ternganga mendengar perkataan Eliana yang sama sekali belum pernah diucapkan dari mulut gadis itu padanya. Perlahan Eliana berjalan menjauhi sosok Riu yang tengah berbicara empat mata dengan nya.

Lucas yang menyadari bahwa perbincangan antara Eliana dengan Riu telah usai, spontan tangan nya melambai-lambai pada Eliana. Ia membalas lambaian tangan itu dengan senyuman lebar walau tak mampu menipu siapapun begitu melihat matanya.

"Sepertinya lelaki itu sudah membuat Eliana menangis. Tapi aku juga tidak berhak untuk bertanya padanya. Lebih baik sekarang aku menenangkan nya dulu," pikir Lucas dengan tatapan yang tak lepas dari Eliana.

......................

Langit gelap mulai menyelimuti bumi, namun dengan adanya cahaya bulan mampu membuat jalanan terlihat terang.

***Tuk! Tuk! Tuk*

**Drrrttt*****

Sebuah panggilan masuk pada ponsel yang sedang genggam oleh Eliana. Nama yang tertera di layar ponsel membuatnya enggan untuk mengangkat panggilan tersebut.

Ia menghela nafas panjang seraya meletakkan ponselnya di atas meja belajar yang berada di dalam kamar. Namun ...

*TOK! TOK! TOK!*

Tiba-tiba saja pintu kamarnya terdengar, sesegera mungkin ia bangkit dari ranjangnya untuk membukakan pintu tersebut.

"Ah, Kakak? Ada apa?" tanya Eliana dengan memasang raut wajah sederhana.

"Ada Riu di depan, dia mencari mu. Katanya dia menelepon mu berkali-kali, tapi tidak diangkat," tutur Irena.

"Apa?! Ri-- Riu?" tanya Eliana memastikan bahwa pendengaran nya tidak bermasalah.

"Iya, cepatlah keluar dan ajak dia untuk masuk. Dia terlihat kedinginan," perintah Irena sambil menodongkan tangan nya ke arah pintu masuk.

"I-- iya, baiklah kak,"

Tanpa berpikir panjang, Eliana segera membukakan pintu untuk Riu yang katanya ingin bertemu dengan nya. Perlahan ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Riu yang tengah memandangi bintang di langit.

"Ada apa kau ke sini?" tanya Eliana dengan raut wajah dingin.

"Bintang yang bersinar indah bukan?" cakap Riu berusaha untuk berbasa-basi.

"Lebih baik kau masuk, di sini sangat dingin," papar Eliana sembari menarik lengan Riu untuk dibawanya masuk ke dalam rumah.

"Tidak usah, aku hanya ingin melihat mu sebentar saja, tidak akan lama," sanggah Riu yang kemudian berusaha melepaskan tangan Eliana dari lengan nya.

"Setidaknya pakai lah ini, di luar sangat dingin," cakap Eliana seraya memakaikan syal pada Riu.

"Terima kasih, kau memang tidak pernah berubah. Aku bersyukur bisa mempunyai sahabat seperti mu," lontar Riu dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.

...----------------...

10 tahun yang lalu, keduanya berasal dari keluarga dengan orang-orang ber derajat tinggi yang selalu dihormati oleh banyak orang. Namun tak lama setelah ayah Eliana membuat proyek yang dirasa akan berhasil, tiba-tiba saja proyeknya mengalami kegagalan hingga membuat seluruh aset termasuk perusahaan yang telah dikembangkan nya selama bertahun-tahun terpaksa dilepaskan.

Mulai saat itulah kehidupan Eliana yang baik-baik saja terbalik 180°. Karena terlalu frustasi akan kegagalan itu, ayah Eliana mulai mabuk-mabukan hingga tak perduli akan kehidupan keluarganya.

Mengetahui bahwa keluarga Eliana tengah berada di ujung tanduk, keluarga Riu yang masih menjadi keluarga berada selalu berusaha untuk membantu mereka.

Namun ibu Eliana yang tak ingin menyusahkan sahabatnya itu terpaksa menolak pemberian yang sudah pasti akan membangun kembali kejayaannya.

𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!