Episode 10-Mengisi Kekosongan

Suara bising kembali terdengar dari dalam ruangan labolatorium. Begitu juga dengan udara yang terasa semakin sesak untuk dihirup.

Eliana berkumpul dengan beberapa teman sekelasnya, walaupun tidak semua namun cukup banyak untuk dijadikan sebuah kelompok. Ia kemudian menulis nama anggota kelompok nya yang terdiri atas dirinya, Lucas, Clau, Amber dan Yun.

Seorang guru berjalan mendekat ke arahnya, ia memperhatikan dengan sangat teliti nama anggota kelompok yang baru saja di tulis oleh Eliana.

"Hmm, siapa yang menulis ini?" tanya guru tersebut sembari memperhatikan satu persatu di antara mereka berlima.

"Sa-- saya," jawab Eliana seraya mengangkat tangan.

"Kelompoknya hanya terdiri dari 3 orang. Silahkan satu persatu dari kalian mengambil kertas yang sudah dilipat didepan. Lalu cari orang-orang dengan nomor yang sama seperti kalian," perintah guru tersebut memberikan instruksi.

Mereka berlima sontak saling menatap satu sama lain, hingga tertawa lepas. Namun tidak dengan Lucas yang hanya terdiam melihat perilaku teman-temannya termasuk Eliana.

"Nomor tiga belas! Aku harus mencari dua orang dengan angka tiga belas," Pikir Eliana dalam hati. Ia kemudian berjalan ke sana kemari mencari orang yang angkanya sama dengan angka yang ia dapatkan.

"Maaf," ucap seseorang membuat Eliana menoleh.

"Aku hanya ingin bertanya padamu, apa kau tau siapa saja orang yang mendapat angka tiga belas?" tanya orang itu yang tak lain adalah Riu.

"A-- apa?!! Tiga belas katanya!! Tidak! Ini tidak mungkin, bagaimana bisa kami satu kelompok?!!" Eliana bergumam, ia kemudian menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.

"A-- aku, aku orangnya," jawab Eliana memalingkan pandangan nya ke tempat lain.

"Oh, bagus lah," kata Riu yang sontak membuat Eliana kembali menatap wajahnya itu. Riu tak memberikan ekspresi apapun.

"Bagus apanya?!!"

"Jangan salah paham, yang aku maksud bagus itu karena aku satu kelompok dengan orang yang aku kenal," cakap nya memberi penjelasan.

Eliana menghembuskan nafas panjang, ia menatap setiap sudut ruangan yang tak berubah sama sekali.

"Baiklah, sisa satu orang lagi," ujarnya.

"Eliana, tadi Clau bilang kau mendapat angka tiga belas?" tanya Lucas yang tiba-tiba saja berada di belakangnya.

"Kau ... mendapat angka itu juga?"

"He'em,"

...****************...

Hari pun berlalu, sebelum tugas itu dilaksanakan, sekolah mereka mengadakan libur selama 6 hari untuk kelas 12. Tentu hal itu dimanfaatkan oleh Eliana untuk mengambil kerja part-time di minimarket yang lokasinya tak jauh dari komplek perumahan nya.

"Heuh, semoga aku di terima bekerja di sana untuk 6 hari ke depan," ucap Eliana seraya mengenakan blouse rajut nya.

"Sudah jam berapa ya, sekarang?" Pikirnya, kedua bola matanya menatap sebuah jam yang terpampang di dinding rumah.

Waktu menunjukkan pukul 08.15, Eliana segera bergegas menuju tempat tujuan untuk melamar pekerjaan.

Walaupun sebenarnya merasa ragu untuk mencoba, namun dengan keadaan kakaknya yang hanya mabuk-mabukan setiap hari tentu tak bisa diandalkan.

Ia berjalan mengikuti irama langkah kakinya. Perlahan menghirup dan membuang nafas panjang. Ia membuka sebuah pegangan pintu yang terdapat pada pintu minimarket tersebut.

Kedua bola matanya melihat setiap sudut ruangan untuk memastikan apakah ada orang yang sedang berjaga di sana.

"Permisi ... " ucap Eliana pada seorang lelaki yang tengah berada di meja kasir.

"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sambil tersenyum lebar pada Eliana.

"Sa-- saya ingin bertemu dengan pemilik minimarket, apakah ada?"

"Oh, saya pemiliknya," jawab lelaki itu dengan raut wajah berseri-seri.

"Apakah Anda ada waktu sebentar? Saya ingin berbicara sesuatu pada Anda," ujar Eliana ragu.

"Baiklah, ayo duduk di sana,"

Keduanya pun berjalan menuju sebuah meja yang terdapat beberapa kursi di sampingnya.

"Sebenarnya kedatangan saya ke sini untuk melamar pekerjaan, tapi saya hanya bisa bekerja selama 6 hari ke depan," kata Eliana tanpa berbasa-basi.

"Oh, kerja paruh waktu, ya ... hm,, bagaimana, ya? Boleh saja, kau bisa mengambil bagian pagi, siang, atau malam?" tanya nya memastikan.

"Saya akan mengambil waktu pagi saja, pak,"

"Jadi, mulai kapan kau mau bekerja? Hari ini?"

"Tidak, saya akan bekerja mulai besok. Tapi apa boleh saya meminta gaji setiap harinya saja?" tanya Eliana.

"Hmm, baiklah. Gaji mu selama satu hari 50.000, bagaimana?"

"Huh, aku kira akan mendapat uang banyak. Tapi ternyata gaji ku selama satu hari saja hanya 50.000, bagaimana aku bisa menghidupi diri ku sendiri?" Gumam Eliana dengan raut wajah yang tak enak di pandang.

"Hai? Bagaimana?"

"Ah, ba-- baiklah, kalau begitu saya permisi," ucap Eliana seraya bangkit dari kursinya.

Ia kemudian keluar dari minimarket tersebut. Nampak seorang lelaki sedang melambaikan tangan padanya. Ia menatap lelaki itu dari kejauhan, namun tak diketahuinya siapa lelaki tersebut.

Eliana kemudian menyeberangi jalanan yang padat di penuhi oleh kendaraan bermotor juga mobil.

"Mau ke Cafe?" tanya seseorang membisikkan sesuatu pada telinganya. Eliana sontak terkejut.

Ia membalikkan badan nya dan mendapati Lucas yang tengah bermain ponsel dan mengenakan headset.

"Tadi kau, ya?" tanya Eliana memastikan.

"Hmm, benar ... " jawab Lucas tanpa menatap wajah Eliana sedikitpun.

"Dia aneh sekali. Kadang-kadang sifatnya manis, tapi kadang-kadang juga dingin seperti es batu!" Gumam Eliana dengan raut wajah kesal.

Ia berjalan mendahului Lucas, yang akhirnya membuat jarak mereka semakin menjauh.

"Tidak usah terburu-buru jalan nya," ujar Lucas yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya.

"Aish! Sudahlah, jangan menggangguku!! Jika ada yang ingin kau katakan, sampaikanlah sekarang. Aku tidak punya banyak waktu," tandas Eliana seraya berbalik badan menatap Lucas.

"Aku mengajak mu ke Cafe, tapi kau tidak menjawabnya. Jadi itu salahmu, kan?"

"Eh? Benar juga. Sepertinya tadi dia sudah mengatakan nya pada ku,"

"I-- iya, baiklah. Tapi kau yang traktir, ya,"

"Tentu saja,"

Mereka berjalan mengelilingi bangunan bangunan yang nampak asri untuk mencari Cafe yang suasana nya cocok dengan cuaca pagi ini.

Tentu mereka menemukan Cafe itu dengan cepat.

"Selamat datang, kalian ingin memesan apa?" tanya karyawan di sana sambil memberikan buku menunya pada Eliana juga Lucas.

"Aku cappucino saja," kata Eliana seraya menyerahkan buku menunya pada Lucas.

"Aku juga,"

"Baiklah, silahkan tunggu sebentar. Pesanan nya akan sampai dalam 5 menit," kata karyawan tersebut sembari tersenyum lebar pada keduanya.

Selang beberapa waktu, minuman yang di pesan mereka pun datang. Eliana yang sudah kehausan lantaran mataharinya begitu terik, langsung menyeruput minuman di hadapannya tanpa henti.

Lucas menatapnya dengan pandangan aneh. Namun ia tak menggubris hal itu, ia kembali mendengarkan musik dari ponsel nya dengan tenang.

𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!