Hembusan angin masuk melalui celah jendela yang terbuka lebar di kelas Eliana. Jantungnya berdetak kencang setiap detik. Tubuhnya juga bergetar hebat hingga bercucuran keringat dingin.
"Eliana!!" teriak Clau yang berlari ke arahnya.
"A-- ada apa?" tanya Eliana sedikit terbata-bata.
"I-- itu, kau dipanggil ke ruang BK. Bu Siera sudah menunggu mu," tutur Clau yang kemudian menarik keras lengan Eliana.
...----------------...
Eliana memasuki sebuah ruangan yang bahkan belum pernah dimasukinya sekalipun. Ia berjalan dengan langkah kaki yang kecil. Nampak beberapa orang yang tengah terduduk sambil menatapnya dengan sinis.
"Eliana, tolong jelaskan pada Ibu, apa yang membuatmu mendorong Bomi dari tangga?" lontar Bu Siera dengan wajah kesal.
"Sa-- saya tidak melakukan hal itu, Bu. Semua ini hanya salah paham, jelas-jelas tadi saya hanya berpapasan dengan nya saja," sanggah Eliana yang kemudian menatap seorang gadis yang tak lain adalah Luisa, sahabat Bomi.
"Jangan memfitnah ku seperti itu! Ini semua hanya rencana kalian, kan?!!!" seloroh Eliana sembari menunjuk Luisa dengan jari telunjuk nya.
"Hei! Kau keterlaluan sekali! Padahal sudah jelas bahwa kau sengaja mendorong nya!" timpal Luisa dengan nada meninggi.
*BRAK!*
"Eliana tak mungkin melakukan hal itu, apa yang dikatakan olehnya adalah fakta," tutur Lucas yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan BK.
"Sudah, sudah! Karena tidak ada bukti yang jelas bahwa kau tidak bersalah, terpaksa saya harus menghukum mu, Eliana. Sepulang sekolah nanti kau harus membersihkan taman belakang sekolah," perintah Bu Siera sambil menggelengkan kepalanya.
Eliana terdunduk, ia kemudian mengangguk kecil dan berjalan keluar ruangan bersamaan dengan Lucas.
Di sisi lain, Bomi yang baru saja terjatuh dari tangga langsung dibawa ke ruang UKS oleh Riu yang saat itu tak sengaja melihat nya.
"Apa masih terasa sakit?" tanya Riu yang baru saja selesai mengobati luka Bomi.
"Ugh ... ini masih sakit ... " keluh Bomi dengan manja.
Seketika Riu mengepalkan kedua tangan nya, ia membayangkan Eliana yang sebelumnya ia kenal dengan sosok malaikat nya. Namun kini Eliana yang ia anggap sebagai malaikat ternyata menyakiti kekasihnya sendiri.
*KRING!!*
"Ah, bel nya sudah berbunyi. Aku tidak mungkin meninggalkan pelajaran. Apa kau masih mau berada di sini?" tanya Riu memastikan.
"Ti-- tidak, jika kau tidak keberatan, hmm ... apa kau bisa menggendong ku sampai ke kelas?" pinta Bomi.
"Tidak masalah, ayo naik ke punggung ku,"
Suara bel yang masuk saja berbunyi dengan nyaring sontak membuat seluruh siswa siswi langsung berebut pintu ke kelas mereka masing-masing. Begitu juga dengan Eliana, Lucas, Riu dan juga Bomi.
Tak disangka, perjalanan menuju kelas mempertemukan antara Eliana dan juga Riu dari arah yang berlawanan.
Tatapan mata Riu tak bisa membohongi perasaan nya saat ini, begitu juga dengan Eliana.
Keduanya seperti melakukan perang Dingin yang sebelumnya tidak pernah terjadi di antara mereka. Eliana yang merasa kasihan pada Riu lantaran sedang menggendong Bomi pun mempersilahkan nya untuk lebih dulu masuk.
"Terima kasih," ucap Riu dengan raut wajah dingin. Eliana tak menggubris ucapannya itu, ia berdalih menatap Lucas yang sedang berdiri tepat di belakangnya.
...----------------...
Tak terasa waktu pulang sekolah pun tiba, Eliana yang mendapatkan hukuman pun terpaksa pulang lebih akhir dari biasanya.
"Maaf, aku tidak bisa membantu mu, Eliana," ucap Clau yang merasa bersalah lantaran tidak bisa membantu sahabatnya.
"Tidak masalah, lagipula ini juga hukuman ku," lontar Eliana sambil memperlihatkan senyuman khas nya.
"Ugh, kau memang yang terbaik. Baiklah, aku pulang dulu, ya. Hmm ..., Lucas, jangan lupa bantu dia!" celetuk Clau sedikit bercanda. Ia kemudian berjalan keluar dari ruangan kelas dan meninggalkan Eliana dan Lucas berdua saja.
"Butuh bantuan?" tanya Lucas sambil tersenyum licik.
"Ayolah ..., aku tidak punya banyak waktu untuk bercanda dengan mu!" ketus Eliana.
Keduanya berjalan menuju taman belakang sekolah yang nampak sepi. Tempat itu memang jarang dikunjungi oleh siswa-siswi lantaran tempatnya yang cukup terpencil.
Namun karena hal itu juga, membuat hukuman Eliana terasa lebih ringan dari dugaan nya.
"Kau bersihkan yang sebelah sana, biar aku pungut dulu sampah-sampah yang ada di sini," cakap Eliana menginstruksikan. Lucas hanya mengangguk, dan setelahnya mengerjakan apa yang telah di instruksikan oleh Eliana.
Selang beberapa waktu, akhirnya hukuman Eliana pun berakhir setelah ia usai membersihkan taman belakang sekolah.
"Lu--"
Wajahnya memerah bak orang sakit begitu wajah mereka saling berdekatan. Jantung Eliana berdebar kencang lantaran menatap wajah Lucas dari jarak yang begitu dekat. Namun tidak dengan Lucas yang hanya terdiam.
"Menjauh!!!" teriak Eliana sembari mendorong tubuh Lucas yang sama sekali tak berpindah tempat.
"Tenaga mu lemah juga, ya," lontar Lucas sedikit meledek.
"Lama-lama aku bisa gila karenanya! Huh, tadi jantungku hampir copot!" Batin Eliana sedikit bergumam.
Langit terlihat semakin gelap, ditambah awan hitam yang menggumpal di langit membuat suasana seperti berada di dalam film horor. Keduanya pun memutuskan untuk segera pulang sebelum hujan turun.
Begitu sampai tepat di depan rumah Eliana, ia mendapati sosok Riu yang tengah berdiri di depan rumahnya.
Eliana menghentikan langkah kakinya di ikuti oleh Lucas yang berjalan mengikutinya dari arah belakang.
"Ada apa?" tanya Lucas sembari menatap wajah Eliana.
"Kau ... pulang lah, lagipula aku sudah sampai. Besok kita bisa bertemu lagi," tandas Eliana yang dalam sekejap merubah raut wajahnya.
"Ah, ternyata karena ada lelaki itu, ya?"
"Baiklah, sampai jumpa besok pagi," Ucap Lucas seraya melambai-lambai kan tangannya, Eliana pun membalas lambaian tangan Lucas.
"Kenapa kau ada di sini? Pulang lah, aku khawatir ada rumor aneh yang menyebar lagi," cetus Eliana yang terus berjalan mendekat ke sebuah pintu.
Ia meraih pegangan pintu untuk membukanya, namun inisiatif nya itu seketika terhenti sesaat Riu membuka mulut dan mengatakan sesuatu.
"Kedatangan ku ke sini bukan untuk bicara baik-baik lagi dengan mu, melainkan ingin menegur mu karena sudah berani menyakiti Bomi,"
"Heuh, ternyata kau tidak ada bedanya dengan yang lain. Riu ... kau benar-benar sudah tenggelam dalam cinta mu itu," ujar Eliana yang kemudian berdalih menatap sahabatnya itu.
"Jangan berbohong pada ku! Jelas-jelas Bomi terluka karena mu!!!" bentak Riu yang sontak membuat hati Eliana terhenyak.
"Riu ... salahkan saja kekasih mu itu. Jangan salahkan aku yang bahkan tidak tau apa-apa,"
"Ternyata kau masih berani beralasan di depanku. Baiklah, ke intinya saja. Mulai sekarang, persahabatan kita selesai! Jangan pernah mendatangi ku!"
Eliana terdiam, ia menatap gelapnya langit yang sama dengan suasana hatinya saat ini. Tanpa mengatakan apa-apa, ia tersenyum kecut karena merasa kecewa lantaran Riu memutuskan hubungan persahabatan mereka yang sudah berlangsung selama 17 tahun.
"Baiklah, jika itu memang keputusan mu. Tapi jangan pernah menyesal karena kau sudah memutuskan hubungan persahabatan kita," tandas Eliana tanpa berekspresi.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments