Episode 12-Kenapa?

Sinar matahari menembus masuk ke kamar Eliana melewati jendela. Perlahan ia membuka kedua bola matanya dan menatap terangnya sinar matahari pagi.

Eliana melihat ke setiap sudut ruangan kamar yang berbeda dari biasanya, ia kemudian tersadar bahwa semalam ia menginap di rumah Lucas. Tangan nya meraih sebuah ponsel yang ditaruh nya di atas meja kecil.

"Sudah jam setengah tujuh!!' teriak Eliana yang kemudian bangkit dari ranjangnya.

Kakinya berjalan ke sana kemari mencari sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar mandi. Nampak sebuah ruangan yang tertutup rapat, lalu dipikir nya tempat itu adalah kamar mandi. Benar saja, Eliana pun bergegas membersihkan dirinya dengan sabun mandi yang tersedia di kamar mandi tersebut.

Setelah cukup lama sibuk dengan sabun mandinya, Eliana pun meraih sebuah handuk yang juga telah tersedia. Ia perlahan melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.

...----------------...

Selang beberapa waktu, Eliana turun dari lantai atas dimana kamarnya berada untuk mencari Lucas. Nampak seseorang sedang berdiri tegak menatap sebuah pemandangan taman yang indah. Eliana pun menghampiri nya.

"Lucas ... " panggil Eliana sambil berjalan mendekati Lucas.

"Kau sudah bangun?"

"He'em ... "

"Ayo masuk, kita sarapan dulu," ajak Lucas seraya meraih lengan Eliana untuk dibawanya masuk kembali ke dalam.

"Tidak, aku sudah terlambat untuk pergi bekerja. Nanti saja aku sarapan. Ngomong-ngomong terima kasih sudah membiarkan ku tinggal di sini. Aku pergi dulu ... " ucap Eliana seraya melambaikan tangan nya pada Lucas.

Perlahan dirinya menjauh dan hilang dari pandangan mata Lucas hanya dalam sekejap.

......................

Eliana berlari sekencang mungkin saat hendak menyeberangi jalan raya yang dipenuhi oleh berbagai kendaraan. Ia kemudian memasuki minimarket dimana tempat dirinya bekerja.

"Ah, selamat pagi, Pak," ucap Eliana pada sang pemilik toko.

"Aku pikir kau akan terlambat di hari pertama mu bekerja. Tapi ternyata kau tepat waktu. Baiklah, sekarang kau boleh mulai bekerja," cakap bapak pemilik toko yang kemudian pergi meninggalkan Eliana untuk fokus bekerja.

"Huh, aku memang hampir terlambat, sih. Tapi untungnya ada orang baik hati yang mau mengantarkan ku," Batin Eliana sambil tersenyum kecil.

Eliana mengenakan sebuah luaran yang digunakan khusus untuk pekerja di minimarket tersebut. Ia kemudian menempatkan dirinya di meja kasir sambil menata beberapa barang-barang di belakangnya.

......................

Tepat pukul 12.00, Eliana berkemas. Ia mengambil tas kecil yang berisikan ponsel miliknya.

"Ugh, akhirnya pekerjaan ku selesai juga," ujarnya sembari menggeliat.

"Ini upah mu hari ini," kata bapak pemilik toko seraya menyerahkan uang sejumlah lima puluh ribu untuk Eliana yang telah bekerja keras.

"Ah, baik. Terima kasih, pak," ucap Eliana dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.

Kakinya melangkah keluar dari minimarket dan mendapati Lucas yang tengah berdiri di samping pintu tersebut. Ia kemudian menarik tangan Eliana dengan lembut.

"Kita mau ke mana?!" tanya Eliana sambil berjalan tak beraturan.

"Ikuti saja,"

Eliana menghentikan langkah kakinya tepat di sebuah taman yang tak nampak satupun orang berada di sana. Lucas mengarahkan jalan untuknya dan mendekat pada sebuah ayunan.

"Hmm??"

"Makanlah, kau pasti lapar karena belum sarapan tadi pagi," kata Lucas sembari mengulurkan tangan nya memberikan sebuah roti serta susu pada kantung plastik.

"Eh? Aku pikir apa," seru Eliana yang kemudian menerima makanan pemberian Lucas.

Ia melahap nya dengan cepat, hingga tak ada satupun yang tersisa.

...****************...

5 hari telah berlalu begitu cepat, hari ini tentu menjadi hari pertama siswa kelas 12 SMA Kongjae untuk memulai pembelajaran setelah diliburkan selama 6 hari.

**KRING!!!!***

Sebuah alarm berdering dengan suaranya yang nyaring. Dengan cepat Eliana mengunci alarmnya agar tidak terus berbunyi.

Perlahan ia membuka kedua bola matanya sambil beberapa kali membersihkan kotoran-kotoran yang mengganggu penglihatan nya.

Hanya dalam waktu 15 menit, Eliana sampai di sekolahnya dengan berjalan kaki. Tapi tentunya, ia pergi ke sekolah bersama dengan Lucas yang setiap pagi datang ke rumahnya.

**DUK!!**

Seseorang menyenggol bahunya dengan keras saat berpapasan di koridor. Ia menoleh untuk memastikan siapa yang telah melakukannya, dan ternyata Bomi adalah pelakunya.

"Cih!! Padahal jalan sebesar ini cukup untuk 5 orang, tapi sepertinya tubuhnya terlalu besar hingga menabrak ku," celoteh Eliana dengan raut wajah kesal.

Ia melanjutkan jalan nya dengan anggun. Namun siapa kira? Begitu Eliana berbelok ke lorong lain, ia berpapasan dengan Riu. Dan kali ini dirinya lah yang tak sengaja menabrak orang lain.

"Ah, ma-- maaf, aku tidak sengaja," ucap Eliana sambil beberapa kali membungkuk kan badannya.

"Tidak apa-apa, lain kali berhati-hatilah saat berjalan," tegur Riu dengan lembut.

"Ah, hmm ... "

"Bukan lah sekarang kalian bukan siapa-siapa lagi? Kenapa kau masih memperhatikan Eliana?" tandas Lucas yang merasa kesal mendengar perkataan Riu.

"Apa hubungannya dengan mu? Ini urusan ku!!"

"Ternyata urusan mu rumit juga, ya," imbuh Lucas yang terus berusaha membuat Riu kesal.

Riu tak menggubris perkataan nya, ia hanya membalas perkataan Lucas dengan tatapan sinis yang baru pertama kali ditunjukan nya.

...----------------...

Pelajaran pertama berlangsung cukup lama, hingga akhirnya bel pelajaran kedua pun berbunyi. Semua siswa-siswi kelas 12#2 dimana kelas Eliana berada mengganti pakaian mereka.

Karena setelah ini adalah pelajaran olahraga. Begitu juga dengan Eliana sendiri.

Hanya dalam waktu beberapa menit, semua siswa-siswi telah berkumpul di lapangan olahraga, termasuk Eliana.

"Hai!!! Awas!!!"

Nampak sebuah bola meluncur ke arahnya, Eliana yang tak menyadarinya sejaK awal hanya terdiam begitu bola nya hendak menghantam kepalanya.

**BUGH!*

"Kau tidak apa-apa?" tanya Riu yang tiba-tiba saja muncul untuk menyelamatkan nya.

"Ri-- Riu?" Wajah Eliana memerah lantaran Riu memegangi tubuhnya dengan erat.

Terdengar sorak-sorai dari kelas mereka yang melihat hal itu.

Namun tidak dengan Bomi yang kemudian mengepalkan kedua telapak tangan nya karena geram. Ia berjalan mendekati Riu dan juga Eliana yang tengah menjadi pusat perhatian.

"Riu!!" panggil Bomi dengan suara lantangnya.

"Ah, ma-- maaf. Aku tidak berniat untuk melakukan nya," ucap Riu sambil melepaskan tangan nya dari tubuh Eliana.

"Kenapa kau menolong ku?" tanya Eliana yang tak ingin ada kesalah-pahaman di antara mereka.

"Kebetulan aku lewat saat akan pergi ke perpustakaan, kembalilah berolahraga," cakap Riu dengan wajah dingin bak es dalam freezer.

Nampak sebuah senyuman sinis yang diperlihatkan oleh seseorang yang lokasinya tak jauh dari tempat dimana Eliana sedang bersama dengan Riu. Ia kemudian berjalan menjauhi kerumuman orang-orang yang tengah berolahraga.

𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!