Episode 17-Pertemuan Tak Di Sengaja

Langit sudah mulai gelap, suasana di gedung sekolah pun terasa semakin mencekam. Eliana bersandar pada bahu Lucas setelah cukup lama berusaha untuk membuka pintu.

**Kryukukk**

Terdengar suara yang berasal dari perut Eliana. Lucas berdalih menatapnya dengan tatapan heran. Ia kemudian mengeluarkan sebungkus ginseng dari saku jasnya.

"Makanlah," kata Lucas seraya mengulurkan tangannya memberikan sebungkus ginseng pada Eliana.

"Untukku?" tanyanya memastikan.

"Hmm, makanlah,"

"Tapi ... bagaimana dengan mu? Kau juga pasti kelaparan, kan?" sergah Eliana dengan raut wajah keheranan.

"Tidak apa-apa, aku bisa menahan lapar bahkan sampai 1 bulan," lontar Lucas yang terdengar seperti candaan bagi Eliana.

Ia kemudian memakan ginseng yang diberikan oleh Lucas padanya.

Cukup lama setelah ia menelan ginseng pemberian Lucas itu, rasa laparnya kembali terasa.

"Huh, sepertinya kau perlu banyak makanan, ya ... " kata Lucas sembari menghela nafas panjang.

Eliana hanya membalas perkataan nya dengan senyuman kecil lantaran ia malu akan hal itu. Masih disibukkan dengan obrolan itu, tiba-tiba saja ruangan yang sedari tadi gelap kini disinari oleh cahaya lampu yang tiba-tiba saja menyala.

"Apa mungkin penjaga sekolah sudah mulai berkeliling ... " ujar Eliana penuh harapan.

"Entahlah, berdo'a saja pada Tuhan agar perkataan mu menjadi kenyataan," timpal Lucas yang tak begitu peduli akan harapan Eliana.

Selang beberapa waktu, nampak seorang lelaki yang mengenakan topi mendekati ruangan musik. Mendengar ada jejak kaki yang mendekat, Eliana pun berteriak meminta tolong.

"Pak!!!! Tolong kami!!! Kami terjebak di dalam ruang musik!!" teriaknya yang sukses membuat bapak penjaga mendengarnya.

*Glek*

"Sejak kapan kalian terkunci di dalam sini?" tanya bapak penjaga sambil berjalan mendekati keduanya yang tengah terduduk.

"Sejak pagi, pak. Ada yang sengaja menjebak saya dan mengunci saya di sini. Untungnya ada Bapak, jadi kami bisa selamat," cakap Eliana seraya berdiri.

Bapak penjaga pun memperlihatkan senyuman lebar yang mengembang di wajahnya. Ia kemudian menyuruh mereka untuk segera kembali ke rumah masing-masing sebelum orang tua mereka merasa khawatir.

"Huh, untunglah kita selamat," ucap Eliana saat berjalan menyeberangi jalanan yang nampak ramai di penuhi oleh kendaraan.

"Apa kau mau makan di Restoran lebih dulu? Sepertinya kau masih lapar," seloroh Lucas sambil menatap wajah Eliana dari samping.

"Memangnya kau membawa banyak uang?"

"Tenang saja, aku selalu membawa banyak uang kemana pun aku pergi. Jadi kau tidak perlu khawatir akan hal itu," tandas Lucas dengan senyuman sinis di wajahnya.

"Baiklah kalau begitu, ayo ke Restoran yang mahal!"

"Lihat bagaimana kau akan kewalahan membayarnya, haha ... seru sekali mengerjai Lucas yang terlalu polos," ucap Eliana dalam hatinya.

...----------------...

Keduanya memasuki ruangan VVIP yang nampak lebih mewah di bandingkan dengan ruangan yang lain. Eliana melihat sekeliling tempat yang hanya terdapat beberapa orang saja di dalamnya.

Terlihat pelayan yang berjalan mendekati meja dimana mereka sedang duduk. Pelayan itu memberikan buku menu di tangannya pada Eliana.

Tangannya mendadak bergetar hebat begitu membaca daftar harga pada buku menu yang dipegang nya. Ia menelan ludah dengan berat dan menatap Lucas yang duduk berhadapan dengan nya.

"Lu-- Lucas, apa kau yakin bisa membayar makanan di sini?" tanya Eliana berbisik pada telinga Lucas.

"Huh, anak remaja ada-ada saja, ya. Sudah tau ada orang dewasa di sampingnya, tapi mereka masih bisa melakukan hal romantis," gumam pelayan Restoran tersebut sembari menggelengkan kepalanya.

"Jika aku tidak bisa, apa kau mau menambahkan uangmu?" ledek Lucas yang sontak merubah raut wajah Eliana.

"Aku menyesal telah mengerjai nya untuk makan di Restoran mahal ini. Semoga saja uang nya tidak kurang," batin Eliana dalam hati seraya menutup kedua matanya.

Tak lama setelah mereka memesan makanan, pesanan mereka pun dihidangkan. Eliana melahap makanan di hadapannya dengan penuh keraguan.

"Kenapa kau seperti itu?" tanya Lucas sambil melahap makannya.

"A-- aku khawatir uang mu tidak cukup untuk membayar makanan yang kita pesan di Restoran ini," celetuk Eliana dengan kepala yang tertunduk.

"Jangan khawatir, pesan saja sebanyak yang kau mau. Aku akan membayarnya tanpa membebankan mu,"

"Sebenarnya dia itu sedang ber pamer atau menyindir ku, sih?" pikir Eliana.

Ia melihat setiap sudut ruangan di ruang VVIP tersebut. Tak hanya sudut ruangan saja yang diperhatikan nya satu persatu, melainkan orang-orang yang juga berada di dalamnya.

*Deg?!!!**

Hatinya terhenyak begitu mendapati sosok Riu yang tengah makan malam bersama dengan Bomi di satu ruangan yang sama dengannya. Perlahan ia meletakkan garpu yang digunakan nya untuk melahap makanan.

"Ada a-- ... " Lucas menghentikan perkataan nya begitu menyadari bahwa Riu juga berada di sana.

Mengetahui kalau Bomi sengaja melakukan hal romantis dengan Riu di hadapan Eliana, secara spontan Lucas mendekatkan wajahnya pada Eliana.

"Kau melihat apa, ha?"

"He-- hei! Jauhkan wajahmu!!" cetus Eliana sembari mendorong bahu Lucas.

"Kau kesal kan, melihat mereka bahagia seperti itu tanpamu? Lakukanlah dengan ku, jangan pedulikan mereka," ucap Lucas sembari tersenyum sinis.

"Ke-- kenapa dia berbicara seakan peduli padaku? Di-- dia tidak mendengar detak jantungku, kan?"

Perlahan wajah Eliana memerah lantaran Lucas bersikap seolah dia adalah kekasih Eliana.

"Apa kau sakit? Kenapa wajahmu memerah?" tanya Lucas berpura-pura tidak tau apa yang terjadi.

"Hentikan!! Kau membuat ku berpikir yang tidak tidak,"

"Haha, baiklah ... habiskan makanan mu, kita harus segera pulang," kata Lucas seraya meraih kembali sendok nya yang beberapa waktu lalu diletakan.

Di sisi lain, Riu yang baru saja menyadari bahwa Eliana berada di dekatnya pun menghentikan sikap baiknya pada Bomi. Ia kemudian beranjak dari kursinya dan menghampiri Eliana yang tengah makan malam bersama dengan Lucas.

"Eliana, ternyata kau ada di sini?" sapa Riu sambil tersenyum kecil.

"Eh ... i-- iya," sahut Eliana yang kemudian berdalih menatap orang lain.

"Riu, kenapa kau ke sini? Bukan kah kau sedang makan bersama ku?" kata Bomi yang tiba-tiba saja berada di belakang Riu.

Perlahan ia memegangi bahu Riu yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nya. Nampak raut wajah Riu yang tak biasa diperlihatkan nya.

"Jangan menyentuhku tanpa seizin dari ku!!" tegur Riu yang sontak membuat Bomi serta Eliana ternganga.

"Ke-- kenapa tiba-tiba kau bersikap kasar begitu padaku? A-- apa salahku padamu? Padahal tadi kita baik-baik saja," ucapnya yang terdengar gugup.

"Tidak usah sok baik padaku!!" lanjut ucap Riu yang sontak membuat hati Bomi sakit. Tanpa disadari ia meneteskan cairan bening dari kedua bola matanya.

𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!