Angin berhembus kencang membelai rambut perak Eliana. Ia tanpa henti menatap wajah mantan sahabatnya yang berdiri tepat di hadapannya. Pandangan nya kemudian terbuyar setelah Bomi, kekasih Riu menghampiri keduanya.
Berbagai alasan Riu lontarkan agar tidak menumbuhkan masalah yang besar. Ia kemudian pergi meninggalkan siswa-siswi kelas 12#2 yang tengah melaksanakan pelajaran olahraga.
Penilaian yang dilakukan kali ini adalah lari cepat. Begitu giliran Eliana berlari, mendadak kakinya tidak melangkah dengan seimbang. Alhasil ia terjatuh dengan posisi yang memungkinkan terjadinya cedera.
"Eliana!!" teriak Lucas sembari berlari menghampiri nya.
"Ugh, sakit sekali ... " keluh Eliana sambil terus berusaha untuk berdiri.
Beberapa anak termasuk guru mereka mendekati Eliana. Mereka membantu Eliana kembali ke tempat awal untuk pemilihan. Namun sayangnya lututnya sedikit terluka, dan harus segera diobati.
"Pak, biar saya saja yang membawa Eliana ke ruang UKS," kata Lucas.
"Baiklah, setelah itu kau kembali ke sini, ya," balas guru mereka.
Lucas hanya mengangguk kan kepalanya, ia kemudian membawa Eliana ke ruang UKS dengan cara menggendong nya. Bomi menatap Eliana yang tengah terluka dengan tatapan sinis, ia juga sempat memperlihatkan senyuman liciknya.
"Wah, senang sekali ya, bisa menjadi Eliana. Kalau dipikir-pikir, dia selalu berada di lingkungan para lelaki tampan. Sebelumnya juga dia berteman dengan Riu, yang menjadi murid laki-laki paling populer di sekolah kita, dan sekarang Lucas," lontar salah seorang siswi yang satu kelas dengan Eliana.
"Hmm, benar. Ingin rasanya aku menjadi Eliana," timpal siswi lainnya.
...----------------...
"Bagaimana? Masih sakit?" tanya Lucas yang baru saja mengobati luka di lutut Eliana.
"I-- iya. Tapi aku tidak apa-apa," ucap Eliana berusaha untuk tidak membuat Lucas khawatir.
"Heuh, bagaimana bisa kau ceroboh seperti anak kecil? Padahal anak kecil saja pandai berlari," ejek Lucas seraya memalingkan wajahnya.
"Ah, ti-- tidak begitu! Aku terjatuh karena langkah kakiku tidak seimbang tadi!" sanggah Eliana dengan raut wajah kesal.
"Ya sudah, terserah mu saja. Sekarang kau mau kembali ke kelas, atau mau tetap berada di sini?" tanya Lucas.
"Hmm, aku di sini saja dulu. Nanti aku akan kembali ke kelas sendiri, kau kembali lah ke lapangan olahraga," celetuk Eliana yang kemudian berbaring pada ranjang.
"Baiklah,"
Perlahan Lucas melangkahkan kakinya keluar dari ruangan UKS. Hanya dalam sekejap, tubuh Lucas hilang dari pandangan Eliana.
......................
Tak lama setelah bel pelajaran ke-tiga berbunyi, Eliana beranjak turun dari ranjangnya dan kembali ke kelas. Ia berjalan melewati koridor yang nampak lebih sepi dari biasanya.
Perlahan muncul seseorang yang baru saja turun dari tangga lantai atas. Eliana tak memperdulikan kedatangan orang itu, ia hanya fokus pada jalannya dengan langkah kaki yang pincang.
"E-- Eliana? Apa yang terjadi pada mu?" tanya orang itu. Eliana yang awalnya menatap lantai yang kosong, ia perlahan mendongak untuk memastikan siapa orang yang baru saja bertanya padanya.
Suaranya yang terdengar familiar tentu membuat Eliana memahami siapa orangnya walaupun tidak menatapnya secara langsung.
"Kau, kenapa peduli lagi padaku?" tanya Eliana tanpa menatap wajah orang di hadapannya.
"Tentu saja aku khawatir!" lontar nya dengan nada suara yang meninggi.
"Bukankah kita bukan lagi sahabat? Tapi kelihatan nya kau sendiri tidak bisa menepati janji mu," Eliana berucap ketus.
Ia kemudian melanjutkan perjalanan nya yang berhenti akibat Riu. Namun seberapa keras pun ia berusaha untuk menghindari Riu, lelaki itu tidak akan melepaskan nya begitu urusannya belum selesai.
"Persahabatan kita memang telah berakhir, tapi bukan berarti aku tidak lagi peduli pada mu!!' teriak Riu dari koridor yang mampu membuat suaranya terdengar menggema.
"Lalu, kau yang peduli pada ku itu apa jika bukan sebuah hubungan? Sahabat? Tidak! Kekasih, juga tidak! Pikirkan itu baik-baik, Riu!" papar Eliana dengan suara lantang.
"Aku peduli pada mu karena khawatir, jangan berpikir lebih, Eliana. Lagipula, aku juga sudah mempunyai kekasih," lontar nya yang tanpa tersadar membuat Eliana menangis.
Ia berlari sekencang mungkin dengan kondisi kaki yang tidak sedang baik-baik saja. Namun karena kesedihannya, ia mampu menahan sakit dari kakinya yang tidak bisa di bandingkan dengan sakit yang muncul dari lubuk hatinya.
"Riu! Kau memang mengerikan!! Aku tidak menyangka persahabatan kita akan berakhir seperti ini!" Gumam Eliana dengan posisi yang masih berlari.
Hembusan angin yang berhembus kencang membelai rambut perak Eliana yang tengah berdiri menatap birunya langit siang hari di atap sekolah. Ia berdiri dengan tegak dengan tatapan mata yang mengarah pada langit biru.
"Langitnya sangat biru, dan tidak ada satupun awan yang terlihat. Mungkin awan itu bisa menutupi langit yang cerah ini. Tapi saat langitnya berubah gelap, awan yang menutupinya pun berubah menjadi gelap," cakap Eliana dengan kedua bola mata yang terus mengeluarkan cairan bening.
"Kesedihan, sama halnya dengan kesedihan. Kenapa aku terlahir menjadi sosok yang kesulitan dalam setiap hal? Seandainya aku lebih kuat dan tegas, mungkin kehidupan ku tidak akan diselimuti dengan kepedihan," lanjutnya.
...----------------...
Di sisi lain, setelah berakhirnya jam pelajaran olahraga. Lucas berjalan ke sana kemari mencari sosok Eliana yang tak terlihat di beberapa tempat.
"Huh, kemana dia? Padahal dia bilang akan kembali ke kelas tadi," pikir Lucas yang sudah tak bisa berpikir jernih.
"Ah, sepertinya aku tau dimana dia," kata Lucas yang kemudian berlari ke sebuah tempat yang tak asing baginya.
Ia perlahan menginjak kan kakinya masuk pada sebuah ruangan yang berada di samping ruangan kelasnya.
"Riu, katakan dimana Eliana?!!" tanya Lucas dengan lantang. Beberapa siswa-siswi yang berada di kelas tersebut sontak dibuat terkejut lantaran Lucas berteriak.
"Kenapa kau bertanya padaku?" cakap Riu dengan raut wajah datar.
"Jelas-jelas kau adalah penyebabnya! Cepat katakan dimana Eliana!!!"
"Hai, kau mau membuat keributan ya? Semuanya terjadi karena ulah mu, tuh," papar Riu yang kemudian bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan menghampiri Lucas yang berdiri di depan papan tulis.
**BUG!!!*
Riu memukul wajah Lucas di hadapan teman-teman yang lain. Mereka sontak berteriak kalang kabut akan aksi yang dilakukan oleh Riu.
Beberapa siswi kemudian berjalan keluar dari kelas untuk melapor pada guru yang bersangkutan. Mengetahui hal itu, Riu langsung menghentikan tindakan nya.
Namun tidak dengan Lucas yang kemudian terus membalas perbuatan Riu. Ia kemudian mendorong Riu hingga terjatuh dan mengenai bangku-bangku yang tertata rapi.
"Hentikan ... " ucap Riu dengan raut wajah tak berdaya.
"Baiklah, jika itu mau mu. Ingat baik-baik kejadian hari ini, agar kau tidak mengulangi kesalahan yang sama nantinya," tutur Lucas dengan tatapan seperti akan membunuh.
Ia kemudian berjalan keluar ruangan kelas Riu yang berada di samping kelasnya. Dan menganggap bahwa hal ini tidak pernah terjadi dalam hidupnya.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments