*Krak!*
Ponselnya terjatuh lantaran terlalu fokus akan festival megah yang tengah digelar. Ia membungkuk kan badannya di tengah kerumunan yang ada. Beberapa kali tubuhnya hampir terlempar akibat desakan yang terjadi.
"Biar ku ambilkan," kata Lucas pada telinga Eliana.
"Ini, pegang yang erat. Jangan sampai terjatuh lagi," lanjutnya sembari mengembalikan ponsel milik Eliana.
"He'em," balasnya di iringi senyuman lebar yang mengembang di wajahnya.
Festival telah berlangsung cukup lama, tentu membuat Eliana merasa lemas karena terus berdiri di tengah kerumunan.
Ia kemudian berdalih menatap Lucas yang juga berdiri tepat di sampingnya.
Sebuah perkataan di lontarkan nya dengan berbisik pada Lucas, hingga membuat keduanya keluar dari kerumunan tersebut.
"Apa kau mau membeli sesuatu?" tanya Lucas seraya melihat setiap pedagang yang menyajikan makanan dagangan mereka.
"Boleh, kebetulan aku juga sangat lapar. Bagaimana jika kita membeli manisan di sana?" lontar Eliana dengan wajah berseri-seri.
Lucas hanya membalasnya dengan anggukan. Ia kemudian mengarahkan jalan untuk Eliana, agar tidak bertabrakan dengan orang lain yang berjalan dari arah yang berlawanan.
Dilihatnya orang yang begitu dikenalnya juga berada di acara Festival. Kedua bola matanya terus tertuju pada orang yang sedang membeli sesuatu bersama dengan seorang gadis di sampingnya.
Siapa lagi jika bukan Riu dan juga Bomi? Awalnya Eliana berinisiatif untuk menyapa Riu yang berada di seberang. Tapi begitu mengetahui bahwa Bomi juga sedang bersamanya, Eliana tentu mengurungkan niatnya untuk mendekati Riu.
"Ini," kata Lucas mengulurkan tangannya memberikan manisan untuk Eliana.
"I-- iya,"
Keduanya pun berjalan-jalan melewati setiap pedagang untuk mencari makanan lain. Namun siapa sangka? Kedua pasangan itu tak sengaja berpapasan ketika Eliana hendak membeli macaron.
Tidak ada angin tidak ada hujan, Riu yang awalnya memperlihatkan senyuman kecil pada Eliana saat keduanya berpapasan tiba-tiba saja merubah raut wajahnya. Tepat saat setelah Bomi membisikkan sesuatu pada telinganya.
"Kenapa Riu tidak menyapaku? Padahal akhir-akhir ini dia terlihat peduli pada ku," Pikir Eliana dengan kepala yang tertunduk.
"Eliana, naikkan kepalamu. Jangan menunduk di tengah jalan. Bisa-bisa kau ditabrak orang, loh ... " seloroh Lucas sambil tersenyum kecil.
Eliana tidak menggubris perkataan nya, ia kemudian menaikkan kepalanya seperti apa yang dikatakan oleh Lucas.
...****************...
Malam yang terasa singkat berlalu begitu saja. Tak terasa matahari kembali bersinar menggantikan bulan. Seperti biasa, Eliana pergi ke sekolahnya dengan berjalan kaki bersama dengan Lucas.
Begitu pelajaran pertama berlangsung, sorak-sorai mewarnai setiap kelas. Terdengar suara bising dari berbagai kelas yang berawal dari sebuah pengumuman.
"Anak-anak, besok akan diadakan wisata ke museum. Jadi diharapkan kalian menyiapkan perlengkapan untuk keberangkatan ke museum ya," kata Bu Siera mengumumkan di kelas 12#2.
"Huh, kenapa harus museum? Di sana pasti sangat membosankan," ketus salah seorang siswa laki-laki yang terkenal agresif.
"Tidak akan, nak. Di sana kalian juga bisa bersenang-senang. Karena terdapat taman hiburan yang megah," lanjut ucap Bu Siera sembari memperlihatkan senyuman khas nya.
Begitu mendengar akan taman hiburan, banyak dari mereka merasa senang. Namun tidak dengan Eliana yang hanya melamun sambil memainkan pulpen nya.
Menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak biasa dari Eliana, kejahilan Lucas pun muncul. Ia melempar sebuah kertas bertuliskan sesuatu pada Eliana hingga membuat gadis itu menoleh padanya.
"Hentikan!" tegur Eliana dengan raut wajah kesal.
"Hei, hei ... ada apa denganmu hari ini? Bersemangat lah sedikit ... " ujarnya sedikit meledek.
Eliana berdalih menatap guru yang sedang berada di depan kelas untuk mendengarkan penjelasan selanjutnya. Ke sinis an Eliana padanya tentu membuat perasaan nya sedikit goyah.
......................
Tiga jam pelajaran berlangsung cukup lama, hingga akhirnya bel istirahat pun berbunyi. Para siswa-siswi yang masih disibukkan dengan pelajaran mereka kini berebut pintu kelas agar bisa keluar lebih dulu.
"Mau ke kantin?" tanya Clau sembari berjalan mendekati Eliana.
"Hmm, baiklah ... " balasnya dengan lirih.
Eliana, Clau, Lucas dan juga Yun pun berjalan secara bersamaan menuju kantin sekolah yang letaknya tak jauh dari kelas mereka.
Antrian yang panjang tentu membuat mereka enggan untuk mengambil sarapan pagi ini.
"Bagaimana ini? Kantin nya sangat ramai, kita akan kehabisan waktu istirahat jika ikut mengantri," celetuk Eliana dengan raut wajah tak bersemangat.
"Tenanglah Eliana, kita bisa membeli makanan di luar, kok ... " imbuh Yun sambil memegangi bahu Eliana.
Aura yang tak biasa dirasakannya dari seseorang yang berada di sampingnya. Benar saja, Lucas yang mendapati hal itu langsung memperlihatkan tatapan mematikan pada Yun. Lantaran tangan nya yang sembarangan memegangi bahu Eliana.
"Lepaskan tangan mu dari sana," ucap Lucas berbisik pada telinga Yun.
"Ah i-- iya, maafkan aku," jawabnya dengan tubuh yang sudah gemetaran.
Di sisi lain, Riu yang baru saja mendapatkan makanan setelah menunggu antrian panjang tak sengaja mendapati Eliana yang berada di tengah pintu masuk kantin.
Perlahan kakinya melangkah untuk menghampiri sosok Eliana, namun sebuah tangan yang mendadak mendarat di bahunya tentu membuat langkahnya terhenti begitu saja.
"Bo-- Bomi?" sapa Riu sedikit terbata-bata.
"Kau mau ke mana? Ke sana, ya?" tanya Bomi seraya menunjuk ke arah perkumpulan Eliana.
"Ti-- tidak, aku sedang mencari tempat duduk untuk makan, bagaimana dengan mu?" cakap Riu berusaha agar Bomi tidak curiga padanya.
"Aku akan mengambil antrian panjang, tapi sepertinya waktu istirahat tidak akan cukup bagiku," timpal Bomi.
"Ya sudah, makan saja punyaku. Lagipula aku juga tidak ada selera untuk makan," imbuh Riu sambil mendorong kecil tubuh Bomi menuju tempat duduk yang tersisa.
"Ah, i-- iya"
"Wah, kebetulan sekali di kantin sedang ramai. Aku ingin memperlihatkan pada mereka terutama Eliana bahwa kami sangat romantis," gumam Bomi sambil beberapa kali tersenyum.
"Nah, duduklah. Aku ada urusan mendadak," ujar Riu yang sontak membuat angan-angan Bomi tidak sesuai dengan keinginan nya.
Ia kemudian berjalan menjauhi Bomi yang tengah kebingungan akan sikap nya itu. Di dekatinya Eliana beserta teman-teman nya yang sedang membicarakan sesuatu.
"E-- Eliana ... " sapa Riu sembari memperlihatkan senyuman yang mampu meluluhkan hati para wanita.
"Ada apa?" tanya Eliana secara spontan.
"Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan mu. Ayo kita pergi sebentar," seloroh Riu sambil menarik lengan Eliana dan dibawanya menjauh dari tempat tersebut.
"Wah, semoga berhasil ya, Riu ... " kata Yun penuh harapan.
"Aku harap Riu segera memutuskan hubungan nya dengan Bomi dan berpacaran dengan Eliana. Jadi Eliana akan bersemangat lagi," celetuk Clau sambil memandang kepergian Eliana dan juga Riu.
"Eh, tapi ... kau tidak mempunyai perasaan pada Eliana, kan?" tanya Clau yang kemudian berdalih menatap Lucas dengan tatapan ragu.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments