Malam semakin larut, jalanan yang sejak pagi dipenuhi oleh kendaraan kini terlihat sepi, suasana pun terasa sunyi.
Eliana berjalan seorang diri setelah sampai di depan komplek perumahan nya. Ia melambai-lambai kan tangan nya pada Lucas yang baru saja mengantarnya hingga ke gang perumahan.
Rasanya ingin berteriak mengucapkan terima kasih, namun karena ini malam yang sudah larut, tentu banyak dari orang-orang yang tinggal di komplek perumahan itu sudah tertidur lelap.
...----------------...
Setelah usai membersihkan diri, Eliana merebahkan tubuhnya di kasur lantai yang nampak usang. Ia meraih ponselnya dan menatap wajah Riu di sebuah foto yang tersimpan pada ponsel miliknya.
"Akhir-akhir ini aku lihat Riu lebih peduli padaku, apa Clau dan Yun sudah menjalankan rencana mereka?" pikir Eliana sambil menatap langit-langit kamar yang hampa.
Matanya perlahan terpejam, ia tak menyadari bahwa dirinya telah terlelap dalam tidur.
...----------------...
Matahari bersinar menyinari berbagai tempat. Sebuah cahaya masuk menerobos hordeng hingga menyoroti mata Eliana. Suara sering alarm membangunkan nya, perlahan ia membuka kedua bola matanya yang terasa berat untuk memulai aktivitas.
Selang beberapa waktu, ia yang telah usai bersiap-siap pun keluar dari rumahnya untuk pergi ke sekolah. Yah, karena memang itulah keseharian nya. Pagi ini tidak seperti biasa, Lucas yang biasanya sudah berdiri di depan rumah Eliana untuk berangkat bersama kini tak nampak sosoknya.
Ia melihat ke sekeliling tempat untuk memastikan bahwa Lucas berada di antara bangunan-bangunan yang ada. Namun tak ditemukan nya temannya itu. Menyadari bahwa sebentar lagi bel masuk sekolah akan dibunyikan, Eliana pun memutuskan untuk pergi lebih dulu.
Tanah demi tanah di injak nya, ia berjalan mengikuti irama langkah kaki yang dipercepat. Sampai akhirnya terlihat lah sebuah gedung yang tak lain adalah bangunan sekolah.
"Tumben Lucas belum tiba," pikir Eliana dalam hati begitu sampai di kelasnya, namun tak nampak sosok Lucas.
"Hei! Kau mencari siapa?" tanya Clau secara tiba-tiba, sontak membuat Eliana terkejut.
"Ah, ti-- tidak ada. Aku hanya sedang melihat kelas yang sudah bersih," jawanya beralasan.
"Ku mohon, percayalah ... "
"Hmm, tentu saja!! Hari ini kan aku yang bertugas untuk membersihkan kelas!!" kata Clau yang terdengar bersemangat.
"Huh, syukurlah dia percaya,"
Pelajaran pertama berlangsung cepat, namun di rasanya seperti seharian berada di sekolah lantaran Eliana merasa bosan. Ia menoleh ke arah bangku Lucas yang kosong.
Sebuah tangan mendarat di bahunya yang sontak membuat Eliana berdalih menatap orang di sebelahnya.
"Ada apa?" tanya Eliana berbisik.
"Kau mencari Lucas, ya?" Yun bertanya dengan suara yang juga lirih.
"He'em ... " jawabnya dengan mengangguk.
**KRING!!!**
Bel istirahat pertama berbunyi begitu nyaring di setiap kelas. Eliana yang merasa tegang mengobrol di tengah pelajaran pun merasa lebih tenang setelah bel istirahat dibunyikan.
"Baiklah anak-anak, hari ini cukup sampai di sini saja. Minggu depan kita lanjutkan materi yang belum terselesaikan," ucapnya menutup pertemuan hari ini.
"Baik, pak!!" jawab siswa-siswi secara serempak.
"Bagaimana jika kita ke kantin sekarang?" usul Eliana yang langsung disetujui oleh Clau dan juga Yun.
Ketiganya pun berjalan menuju kantin sekolah secara bersamaan. Dilihatnya Bomi yang tengah bermesraan dengan Riu di Koridor. Eliana sekilas melirik ke arah mereka yang tengah mengobrol dengan posisi duduk yang terlalu dekat.
Ia menghela nafas panjang. Begitu menyadari bahwa teman mereka mendapati hal yang tak enak dipandang, membuat mereka berusaha menghibur nya.
"Hei, hei!! Bagaimana jika hari ini aku mentraktir mu?" kata Clau tiba-tiba.
"Eh? Memangnya ada acara apa sampai mau mentraktir ku? Tidak biasanya kau seperti itu ... " timpal Eliana secara spontan.
"Yah ... tidak ada apa-apa, sih. Aku hanya ingin mentraktir mu saja,"
"Aku ... tidak?" lontar Yun dengan raut wajah kecewa.
"Untuk mu lain kali saja ya,"
"Hahahhaa!!!"
Begitulah hari ini berlangsung, Eliana berjalan seorang diri untuk sampai di rumahnya. Beberapa kali matanya menatap setiap kendaraan yang melewatinya.
"Heuh, aneh. Kenapa akhir akhir ini Lucas sering tidak masuk sekolah, ya?" pikir Eliana seraya menendang sebuah batu kecil ke arah tong sampah.
Dirasakan nya sebuah tangan mendarat di bahunya. Jantung Eliana berdetak kencang begitu menoleh sekitar dua puluh derajat, dan benar saja didapatinya sebuah tangan.
"Hei, kenapa kau terus berjalan?" Suara yang terdengar familiar di telinganya tentu membuat nya berbalik badan.
Sosok di belakangnya memperlihatkan senyuman lebar yang mengembang di wajahnya. Eliana mendengus kesal dan menatapnya dengan aura tak biasa.
"Kemana saja kau hari ini?!!" tanya Eliana dengan nada tinggi.
"Eh? Memangnya kenapa? Kau merindukan ku, ya? Padahal belum ada dua puluh empat jam kita tidak bertemu," lontar nya sambil menaikkan kedua bahunya.
"Sudahlah, jangan membuat ku kesal!! Lagipula, kenapa kau jarang masuk ke sekolah? Kau bisa di skors loh kalau sampai tidak masuk tanpa keterangan selama satu minggu," cakap Eliana menginformasikan.
Lucas tersenyum lebar, ia kemudian menggenggam erat telapak tangan Eliana. Langkahnya sontak terhenti begitu merasakan sebuah tangan yang terasa hangat menggenggam nya.
"Ke-- kenapa?" tanya Eliana dengan wajah yang memerah.
"Memangnya tidak boleh, ya? Jika aku menggandeng mu seperti ini?"
"Te-- terserah mu saja lah, aku tidak peduli!!"
"Tidak hanya cantik, dia ternyata punya sisi imut juga, ya ... " gumam Lucas dalam hatinya hingga membuat mulut yang tak biasa memperlihatkan senyuman kini sering tersenyum.
Hal itu tentu membuat suasana terasa canggung, hingga keduanya cukup lama saling menutup mulut.
"Bagaimana jika kita ke festival? Kau tau kan, ada festival yang sedang digelar tak jauh dari sini?" kata Lucas membuka pembicaraan setelah keduanya saling berdiam diri.
"Eh? Aku tidak tau jika ada festival ... "
"Ya sudah tidak apa-apa, ayo kita ke sana ... " ajak Lucas yang langsung mempercepat jalannya.
"Oh ya, ngomong-ngomong apa kau takut pada kucing hitam?" tanya Lucas memastikan.
"Hmm, begitulah ... sebenarnya tidak. Tapi dulu aku pernah dibuat trauma hingga sakit berhari-hari hanya karena kucing hitam. Memangnya kenapa?" ujarnya.
"Tidak, aku hanya memastikan nya saja ... "
Keduanya kemudian melanjutkan jalan yang sedikit terhenti akibat perbincangan. Walaupun Lucas bilang tempat dimana acara festival tengah digelar tak jauh dari sini, namun bagi Eliana rasanya dua kali lipat berjalan dari rumah hingga ke sekolah.
Tak terasa akhirnya mereka pun sampai. Nampak berbagai penjual makanan enak terpajang di pinggir jalan. Pasalnya, festival yang seperti ini hanya digelar dua tahun sekali. Jadi tidak heran jika jalanan ramai di penuhi oleh pengunjung. Begitu juga dengan makanan enak yang jarang dijual di hari-hari biasa.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments