Langit sore nampak lebih cerah dibandingkan biasanya. Warna oren ke orenan di langit menambah suasana menjadi lebih romantis.
Eliana berlari menghampiri seseorang yang tengah keluar dari gerbang sekolah.
"Hosh ... hosh ... tunggu!!!" teriak Eliana dengan nafas yang tak beraturan.
Suara yang familiar terdengar di kedua telinganya, orang yang dipanggil nya tentu menghentikan langkah kakinya begitu mendengar panggilan dari Eliana.
"Eliana? Ada apa?" tanya orang itu yang tak lain adalah Riu.
"Kau, aku ingin berbicara dengan mu sebentar," kata Eliana dengan raut wajah cemas.
Riu menoleh ke sekelilingnya untuk memastikan bahwa Bomi tak sedang berada di sampingnya. Setelah dirasa keadaan cukup aman, Riu pun menarik lengan Eliana dan dibawanya keluar dari halaman sekolah menuju tempat yang sunyi.
"Apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Riu memalingkan wajahnya ke jalanan yang ramai di penuhi oleh kendaraan.
"A-- anu, aku dengar Lucas telah memukulmu. Aku ingin mewakilinya untuk meminta maaf padamu," ucapnya sembari menunduk kan kepala.
Riu berdalih menatap Eliana yang tengah berbicara di hadapannya. Ia kemudian memegangi bahu kanan dan kiri Eliana, sontak membuat Eliana mendongak.
"Tidak masalah, lagipula itu bukan kesalahan mu," seloroh Riu sambil tersenyum lebar.
"Tapi tetap saja aku merasa bersalah, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan selain meminta maaf padamu," tutur Eliana dengan perasaan bersalah.
"Hmm, bagaimana jika kita ke Restoran? Itu tebusan Lucas karena sudah memukul ku hingga babak belur begini," lontar Riu sedikit meledek.
"Ah, ba-- baiklah, tapi bagaimana jika Bomi melihat kita?"
"Tidak akan, lagipula aku akan mengajak mu ke Restoran mahal," cakap Riu yang kemudian menggenggam dengan erat telapak tangan Eliana.
Nampak sebuah mobil yang melaju ke arah mereka, keduanya memasuki mobil tersebut untuk sampai ke tempat tujuan.
Hanya membutuhkan waktu 15 menit, mereka sampai di sebuah Restoran ternama.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Eliana ragu.
"Tentu saja tidak, kau tahu kan? Aku ini banyak uang?"
"He'em, baiklah ... "
Eliana dan juga Riu memasuki Restoran secara bersamaan. Keduanya duduk di sepasang tempat duduk yang terlihat lebih mewah di bandingkan yang lainnya.
Nampak seorang pelayan Restoran menghampiri keduanya dengan sebuah buku menu di tangannya. Ia kemudian memberikan buku menu itu pada Eliana.
"Riu, kau mau memesan apa?" tanya Eliana yang sontak membuat Riu mendekatkan wajahnya.
"Aku beef saja, minumannya Chocolate cream," kata Riu.
"Hmm, saya pesan brownies cake dan minumannya Strawberry cream." Eliana kemudian mengembalikan buku menu nya pada pelayan Restoran.
Tak lama sejak keduanya memesan makanan dan minuman, pesanan mereka pun sampai. Eliana melahap makanan di hadapannya dengan santai, begitu juga dengan Riu.
"Eliana, maafkan aku. Sebenarnya akulah yang lebih dulu memukul Lucas. Tapi jika aku memberitahumu, mungkin kita tidak akan bisa bersama seperti hari ini lagi," ucap Riu dalam hatinya.
...----------------...
1 jam berlalu, langit mulai terlihat gelap lantaran malam akan segera tiba. Eliana cepat-cepat menghabiskan makanannya yang masih tersisa sebelum Riu mengajaknya pulang.
Keduanya keluar dari Restoran tempat mereka makan begitu selesai mengisi perut mereka. Perlahan Riu memasuki mobilnya yang terparkir tepat didepan Restoran.
"Hmm, Riu ... " panggil Eliana dengan suara lirih.
"Ada apa?"
"Sepertinya aku jalan saja, lagipula rumahku kan tidak jauh dari sini. Kau pulanglah, sebentar lagi malam," ujar Eliana seraya merapikan rambutnya yang dirasa berantakan.
"Tidak, aku akan mengantar mu. Jika kau ingin jalan kaki untuk sampai rumah, tidak masalah ... karena aku akan tetap menemanimu sampai tujuan," seloroh Riu yang sontak membuat wajah Eliana memerah.
"Ti-- tidak perlu, aku bisa-- " Riu menarik lengannya dan menggenggam telapak tangan Eliana.
Ia berjalan dengan langkah kaki yang lambat agar Eliana tidak merasa terbebani.
"Sebenarnya Riu sangat baik padaku, tapi kenapa aku tidak bisa bersikap baik padanya? Apa karena rasa cemburuku terhadap Bomi?" pikir Eliana sambil bergumam menatap Riu.
"Sudah lama ya, sejak kita tidak pulang sekolah berdua. Aku rasa lebih baik kita terus seperti ini," lontar Riu dengan kedua bola mata yang fokus menatap langit sore.
"A-- apa maksud mu?" tanya Eliana sedikit terbata-bata.
"Yah, suatu hari nanti kau akan tau apa maksud dari perkataan ku. Mungkin tidak akan lama lagi," ujarnya seraya berdalih menatap Eliana.
Senyuman sinis nampak terpasang pada wajah seseorang. Orang berpakaian serba hitam itu kemudian memukul sebuah tembok yang berada di sampingnya. Sosoknya itu tentu tak diketahui oleh Riu dan juga Eliana, lantaran dirinya bersembunyi di antara dua tembok di sebuah gang kecil.
"GRRR!!!!"
Sebuah kucing berwarna hitam mendadak menghentikan langkah mereka. Eliana yang merasa trauma jika bertemu dengan kucing berbulu hitam pun secara spontan berlari ke belakang Riu.
"Eh? Ada apa?"
"Sebenarnya, aku takut pada kucing hitam," ucap Eliana yang sontak membuat Riu tertawa kecil.
"Hei!! Kenapa kau malah tertawa?!! Cepat usir dia!!" tegas Eliana dengan raut wajah kesal.
*BUGH!*
Riu melempar ranselnya tepat sasaran. Eliana kemudian kembali berdiri di samping Riu.
"Beres, kan?"
"Ta-- tapi, kasihan juga dia. Sepertinya dia akan merasa kesakitan,"
"Hei, bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk mengusir nya? Huh, kenapa juga aku yang di salahkan?" tandas Riu sambil menghela panjang nafasnya.
"Tapi aku tidak menyuruh mu untuk memukulnya, loh!"
...----------------...
Eliana merebahkan tubuhnya setelah selesai menyibukkan dirinya dengan sabun mandi. Ia meraih sebuah ponsel yang berada di atas lemari kecil.
"Heuh ... " Eliana mendengus.
"Kenapa aku merasa tidak suka jika Bomi menjadi kekasih Riu? Apa aku cemburu padanya? Kenapa tidak sejak awal saja aku menyatakan perasaan ku pada Riu," ucap Eliana sembari menatap langit-langit kamarnya.
**Kling*
Sebuah pesan masuk pada ponselnya. Tertera nama Lucas pada layar ponsel miliknya. Sesegera mungkin ia membaca pesan yang dikirim kan Lucas.
Perlahan kakinya melangkah keluar dari rumah setelah mendapat pesan dari Lucas bahwa dirinya tengah menunggu Eliana. Ia melihat ke sekeliling untuk memastikan seseorang yang tengah dicarinya.
"Hei ... " panggil Lucas seraya menepuk bahu Eliana. Sontak ia terkejut kalang kabut.
"Heuh, aku kira siapa!! Apa kau tidak tau, jantungku benar-benar hampir copot!!" tegas Eliana dengan raut wajah kesal.
Lucas hanya menanggapinya dengan senyuman sinis. Ia kemudian memegangi dengan erat kedua telapak tangan Eliana.
"Apa kau marah padaku?" tanya Lucas memastikan.
"Hmm, begitulah. Siapa suruh kau berbuat gaduh di sekolah!!"
"Kau masih belum tau, ya? Riu duluan loh, yang sudah memukul ku," sanggah Lucas.
"Ta-- tapi tetap saja kau memukulnya sampai dia babak belur!"
"Heuh, ya sudahlah. Aku janji tidak akan mengulangi perbuatan ku," kata Lucas seraya menjulurkan jari kelingking nya.
Eliana membalas uluran jari kelingking Lucas, keduanya kemudian tertawa lepas seusai membahas sesuatu yang dianggap lucu.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments