Episode 4-Berpapasan

Langit sore dengan warna oren membuat suasana menjadi lebih bermakna. Eliana yang mendapat tawaran dari Lucas pun sampai tak bisa menolaknya. Sesegera mungkin ia memandu jalan untuk Lucas yang ingin mengantarnya pulang ke rumah.

Baru beberapa menit sejak mereka berjalan, suara dering ponsel terdengar dari dalam saku milik Eliana. Ia langsung mengangkat panggilan tersebut begitu menerima nya.

"Halo, Kak?" sapa Eliana membuka pembicaraan.

"E-- Eliana, hooo, antar kan aku pulang ... " perintah seseorang di seberang sana yang tak lain adalah Irena, kakak Eliana.

"Memangnya sekarang kakak ada dimana?" tanya Eliana memastikan keberadaan sang kakak.

"Aku ... hoh, aku berada di BAR X," jawab Irena dan secara spontan mematikan sambungan telepon mereka.

"Kak? Kakak?!! Apa kakak baik-baik saja? Uh, sepertinya kakak benar-benar sudah mabuk!" cakap Eliana sembari menaruh kembali ponsel nya ke dalam saku.

Ia kemudian menatap Lucas yang berjalan mengikuti langkah kakinya dari arah belakang. Sosok Lucas yang mendapati tatapan aneh dari Eliana pun sontak secara spontan memalingkan pandangan nya ke jalanan yang ramai di penuhi oleh kendaraan.

"Ada apa?" tanya Lucas yang tak kuasa menahan rasa penasaran nya.

"Anu--, aku harus ke BAR X untuk mengantarkan kakak ku pulang. Sepertinya dia sedang mabuk, aku khawatir dia berada dalam masalah," tutur Eliana sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.

"Ya sudah, ayo jalan. Kenapa kau hanya diam saja?" ketus Lucas dengan tatapan dingin bak es dalam Freezer.

"Ah, me-- memangnya kau mau ikut ke sana? Bukan kah kau hanya berniat mengantarkan ku pulang saja?" ujar Eliana sedikit terbata-bata.

"Tentu saja aku akan ikut, kenapa tidak?"

...****************...

Selang beberapa waktu, akhirnya mereka pun sampai di BAR X yang mana Irena sedang berada di sana. Eliana melihat setiap sudut ruangan dalam BAR untuk mencari sang kakak, namun tak ditemukan nya sosok yang tengah dicari olehnya.

"Mana kakak mu?" tanya Lucas yang juga melihat setiap orang yang sedang menikmati minuman mereka.

"Hmm, entahlah. Seharusnya dia masih berada di sini," jawab Eliana sembari terus berjalan ke ruangan yang lain.

"Lepaskan!!!! Adikku akan segera datang!!" Teriak seorang wanita yang terdengar familiar di telinga Eliana. Sesegera mungkin ia mencari sumber suara tersebut, dan akhirnya menemukan sosok yang tengah dicari-cari oleh nya.

"Kakak? Apa yang terjadi padamu??" tanya Eliana seraya meraih lengan kakak nya yang sedang dipegang erat oleh seorang lelaki asing.

"Dia ... dia menyuruh ku untuk membayar bir dan wine yang telah ku minum! Padahal aku tidak mempunyai uang untuk membayarnya!" seloroh Irena dengan raut wajah yang nampak berantakan.

"Heuh, bagaimana bisa Kakak memesan minuman sebanyak itu? Sedangkan Kakak sendiri tidak bisa membayarnya!" Eliana mendengus sambil menggelengkan kepalanya.

"Pak, memangnya berapa yang harus saya bayar?" tanya Eliana memastikan.

"Totalnya 790 ribu, apa kau akan membayarnya?"

"A-- apa?!!! Uang sebanyak itu mana mungkin aku memiliki nya!?" tandas Eliana dengan raut wajah syok lantaran mendengar total uang yang harus ia bayar.

"Ini, pakai saja uang ku. Sudah lunas, kan?" timpal Lucas yang tiba-tiba saja mengulurkan tangan nya memberikan sejumlah uang yang tak bisa Eliana hitung.

"Lu-- Lucas? Ta-- tapi itu ... "

"Tidak apa apa, kau tidak perlu khawatir. Aku orang kaya yang bisa kau andalkan," imbuh Lucas dengan nada arrogant.

"Jadi dia orang kaya? Huh, tidak ku sangka aku akan berteman dengan orang kaya setelah Riu!" Pikirnya dalam hati.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Setelah cukup kesulitan membawa Irena yang tengah mabuk berat, akhirnya Eliana pun bisa beristirahat di kasur lantainya yang nampak usang. Ia meraih sebuah gelas yang penuh berisi air putih, dan kemudian meneguk nya secara perlahan.

"Irena ... " panggil seseorang dari luar ruangan kamarnya.

"Ah, tunggu sebentar!" Ia kemudian beranjak menuju pintu yang posisinya sedang tertutup rapat.

"I-- ibu? Ada apa?" tanya Eliana sembari membelai poninya.

"Di rumah tidak ada makanan, beli lah beberapa makanan di luar dan bawakan juga untuk keluarga mu," tutur Ibunya sembari memberikan uang dengan jumlah kecil, yang mungkin tidak akan cukup dihidangkan oleh empat orang.

"Tapi ini masih kurang," celoteh Eliana dengan raut wajah iba.

"Sisanya gunakan uangmu, ibu tidak mempunyai banyak uang," lontar ibunya dan dengan cepat pergi menjauh dari sosok Eliana.

Ia tak menggubris perkataan sang ibu, dan langsung mengenakan pakaian hangat untuk digunakan nya keluar rumah. Dengan langkah kecil ia berjalan menuju sebuah toko makanan yang masih buka pada tengah malam.

Setelah cukup lama mengantri untuk mendapatkan 3 bungkus makanan, Eliana tak sengaja berpapasan dengan teman sekelasnya, yakni Bomi, yang tak lain adalah pacar Riu saat ini.

"Halo, Eliana. Kebetulan sekali kita bisa bertemu malam malam begini, biasanya aku tidak pernah melihatmu," sapa Bomi dengan senyuman lebar yang penuh akan kebohongan.

"Maaf, aku tidak punya banyak waktu untuk berbicara dengan mu. Sekarang aku harus cepat-cepat kembali," papar Eliana tanpa menatap wajah Bomi sekalipun.

"Wah wah, sombong sekali ternyata sahabat Riu yang satu ini. Tidak sopan juga!" ketus nya dengan suara lantang sontak membuat orang-orang yang berada di sekitar toko makanan tersebut menatap ke arah mereka.

"Jaga mulutmu, jika tidak kau akan habis malam ini juga!" ancam nya dengan tatapan sinis mengarah pada Bomi yang tengah berdiri tepat di belakangnya.

Perkataan nya itu mampu membuat Bomi terdiam, lantaran tak tau harus menjawab apa. Ia kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju rumah yang lokasinya tak jauh dari toko makanan tersebut.

Perjalanan nya yang hanya kurang beberapa meter lagi, mendadak membuatnya kembali bertemu dengan seekor kucing yang akhir-akhir ini sering dijumpainya di jalanan.

"Kebetulan kita bertemu lagi, apa kau lapar?" tanya nya pada kucing yang terus menatap nya tanpa berkedip.

"Ini, makan lah. Maaf tidak bisa bermain dengan mu, aku harus segera pulang untuk memberikan makanan ini pada kakak dan ibu. Sampai jumpa besok pagi," tutur Eliana yang kemudian mengelus kepala kucing tersebut.

"Berhati-hati lah di jalan."

Sebuah suara yang mengatakan sesuatu padanya terdengar dengan jelas di kedua telinga Eliana.

Ia menoleh ke sana kemari untuk memastikan bahwa ada seseorang yang sengaja mengerjai nya, namun berapa lama pun ia menatap setiap jalanan yang tak nampak satupun orang membuat bulu kuduk serta seluruh tubuh nya mengeluarkan keringat dingin yang terus bercucuran.

𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!