Karena di pasar Jefran malah banyak ngeluhnya jalanan becek karena intensitas hujan yang cukup tinggi, Divya mengajaknya main di sungai untuk menangkap ikan.
"Yakin emang di sini ada ikan?" Tanya Jefran sangsi.
"Ya ada dong. Makanya kita tangkep. Nanti siang kita bisa makan ikan bakar."
Jefran masih terdiam lesu, suasana hatinya berubah-ubah.
"Jef, kamu masih mikirin Fiona ya?" Tanya Divya akhirnya duduk di sampingnya.
Mereka duduk di atas batu besar.
"Nggak nyangka aja dia segitu teganya tipu aku. Padahal aku percaya sama dia."
Sama dengan yang Divya rasakan ketika gagal menikah. Ia begitu percaya Galih dan Aldo namun dikecewakan.
Divya menepuk pundak Jefran. "Tapi kamu jangan begini lah. Kalo kamu down begini, dia bakal kesenangan udah bikin kamu menderita. Kamu enjoy aja. Anggap aja aku teman kamu, kayak biasa. Nggak perlu kamu canggung. Biasanya juga kamu malah nyebelin tiap ketemu aku."
Jefran mendelik dan mengetuk pelan jidat Divya. "Perawan tua bawel."
"Berondong nyebelin," balas Divya.
Lalu mereka tertawa bersama.
"Kok aneh ya kita bisa nikah gini? Nggak pernah kebayang lho," Komentar Jefran.
"Mau gimana lagi, Jef? Tugas kita sebagai anak, patuh sama orangtua, jaga nama baik keluarga. Kita jalani aja. Ke depannya kita kan nggak tau bakal gimana."
"Iya sih. Aku juga nggak nyangka Fiona segitu jahatnya tipu aku. Karena Aneth." Teringat gadis berambut pendek yang pernah menjadi kekasihnya.
"Ngomong-ngomong kamu putus sama Aneth kenapa?" Tanya Divya akhirnya.
Jefran terdiam sejenak. "Dia ngajak aku nikah. Tapi aku belum siap dan nggak mau nikah sama dia."
"Itu kapan kejadiannya?"
"Kayaknya belum setahun juga."
"Dalam waktu singkat gitu kamu berubah pikiran dengan siap nikah sama Fiona?"
"Yah mau gimana lagi? Aku cintanya sama Fiona, bukan sama Aneth."
Emang susah benerin hati orang lagi bucin gini, batin Divya.
"Ya udah, mending sekarang kamu bikin moment moment seru. Lupain hal yang bikin kamu kesel. Nanti juga kamu bakal move on." Divya turun ke sungai, hanya melepas sepatu, dan jaket. Celananya digulung selutut.
"Kamu mau ngapain?"
"Nangkep ikan lah, sini bantuin aku!" Divya menggunakan batang bambu yang tajam berusaha mencari ikan.
"Ada ular nggak?"
"Nggak ada kok. Cepet sini."
Melihat air sungai yang jernih menggoda Jefran untuk turun. Ia melepas sepatu dan kaos kaki, lalu melepas kemejanya. Hanya mengenakan kaus, ia menggulung celananya selutut. Lalu turun memasuki sungai.
"Hiiii dingin banget airnya.."
"Baru segitu aja dingin. Nih cobain dinginnya!" Divya mencipratkan air ke arah Jefran.
"Ehh .. wah ngajak perang ya, rasain nih!" Jefran bermain air saling mencipratkan air sungai dengan Divya.
Tingkah mereka seperti anak kecil yang bahagia tanpa beban. Berperang air sampai basah kuyup.
Jefran mulai tertawa lepas melupakan hal buruk yang dialaminya.
***
"Udah mateng belom?"
"Dikit lagi."
Jefran mendekatkan tangan ke arah api yang dibuat Divya untuk membakar ikan.
Divya mengipas ikan bakar dengan daun lebar.
"Dingin banget nih, beda sama di kota." Jefran menggigil gara-gara keasyikan main air di sungai.
"Di pedesaan kan masih asri. Nggak ada bangunan tinggi, kendaraan yang bikin polusi, sama nggak ada pabrik yang ngeluarin limbah jadi udara sama airnya masih asri nggak tercemar," jelas Divya sambil menghidangkan ikan yang sudah matang.
Divya menggunakan alas daun pisang dan duduk di atas batu bersama Jefran.
"Nih udah jadi."
"Wah enak nih kayaknya.. aaawww panas.." Jefran meniup tangannya kepanasan.
"Ini masih panas, Jef. Kipasin bentar juga udah bisa dimakan. Lagipula di sini kan udaranya dingin. Makanan juga cepet dingin." Divya mengambil secuil ikan dan menyodorkan pada Jefran.
"Masih panas nggak?"
"Nggak kok. Cobain aja."
Jefran menerima suapan ikan bakar dan mengunyahnya, lalu berbinar. "Kok enak ya?"
"Iya dong. Makan yang banyak."
Berdua mereka menikmati ikan bakar.
"Di sebelah sana, itu bekas rumah aku." Divya mulai cerita.
"Terus rumah kamu mana? Kok cuma ada bendungan?" Tanya Jefran melihat tak ada rumah.
"Ya diratakan buat bendungan. Jadi sampai lulus SMA aku sama Bapak numpang di rumah Mang Beben yang lokasinya lebih tinggi dan nggak kena gusur untuk bendungan."
"Jadi kamu sama Bapak nggak punya rumah?"
Divya mengangguk.
"Ibu kamu ke mana?" Tanya Jefran membuat Divya tersenyum miris.
"Udah meninggal dari aku lahir. Aku juga nggak punya kenangan sama sekali tentang Ibu."
Kasihan banget ni cewek, batin Jefran. Dari lahir nggak pernah ketemu ibu yang udah melahirkannya. Pantas Divya tumbuh menjadi gadis mandiri. Jadi anak satu-satunya, cucu satu-satunya. Tuntutannya jelas berat.
"Kamu pindah ke Jakarta sejak kapan?" Tanya Jefran lagi. Ia mendadak ingin tahu lebih banyak tentang Divya.
"Sejak aku lulus SMA. Bapak diterima kerja di rumah Papa Ardi. Makanya aku dibiayain kuliah sama Papa Ardi juga."
Jefran ingat ia pertama kali kenal Divya ketika baru masuk SMA. Kala itu Divya baru masuk universitas.
Tapi mereka tidak akrab. Karena Jefran sering keluar rumah. Kasarnya ya bandel.
Begitu lulus kuliah, Divya pindah dari rumah dan memilih kost saja sambil mulai bekerja.
Sejak itu, Jefran mulai mengajaknya bicara begitu sesekali Divya berkunjung ke rumah.
Maka dari itu Divya merasa sulit menolak tawaran Papa Ardi untuk menikah dengan Jefran.
Di samping Papa Ardi yang membiayai kuliahnya, harapan Nenek dan Bapak agar ia cepat menikah membuatnya memutuskan bersedia menikah dengan Jefran.
"Mengenai mantan-mantan pacar kamu, gimana ceritanya kamu gagal nikah?"
Kalau aja Jefran bukan suaminya, udah dijudesin abis sama Divya yang paling sebel ditanya soal itu.
Divya agak mangkel juga mengingat Galih dan Aldo.
"Galih tipu aku dengan bawa kabur uangku yang katanya untuk biaya pernikahan kami. Dan Mas Aldo, dia cuma permainkan aku demi permintaan pacarnya. Pacarnya Mas Aldo itu teman sekamarku di kost, dia punya dendam yang aku sendiri nggak tau apa salahku, dia menyuruh Mas Aldo pura-pura cinta dan mengajak aku nikah. Disaat Nenek udah seneng sampai mengumumkan di kampung bahwa aku mau menikah, Mas Aldo ninggalin aku gitu aja." Divya mengakhiri ceritanya, rasanya masih sakit.
Jefran tidak tahu harus bicara apa lagi. Yang jelas, ia kasihan pada Divya. Dan mendadak marah pada dua lelaki tak bertanggung jawab Galih dan Aldo.
"Nenek sering ngomel karena aku terlalu mandiri jadi merasa nggak perlu menikah. Padahal aku juga nggak menginginkan jadi perawan tua. Hanya keadaan memang begitu." Divya membereskan sisa makan. "Pulang yuk, udah mau hujan kayaknya."
Jefran menurut dan mengenakan sepatunya.
Mereka kembali ke rumah sewaan dengan hati riang.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments