Jefran si Berondong Nyebelin

Divya melangkah lunglai menenteng tasnya. Rambutnya dikuncir sekenanya. Make up nya sudah tertimpa keringat padahal ini masih pagi. Mood nya berantakan sudah setelah permasalahan gagal menikah ini.

Sehabis kena marah Nenek, ia harus ke kantor banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Bulan ini ia belum mencapai target memasarkan apartemen.

Ia harus berusaha lebih keras.

Sudah beberapa bulan ini penjualannya lebih tinggi dari rekan-rekannya yang lain. Berkat kerja kerasnya melobi calon pembeli tanpa menyerah.

Tapi apa benar yang Nenek katakan barusan?

Ia terlalu mandiri hingga merasa tidak butuh laki-laki. Ia memiliki pendidikan memadai dengan gelar sarjana. Dengan mudah ia bisa dapat pekerjaan berkat kemampuan komunikasinya yang baik. Secara keseluruhan, di samping umur, ia merasa cukup baik untuk pria.

Divya mendengus keras. "Tapi harusnya laki-laki bangga dong kalo perempuan bisa kerja dan cari uang. Emang perempuan mandiri nggak disuka laki-laki?"

Saking kesalnya, ia tidak melihat ada yang keluar dari rumah. Berjalan di belakangnya mendengar semua ocehan Divya.

"Lagian Mas Aldo ada masalah apa sih sama aku? Kenapa tiba-tiba banget batalin rencana nikah? Huhh..."

"Batal nikah lagi?"

Divya tersentak kaget dan berbalik.

Duuukkkk...

"Aduuhh..." Divya meringis jidatnya sakit terbentur dagu keras.

Melihat sosok jangkung yang menjulang di depannya, membuat tekanan darahnya naik seketika.

Jefran!

Cowok itu mengusap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.

"Kasian amat sih batal nikah lagi.."

Divya menahan emosinya. Mengingat cowok ini anak dari majikannya Bapak, dan CEO perusahaan keluarga Wirata, membuatnya harus menahan diri tidak membentak cowok itu.

Jefran yang berusia 28 tahun sudah sejak lama menjadi musuh bebuyutan Divya. Padahal umurnya lebih muda 3 tahun dari Divya namun Jefran bersikap cuek dan sering membuatnya kesal. Benar-benar tidak ada wibawa sebagai CEO kalau berhadapan dengan Divya.

Kalau bertemu, pasti mereka bertengkar. Jelas laki-laki berondong itu yang memulai.

"Nggak ada kerjaan ya komentar nggak jelas gitu," kata Divya sebel.

Jefran terkekeh dan menyentil jidatnya agak keras.

Divya jadi risih. "Apaan sih?"

"Kenapa lagi sekarang? Kok sampai batal?" Tanya Jefran membuat Divya makin kesal.

"Bukan urusan kamu! Udah ah aku mau pergi ke kantor.." Divya berbalik namun Jefran menahan tangannya.

"Tunggu dulu dong.. main pergi aja. Gue kan belum selesai ngomong."

"Apaan sih Jef?"

"Gue anter lo ke kantor. Sekalian ada yang perlu gue bicarain sama lo di jalan."

"Mau bicara apa ngajak berantem? Udah ah aku nggak ada tenaga berantem sama kamu. Jangan makin ngerusak mood aku untuk kerja. Mending aku pake ojek aja."

"Eh ni cewek, dikasih tumpangan gratis malah nolak. Gue bener ada yang mau dibicarain sama lo. Bukan ngajak berantem. Beneran."

Divya mendengus sebal. Setiap bersama Jefran, tensinya selalu naik tanpa aba-aba karena pria ini yang selalu cari ribut dengannya.

"Ya udah mau bicara apaan, di sini aja."

"Eh ada Divya.." muncul Bu Indah, ibunya Jefran.

Divya langsung pasang wajah manis dan menunduk hormat.

"Selamat pagi, Bu Indah."

"Pagi. Kok nggak masuk?"

"Iya barusan sudah ketemu Bapak. Sekarang mau berangkat ke kantor, Bu. Eh Bu Indah mau ke mana?" Tanya Divya melihat Bu Indah sudah siap pergi.

"Mau ke rumah sakit."

"Nyokap mau medical check up," timpal Jefran.

"Oh ya katanya kamu mau menikah? Gimana persiapannya? Ada yang perlu Ibu bantu?" Tanya Bu Indah membuat Divya tersenyum asam.

"Acaranya..." Divya bingung menjawab.

"Batal, Ma.." Jefran yang menjawab membuat Divya kesal namun berusaha ditahan.

"Kok bisa?" Bu Indah heran.

"Bu, maaf sebelumnya. Saya harus segera tiba di kantor. Nanti saya akan datang lagi kalau pekerjaan saya sudah selesai " Divya berusaha menghindari pembicaraan. Jangan sampai mood nya makin rusak pagi ini.

"Oh iya benar. Kalau libur kamu main lah ke mari. Kita masak bersama. Jangan terlalu keras bekerja. Sayangi badan kamu. Kamu itu cantik. Siapapun yang jadi suami kamu dijamin betah di rumah ada istri secantik kamu," puji Bu Indah membuat Divya tersenyum pahit.

"Terima kasih, Bu."

"Jefran, sekalian antar Divya," kata Bu Indah membuat Divya mendelik tajam pada Jefran yang tersenyum usil.

"Iya, Ma. Aku juga mau ke kantor." Jefran membuka pintu mobil. "Buruan masuk."

Terpaksa Divya masuk mobil dengan siaga siap ribut sepanjang jalan.

Ia dan Jefran memang tidak akur karena sifat nyebelin pria itu yang kerap membuat tensinya naik.

Berondong nyebelin, itu julukan Divya padanya.

Walau yang namanya Jefran itu level gantengnya tinggi banget, tapi karena Divya sudah hafal kelakuan aslinya yang nyebelin, Divya tidak sudi mengakui Jefran ganteng abis.

***

"Eh gue lagi ngomong dengerin kek."

"Iya aku denger. Ngomong aja." Divya memasang wajah jutek memandang jalanan yang cukup macet.

"Gue mau beli apartemen yang lo pasarin. Ada nggak?"

"Banyak. Mau berapa unit?"

"Satu aja kali. Cewek gue cuma satu."

Dahi Divya mengernyit memandang pria di sampingnya yang serius menyetir.

"Kamu mau beli buat pacar kamu?"

Jefran meliriknya sekilas. "Ya sekarang kan pacar. Gue kan mau nikah bulan depan. Gue pengen kasih kado buat Fiona, sekaligus buat tempat tinggal kami setelah nikah."

Divya memajukan bibirnya dan memalingkan wajah. "Syukur deh kalian bisa nikah. Nanti aku pilihin unit apartemen terbagus dengan view keren."

"Gitu dong." Jefran mengusap kepala Divya sekilas membuat Divya risih mengingat pria di sebelahnya lebih muda darinya.

Tapi Divya malas debat, Jefran mana mau kalah kalau debat dengannya.

"Ngomong-ngomong, sekarang kenapa lagi lo bisa gagal nikah?" Tanya Jefran membuat Divya mendengus malas menjelaskan.

"Bisa nggak usah nanya."

"Eh gue nanya sebagai temen kok. Temen gue jadi perawan tua gara-gara gagal nikah sampe dua kali."

"JEFRAN!!!"

Jefran tersentak dan menghentikan mobil, untungnya tepat lampu merah.

Dilihatnya wajah Divya sudah memerah dan matanya sudah berkaca-kaca.

"Aku turun di sini!" Divya membuka seat belt, Jefran menahan tangannya panik.

"Eh Divya, sorry jangan marah gitu."

Divya menghapus air matanya yang jatuh.

Jefran merasa bersalah, dan memakaikan kembali seat belt Divya.

"Sorry banget. Nggak lagi-lagi deh gue nanya."

Divya sungguh benci situasi ini, dan bertekad akan menemui Aldo untuk membuat perhitungan.

Divya diam saja, berusaha menurunkan tekanan darahnya. Jefran yang tidak biasa melihat gadis itu diam ingin mengganggunya, namun tidak berani bicara apalagi wajah Divya jutek abis.

Barusan itu pertama kalinya Divya sampai membentaknya. Membuatnya ngeri juga.

Biasanya Divya tidak sampai se emosional itu. Pasti suasana hatinya sedang buruk.

Tiba di depan kantor di kawasan Jakarta Selatan, Divya membuka seat belt.

"Makasih udah nganter."

"Semangat kerjanya, Div." Jefran mengacungkan tangan.

Divya tidak menanggapi dan keluar mobil, bergegas masuk kantor.

***

Episodes
1 Gagal Menikah Kedua Kali
2 Kena Marah Nenek
3 Jefran si Berondong Nyebelin
4 Mencari Aldo
5 Calon Istri Jefran
6 Kecurigaan Divya
7 Ditikung Teman Sendiri
8 Dendam Pada Divya
9 Mendengar Rencana Jahat
10 Bimbang
11 Hari Pernikahan
12 Kacau
13 Tawaran Menikah
14 Menikah Dadakan
15 Pengantin Baru Dadakan 1
16 Pengantin Baru Dadakan 2
17 Ke Diskotik
18 Perjalanan ke Kampung
19 Di Desa 1
20 Di Desa 2
21 Jefran Sakit
22 Pindah ke Apartemen
23 Harapan Orangtua
24 Tetangga
25 Divya Mulai emosi
26 Belum Unboxing?
27 Jefran Mulai Romantis
28 Bayi?
29 Tes DNA
30 Malam Pengantin
31 Mulai Harmonis
32 Tante Melinda nya Ares
33 Tangisan Sakha
34 Kedatangan Aneth
35 Sikap Aneth
36 Sikap Aneth 2
37 Rahasia Hubungan Jefran
38 Aneth Berbohong
39 Jujur
40 Kehilangan
41 Duka Divya
42 Bertemu Tante Melinda
43 Kedatangan Fiona
44 Kedatangan Fiona 2
45 Kebohongan Ares
46 Divya Sakit Hati
47 Membujuk Divya
48 Malam Romantis
49 Terbongkar
50 Divya atau Fiona
51 Rencana Jahat Fiona
52 Fitnah Berujung Terusir
53 Kepergian Aneth
54 Ares Tertangkap
55 Disandera
56 Kepergian Fiona
57 Menyelesaikan Masalah
58 Sakhi
59 Hampa
60 Dua Bocah Tampan
61 Keluarga Kecil
62 Om Baik
63 Doa Ibu
64 Pertemuan
65 Memohon Maaf
66 Meluapkan Kerinduan
67 Divya Pergi
68 Mencari Divya
69 Divya Sakit
70 Janji Jefran
71 Sadar
72 Curi Kesempatan
73 Kembali ke Rumah
74 Mengincar Anak-anak
75 Sakha Diculik
76 Kejahatan Cinta
77 Cinta dan Kirana
78 Pernikahan Rion
79 Kehadiran Putri Cantik -End-
Episodes

Updated 79 Episodes

1
Gagal Menikah Kedua Kali
2
Kena Marah Nenek
3
Jefran si Berondong Nyebelin
4
Mencari Aldo
5
Calon Istri Jefran
6
Kecurigaan Divya
7
Ditikung Teman Sendiri
8
Dendam Pada Divya
9
Mendengar Rencana Jahat
10
Bimbang
11
Hari Pernikahan
12
Kacau
13
Tawaran Menikah
14
Menikah Dadakan
15
Pengantin Baru Dadakan 1
16
Pengantin Baru Dadakan 2
17
Ke Diskotik
18
Perjalanan ke Kampung
19
Di Desa 1
20
Di Desa 2
21
Jefran Sakit
22
Pindah ke Apartemen
23
Harapan Orangtua
24
Tetangga
25
Divya Mulai emosi
26
Belum Unboxing?
27
Jefran Mulai Romantis
28
Bayi?
29
Tes DNA
30
Malam Pengantin
31
Mulai Harmonis
32
Tante Melinda nya Ares
33
Tangisan Sakha
34
Kedatangan Aneth
35
Sikap Aneth
36
Sikap Aneth 2
37
Rahasia Hubungan Jefran
38
Aneth Berbohong
39
Jujur
40
Kehilangan
41
Duka Divya
42
Bertemu Tante Melinda
43
Kedatangan Fiona
44
Kedatangan Fiona 2
45
Kebohongan Ares
46
Divya Sakit Hati
47
Membujuk Divya
48
Malam Romantis
49
Terbongkar
50
Divya atau Fiona
51
Rencana Jahat Fiona
52
Fitnah Berujung Terusir
53
Kepergian Aneth
54
Ares Tertangkap
55
Disandera
56
Kepergian Fiona
57
Menyelesaikan Masalah
58
Sakhi
59
Hampa
60
Dua Bocah Tampan
61
Keluarga Kecil
62
Om Baik
63
Doa Ibu
64
Pertemuan
65
Memohon Maaf
66
Meluapkan Kerinduan
67
Divya Pergi
68
Mencari Divya
69
Divya Sakit
70
Janji Jefran
71
Sadar
72
Curi Kesempatan
73
Kembali ke Rumah
74
Mengincar Anak-anak
75
Sakha Diculik
76
Kejahatan Cinta
77
Cinta dan Kirana
78
Pernikahan Rion
79
Kehadiran Putri Cantik -End-

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!