Kena Marah Nenek

Pagi-pagi sekali, Divya sudah di depan rumah megah kediaman keluarga Pak Ardi Wirata, tempat Bapak bekerja sejak lama.

Ia gelisah ingin masuk, namun cemas dan khawatir. Ia takut Nenek semaput dengar ia gagal nikah kedua kalinya.

"Lho, Neng Divya? Kok di luar aja?" Tegur Pak Bagus, satpam keluarga Wirata.

"Bapak sama Nenek ada kan, Pak?" tanyanya pelan.

"Ada di dalem. Masuk aja Neng." Pak Bagus membukakan pintu.

"Terima kasih Pak."

Divya takut-takut masuk rumah lewat pintu belakang.

Ia bersiap pasti kena marah neneknya.

Pasti ia disalahkan sepenuhnya.

Nenek Ira tinggal bersama Bapak Abdul di rumah ini karena Nenek sudah tua dan sendirian. Untungnya Pak Ardi begitu baik dan dermawan mengizinkan Nenek tinggal di rumah. Apalagi mereka sudah tidak punya rumah di kampung.

Tapi Nenek Ira begitu galak pada Divya padahal ia cucu satu-satunya.

Nenek dan Bapak sedang duduk di tangga taman sambil sarapan gorengan dan teh hangat.

Divya agak enggan mendekat karena Nenek dan Bapak sedang membicarakan tentang pernikahannya yang rencana akan diadakan dua minggu lagi.

"Nanti kamu jemput saja mereka semua di stasiun. Pak Ardi dan Bu Indah sudah mengizinkan keluarga menginap."

"Iya Bu. Baiknya dua hari sebelum pernikahan mereka datang."

"Sebaiknya seminggu sebelumnya, Dul."

"Tidak bisa Bu. Kang Beben bilang di kampung sedang panen. Mereka tidak bisa lama-lama meninggalkan kampung."

"Padahal ini pernikahan cucuku satu-satunya lho. Harusnya mereka menyempatkan. Kan bisa diajak jalan-jalan dulu di Jakarta."

Mendengar pembicaraan Nenek dan Bapak membuat langkah Divya makin berat takut menemui orangtuanya.

"Telepon saja Beben pastikan persiapan oleh-oleh dari kampung sudah siap. Kita harus berikan banyak oleh-oleh untuk Pak Ardi dan Bu Indah. Beliau berdua sudah sangat baik pada keluarga kita."

Divya menarik napas, ia harus segera bicara sebelum keluarganya ditelepon.

"Nenek, Bapak..."

Begitu ia datang, langsung saja Nenek memberondong pertanyaan.

"Tumben pagi-pagi begini kamu datang? Ini kan jauh dari kantor kamu, Cu. Nanti kamu telat ke kantor, bagaimana? Atau nanti mau dijemput Nak Aldo?"

Divya tersenyum getir dan duduk di lantai, siap menerima omelan.

"Ada apa, Nak?" Tanya Bapak tahu putrinya ada masalah.

Tanpa berani memandang Nenek dan Bapak, Divya menceritakan semua tentang batalnya pernikahannya dengan Aldo yang dibatalkan secara sepihak. Tanpa kejelasan yang pasti.

Langsung saja tensi Nenek naik seketika siap mengomeli cucu satu-satunya.

"Kok begitu? Kamu bikin salah, kali! Makanya jadi perempuan tuh jangan terlalu mandiri, kamu bisa cari uang sendiri. Laki-laki jadi segan dekat-dekat kamu!" Lagi-lagi omelan seperti ini yang terlontar dari mulut Nenek membuat kuping gatal.

"Dia nggak bilang apa-apa sama kamu? Apa alasannya?" Tanya Bapak lebih tenang.

Divya menggeleng, matanya sudah berkaca-kaca. "Hari ini aku mau coba temuin dia untuk dapat penjelasan. Tapi aku punya feeling dia bakal bener-bener batalin pernikahan kami, Pak. Aku juga nggak tau aku bikin salah apa. Sebelumnya kami juga nggak ada masalah."

"Ya kamu masalahnya!" Semprot Nenek tanpa peduli cucunya sudah mau menangis.

"Jangan salahi Divya terus, Bu. Mungkin memang belum jodoh." Bapak berusaha membela.

"Nggak salah gimana? Udah dua kali anakmu ini gagal menikah. Umurnya udah berapa? Gadis seumur dia udah pada punya anak dua bahkan lebih. Lah anak ini, gagal nikah lagi. Gadis kalau udah dua kali gagal nikah itu akan sulit dapat jodoh. Sepertinya dia perlu kita bawa untuk di ruqiyah. Ini ada yang ngehalangin dia buat dapet jodoh dan nikah kayaknya. Atau jangan-jangan kamu pernah nolak laki-laki dan laki-laki itu dendam jadi main guna-guna. Makanya aura kamu ketutup dan nggak bisa dapet jodoh. Lalu..."

"Bu, aku kan udah bilang jangan percaya hal-hal begitu..." Potong Bapak melihat Divya sudah pusing mendengar ocehan Neneknya.

Sejak dulu Neneknya percaya hal-hal gaib seperti guna-guna, pelet, dan semacamnya. Nenek percaya hal itu bisa memuluskan jalan cucunya dapat jodoh.

Waktu kasus Galih saja dengan paksa Nenek menyeretnya ke orang pintar untuk dimandi kembang agar aura buruk hilang. Karena percaya Galih kabur melihat Divya ber aura negatif.

Untung saja Bapak mengingatkan agar tidak musrik dengan mempercayai hal-hal begitu.

Kali ini tetap saja Nenek berpendapat sama.

"Pak, Nek, aku berangkat ke kantor dulu ya. Nanti aku akan cari Mas Aldo. Sekarang aku banyak pekerjaan." Divya bergegas mencium tangan Nenek dan Bapak bergantian.

"Selesaikan pekerjaanmu. Hari Sabtu ini kita ke Mbah Usih di kampung. Kamu harus dibersihkan." Nenek masih saja memaksa. "Kali ini gimana kita bikin alasan pada saudara di kampung."

"Nggak mau sarapan dulu, Nak?" Tawar Bapak.

Divya menggeleng. "Nanti aja Pak. Keburu macet, aku udah telat juga."

Bapak menepuk bahunya dan berbisik. "Nggak usah diambil hati omongan nenekmu. Nanti juga beliau lupa."

Divya mengangguk. "Iya Pak."

Nenek kan memang sudah pikun maklum sudah masuk usia 75 tahun.

"Aku pergi dulu Pak."

"Jangan terlalu banyak pikiran, Nak. Selesaikan masalah dengan Nak Aldo. Minimal kamu bisa dapat kejelasan. Urusan Nenek biar Bapak yang tangani."

"Baik Pak."

Divya bergegas pergi.

”Jangan dimanjakan anakmu itu. Ibu saja menikah dengan bapakmu umur 16 tahun. Seumur dia, Nenek sudah sekolahkan kamu SMP. Sedangkan dia, malah kerja terus, cari uang. Laki-laki mana yang mau perempuan terlalu mandiri begitu? Cari uang banyak. Pasti dia beranggapan tidak butuh menikah. Kamu harus tegas sama dia, Abdul. Cucuku satu-satunya malah jadi perawan tua. Udah gagal menikah hingga dua kali. Laki-laki mana lagi yang mau dengan dia? Ini tuh bawa sial untuk keluarga kita!"

Bapak berusaha menenangkan Nenek. "Sabar ya Bu. Divya pasti ketemu jodoh yang baik."

"Sabar sabar sampai kapan? Emang Ibu nggak mau lihat cicit Ibu? Mana anak Ibu cuma kamu. Karena Bapak kamu meninggal waktu kamu kecil. Begitu kamu menikah, Lastri meninggal ketika melahirkan Divya. Jadi anak dan cucuku cuma satu. Wajar dong Ibu keras sama Divya."

"Iya Bu. Kita tunggu kabar saja dari Divya. Baru nanti kita bicarakan lagi. Aku mau kerja dulu. Ibu santai aja di sini ya." Bapak bergegas mengambil perlengkapan berkebun dan menuju taman.

Sudah lama Bapak bekerja di sini sebagai tukang kebun yang bertanggung jawab atas tanaman milik Bu Indah istri Pak Ardi.

Nenek masih mengumpat-umpat Divya yang gagal menikah lagi.

"Perempuan udah 2 kali gagal menikah siapa lagi laki-laki yang mau? Memang cucuku itu cantik. Tapi semakin tua, semakin sulit dapat jodoh."

***

Episodes
1 Gagal Menikah Kedua Kali
2 Kena Marah Nenek
3 Jefran si Berondong Nyebelin
4 Mencari Aldo
5 Calon Istri Jefran
6 Kecurigaan Divya
7 Ditikung Teman Sendiri
8 Dendam Pada Divya
9 Mendengar Rencana Jahat
10 Bimbang
11 Hari Pernikahan
12 Kacau
13 Tawaran Menikah
14 Menikah Dadakan
15 Pengantin Baru Dadakan 1
16 Pengantin Baru Dadakan 2
17 Ke Diskotik
18 Perjalanan ke Kampung
19 Di Desa 1
20 Di Desa 2
21 Jefran Sakit
22 Pindah ke Apartemen
23 Harapan Orangtua
24 Tetangga
25 Divya Mulai emosi
26 Belum Unboxing?
27 Jefran Mulai Romantis
28 Bayi?
29 Tes DNA
30 Malam Pengantin
31 Mulai Harmonis
32 Tante Melinda nya Ares
33 Tangisan Sakha
34 Kedatangan Aneth
35 Sikap Aneth
36 Sikap Aneth 2
37 Rahasia Hubungan Jefran
38 Aneth Berbohong
39 Jujur
40 Kehilangan
41 Duka Divya
42 Bertemu Tante Melinda
43 Kedatangan Fiona
44 Kedatangan Fiona 2
45 Kebohongan Ares
46 Divya Sakit Hati
47 Membujuk Divya
48 Malam Romantis
49 Terbongkar
50 Divya atau Fiona
51 Rencana Jahat Fiona
52 Fitnah Berujung Terusir
53 Kepergian Aneth
54 Ares Tertangkap
55 Disandera
56 Kepergian Fiona
57 Menyelesaikan Masalah
58 Sakhi
59 Hampa
60 Dua Bocah Tampan
61 Keluarga Kecil
62 Om Baik
63 Doa Ibu
64 Pertemuan
65 Memohon Maaf
66 Meluapkan Kerinduan
67 Divya Pergi
68 Mencari Divya
69 Divya Sakit
70 Janji Jefran
71 Sadar
72 Curi Kesempatan
73 Kembali ke Rumah
74 Mengincar Anak-anak
75 Sakha Diculik
76 Kejahatan Cinta
77 Cinta dan Kirana
78 Pernikahan Rion
79 Kehadiran Putri Cantik -End-
Episodes

Updated 79 Episodes

1
Gagal Menikah Kedua Kali
2
Kena Marah Nenek
3
Jefran si Berondong Nyebelin
4
Mencari Aldo
5
Calon Istri Jefran
6
Kecurigaan Divya
7
Ditikung Teman Sendiri
8
Dendam Pada Divya
9
Mendengar Rencana Jahat
10
Bimbang
11
Hari Pernikahan
12
Kacau
13
Tawaran Menikah
14
Menikah Dadakan
15
Pengantin Baru Dadakan 1
16
Pengantin Baru Dadakan 2
17
Ke Diskotik
18
Perjalanan ke Kampung
19
Di Desa 1
20
Di Desa 2
21
Jefran Sakit
22
Pindah ke Apartemen
23
Harapan Orangtua
24
Tetangga
25
Divya Mulai emosi
26
Belum Unboxing?
27
Jefran Mulai Romantis
28
Bayi?
29
Tes DNA
30
Malam Pengantin
31
Mulai Harmonis
32
Tante Melinda nya Ares
33
Tangisan Sakha
34
Kedatangan Aneth
35
Sikap Aneth
36
Sikap Aneth 2
37
Rahasia Hubungan Jefran
38
Aneth Berbohong
39
Jujur
40
Kehilangan
41
Duka Divya
42
Bertemu Tante Melinda
43
Kedatangan Fiona
44
Kedatangan Fiona 2
45
Kebohongan Ares
46
Divya Sakit Hati
47
Membujuk Divya
48
Malam Romantis
49
Terbongkar
50
Divya atau Fiona
51
Rencana Jahat Fiona
52
Fitnah Berujung Terusir
53
Kepergian Aneth
54
Ares Tertangkap
55
Disandera
56
Kepergian Fiona
57
Menyelesaikan Masalah
58
Sakhi
59
Hampa
60
Dua Bocah Tampan
61
Keluarga Kecil
62
Om Baik
63
Doa Ibu
64
Pertemuan
65
Memohon Maaf
66
Meluapkan Kerinduan
67
Divya Pergi
68
Mencari Divya
69
Divya Sakit
70
Janji Jefran
71
Sadar
72
Curi Kesempatan
73
Kembali ke Rumah
74
Mengincar Anak-anak
75
Sakha Diculik
76
Kejahatan Cinta
77
Cinta dan Kirana
78
Pernikahan Rion
79
Kehadiran Putri Cantik -End-

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!