"Selamat siang, saya mau bertemu Pak Aldo General Manager."
Divya mencoba mendatangi kantornya Aldo yang cukup jauh dari kantornya.
"Sudah ada janji sebelumnya, Bu?" Tanya resepsionis.
"Katakan saja, Divya mau bertemu."
"Baik, ditunggu sebentar." Resepsionis itu menelepon ke ruangan Aldo.
Divya menunggu dengan gelisah. Ia mencuri-curi waktu setelah meeting, ia harus menyelesaikan urusan dengan Aldo. Berharap masalahnya bisa diselesaikan dan pernikahannya bisa dilanjut. Ia tidak enak mengecewakan Bapak dan Nenek sampai dua kali. Kali ini ia harus berusaha sampai tuntas. Kalau masih bisa diselamatkan, harus ia lakukan.
Resepsionis menutup telepon.
"Mohon maaf, Bu. Pak Aldo sudah resign dari sebulan yang lalu." Info dari resepsionis membuat Divya kaget.
"Resign?"
"Benar, Bu. Saya sudah konfirmasi."
Divya tak menyangka ditipu mentah-mentah lagi kedua kalinya.
Divya sungguh berang ingin membuat perhitungan dengan Aldo sudah menipunya.
Semula ia bilang akan naik jabatan, malah resign dan bohong lagi pada Divya.
Rasanya ingin menerobos masuk kantor asuransi ini dan mencari Aldo sendiri, kalau perlu ia tanya satu per satu pegawai yang kenal dengan Aldo. Tapi ia masih waras, kalau nekat begitu bisa-bisa ia ditangkap karena dianggap mengganggu.
Walau penuh kebencian ingin menampar pria itu. Sudah membuatnya malu dan tidak punya muka lagi.
Keluarga di kampung sudah terus menghubunginya menanyakan kapan bisa ke Jakarta untuk membantu persiapan pernikahan.
Membuatnya makin kesal dan berpikir dimana ia bisa menemui Aldo.
Tiba-tiba HP-nya berbunyi. Pak Rido atasannya, menghubunginya. Kalau Pak Rido yang menelepon, ia yakin 100 % akan kena marah karena atasannya yang tidak pernah kekurangan stamina dalam marah-marah pada bawahannya.
"Halo, Pak Rido.."
"Divya, bagaimana ini? Kamu belum berhasil menjual satu unit pun bulan ini. Kamu sudah malas kerja? Mau saya pecat?"
Divya mendengus pelan, dan berusaha sabar. "Pak, mohon maaf, ini kan masih awal bulan. Saya juga berusaha mencari calon pembeli. Komisi saya yang bulan lalu juga belum Bapak bayar. Padahal di dalam tim Bapak, kinerja saya paling baik. Penjualan saya pun tertinggi di kantor."
"Sudah sombong kamu ya. Lagi pula itu kan berkat bantuan pacar kamu sampai kamu menjual banyak unit begitu."
"Saya hanya bicara fakta, Pak. Bagaimana pun caranya, yang penting saya memasarkannya dengan baik dan terjual banyak. Bapak bayar dulu komisi saya bulan lalu, akan saya pastikan hari ini langsung unit apartemen termahal terjual."
Ia tahu Pak Rido bimbang, karena sangat tahu koneksi Divya dengan orang-orang kalangan atas. Juga kemampuan komunikasi Divya yang bagus membuat calon pembeli tertarik.
"Baik, saya transfer hari ini juga. Dan saya ingin bulan ini penjualan kamu meningkat. Paham?"
"Baik, Pak. Saya tunggu transferan nya. Sekarang juga."
"Harus sekarang?"
"Ya. Sekarang juga. Karena saya sudah punya customer potensial yang ingin membeli apartemen paling mewah. Tapi saya tidak akan melobinya kalau komisi saya bulan lalu belum Bapak transfer."
Terdengar dengus kesal Pak Rido. "Baik, tunggu sebentar."
"Mohon diingat, Pak. Jumlah komisi saya 42,25 juta. Jangan sampai kurang karena saya punya rincian perhitungannya."
Begitu telepon diputus, Divya menarik napas dalam-dalam berusaha menurunkan tekanan darahnya.
Pak Rido sang atasan memang pelit dan otoriter. Selalu menuntut omset berlebih namun selalu telat mencairkan komisi. Kalau pun sudah diberikan, selalu banyak potongan tak masuk akal.
Yang membuat Divya lebih tegas menghadapi atasannya itu.
Divya bahkan bertekad setelah bulan ini akan mengundurkan diri saja. Lelah bekerja memiliki atasan seperti Pak Rido. Lebih baik ia cari pekerjaan lain.
Ting..
HP-nya berbunyi, notifikasi dari M-banking nya sudah masuk 42,25 juta. Kalau saja barusan ia tidak bicara, pasti komisinya dipotong sampai 20% dengan berbagai alasan tak masuk akal. Pajak-pajak yang tidak ada dalam surat perjanjian, selalu digunakan Pak Rido untuk mengambil keuntungan dari komisi bawahannya.
Ia mengirim pesan pada Pak Rido.
#Terima kasih, Pak. Saya akan temui calon pembeli.#
Tak lama ada balasan.
#Jual lebih banyak unit! Tingkatkan penjualan bulan ini#
Nah kan.. belum apa-apa udah nuntut.
Mengingat masih berada di kantor Aldo membuatnya kesal lagi.
Ke mana harus cari lelaki pembohong itu?
Teringat duda kaya itu yang membantunya hingga bulan lalu target pemasarannya tercapai bahkan jauh di atas target yang senior. Sehingga bonusnya bulan ini termasuk fantastis selama 5 tahun ia bekerja di tim pemasaran properti apartemen ini.
Namun apa artinya itu?
Kalau ujung-ujungnya dia malah ditinggalkan.
HP-nya berbunyi lagi ada pesan WhatsApp masuk. Dari Berondong Nyebelin.
#Jadi kan ketemu? Bawa brosurnya jangan lupa.#
Divya lupa Jefran bilang ingin membeli apartemen.
Ia bergegas menjawab.
#Iya. Udah siap semuanya. Aku on the way lokasi.#
Ia menarik napas dan memesan ojek online.
"Udahlah, Mas Aldo biar aku urus nanti. Sekarang fokus kerja dulu. Dapetin bonus banyak. Akhir bulan aku bisa resign dan mulai bikin boneka. Lebih baik aku berkreasi daripada pusing mikirin semua."
Divya meninggalkan kantor menuju tempat janjiannya dengan Jefran.
***
Tanpa Divya tahu, dua pasang mata memandangi dari kejauhan.
"Dia hebat juga pantang menyerah sampai nyari kamu ke sini."
"Aku jadi ngerasa jahat banget. Padahal dia perempuan yang baik."
"Siapa bilang? Dia itu wanita munafik, jahat. Aku benci sama dia. Aku nggak akan rela dia bahagia."
"Jangan terlalu dendam. Nggak baik. Apalagi sama orang baik kayak gitu."
"Aah tau ah! Yuk pergi!"
Dua sosok itu meninggalkan kantor besar itu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments