Suara musik yang memekakkan gendang telinga menyambut Divya dan Jefran tiba di club malam di pusat kota.
Divya langsung mengusap telinga, tidak terbiasa ada di tempat ini.
Belum lagi kelap kelip lampu diskotik membuat matanya sakit.
Ia mengelus dada sendiri menyadari ini memang dunia hiburan kesukaan Jefran. Pantas barusan Papa Ardi menyuruhnya ikut, khawatir Jefran macam-macam.
Divya diam saja melihat Jefran bersama dua temannya yang diperkenalkan Rion dan Andre.
"Jadi itu istri lo?" Walau teredam suara berisik musik, Divya masih mendengar suara Rion dan Andre memandangnya.
Jefran menenggak segelas koktail dengan perasaan kesal. "Fiona br*ngsek! Dia udah tipu gue dan hamil sama cowok lain! Makanya orangtua gue minta gue nikahin Divya. Gue nggak punya pilihan, kalo nggak keluarga gue bisa malu di hadapan semua orang. Gue ini satu-satunya anak. Semua keluarga gue udah dateng. Tamu tamu bahkan banyak datang dari luar kota. Kalo sampe batal apalagi bocor alasannya, keluarga gue udah nggak ada muka."
"Barusan lo bilang, Fiona adiknya Aneth. Dan mau bales lo yang udah nyakitin Aneth. Lo bikin salah apa sama Aneth?" Tanya Andre.
Ia mengibaskan tangan, malas. "Mana lah gue bikin salah. Lo inget sendiri dia ninggalin gue gitu aja."
"Ya dia kan minta lo nikahin dia. Tapi lo bilang belum siap nikah." Ingat Rion begitu Aneth meminta hubungannya dengan Jefran lebih serius.
"Gue kan sama dia emang nggak serius. Gue udah bilang sama Aneth jangan banyak ngarep sama gue. Eh dia minta aneh aneh nikahin dia."
"Terus kalo Fiona, kok lo ngebet banget pengen nikahin dia?"
"Itu dia. Fiona sama Aneth beda banget. Fiona agresif dan bikin gue jatuh cinta. Beda sama Aneth yang kaku. Gue aja ketemu Fiona di club ini. Lo tau sendiri gue jatuh cinta liat dia nari nari gitu godain gue."
Obrolan tentang Aneth dan Fiona tidak ada habisnya. Tiga pria itu seperti tidak menyadari kehadiran Divya istri sah Jefran diantara mereka.
Divya hanya meneguk jus jeruknya sambil menahan kesal menunggu Jefran selesai mengobrol.
Mengingat ini malam pengantin mereka, membuatnya tersenyum miris.
Pernikahan yang ia kira indah, baru beberapa jam ia sah menjadi seorang istri, harus menelan pil pahit melihat kelakuan suaminya.
Tanpa memedulikan Divya, Jefran mengajak dua temannya turun ke lantai dansa dan menari mengikuti irama musik yang makin bikin sakit telinga.
Akhirnya Divya memilih keluar dan menunggu di lorong.
Mengingat yang terjadi sungguh membuatnya ingin menangis.
Pertama begitu akan menikah dengan Galih. Semua begitu indah. Bahkan Galih menjanjikan mimpi mimpi yang membuat Divya semangat menjalani pernikahan. Namun mimpi itu harus kandas karena Galih menipunya mentah-mentah.
Kedua dengan Aldo. Sosok yang lebih dewasa dan membuatnya merasa dimanja. Namun itu semua juga palsu, karena ia ditipu mentah-mentah oleh temannya sendiri yang entah mempunyai dendam apa.
Ketiga sekarang ia menjadi seorang istri dari pria yang sama sekali tidak dibayangkan menjadi suaminya.
Dan itu terlalu mendadak.
Ia tidak menyangka kalau ini dunia malam yang mempertemukan Jefran dengan Fiona.
Ketika dengan Galih, pernah beberapa kali pria itu mengajak Divya ke club seperti ini, namun Divya tidak pernah mau. Karena terlalu capek bekerja dan malamnya ia ingin istirahat.
Tersadar sudah pukul 11 malam. Tapi Jefran belum berhenti minum minum.
Sepertinya Jefran amat kecewa dengan Fiona hingga melampiaskan dengan minum minum.
***
Jefran terkejut ketika sedang asyik berjoget dengan cewek seksi, tangannya ditarik meninggalkan lantai dansa.
"Eh apaan nih?" Dalam keremangan cahaya, ia melihat sosok yang dikenalnya lalu tertawa. "Eh lo kan istri gue?"
"Ayo pulang. Kamu udah mabuk." Divya memapah tubuh Jefran yang lebih tinggi.
"Gue masih mau di sini."
Rion dan Andre bantu memapah Jefran yang mabuk berat.
"Eh Divya, sorry nih, kamu bisa nyetir?" Tanya Andre.
Divya mengangguk.
"Jadi bisa pulang sendiri sama Jefran?"
"Bisa lah. Aku bukan cewek manja yang nggak bisa apa apa." Divya agak mangkel dua teman Jefran ini terlalu ngeremehin dia.
Rion dan Andre mingkem seketika. Menyadari istri teman mereka ini sosok yang tegas dan bukan anak manja seperti mantan mantan pacar Jefran sebelumnya.
Ketika bekerja ia memang dituntut belajar mengemudi karena sesekali menggunakan mobil kantor dan sudah mendapat surat izin mengemudi mobil.
Begitu berhasil masuk mobil, Divya duduk di kursi kemudi sementara Jefran tertidur karena terlalu banyak minum.
Mobil meninggalkan parkiran, diiringi tatapan Rion dan Andre.
"Kasian sih si Jefran. Lo kan tau segimana bucin nya dia sama Fiona," kata Rion.
"Dan sekarang dia malah nikah sama perempuan lain." Tambah Andre.
"Lo tau siapa Divya itu?"
"Setau gue sih temennya Jefran. Bokapnya tu cewek kerja di rumah Jefran. Tapi dari sikapnya, gue rasa dia bukan cewek biasa."
"Ya kalo cewek biasa, gue rasa orangtua Jefran nggak akan kasih anaknya nikah. Pasti Divya ini banyak keunggulan."
"Yahh.. gimana pun juga, temen kita ini udah lepas lajang. Moga dia bahagia deh. Biar nggak kepikiran ditipu Fiona melulu."
***
Bruuukkkkk..
"Duuhh... Berondong nyebelin bener bener nyebelin pake banget deh," keluh Divya begitu berhasil membaringkan tubuh Jefran di ranjang.
Butuh perjuangan keras memapah Jefran yang mabuk berat sampai ke kamar. Sampai tak ada pilihan ia membanting tubuh jangkung Jefran ke ranjang.
Bergegas Divya melepas sepatu dan kaos kaki Jefran.
Muncul Pak Bagus membawakan barang-barang Divya.
"Neng, ini barang-barangnya disimpen dimana?"
"Taruh di sana aja Pak. Terima kasih ya Pak."
"Sama-sama Neng." Pak Bagus bergegas meninggalkan kamar majikannya yang masih didekorasi ala pengantin.
Jefran tertidur pulas. Bau alkohol tercium kuat dari napasnya.
"Jefran mabuk lagi?" Muncul Mama Indah.
"Iya Ma. Jefran kayaknya masih kecewa dengan kejadian tadi." Divya membuka kemeja Jefran dan melepas gasper agar tidur Jefran lebih nyaman.
Melihat Divya begitu telaten mengurus Jefran, Mama Indah tersenyum senang.
"Kamu yang sabar ya menghadapi Jefran. Jodoh emang nggak diduga. Kamu sudah 2 kali gagal menikah. Dan menikah dengan Jefran. Takdir yang nggak bisa diduga sama sekali. Tapi Mama yakin kamu bisa menjaga Jefran dengan baik. Mama bisa lebih tenang melihat kamu begitu perhatian terhadap anak Mama."
Divya tersenyum kecil. Walau dalam hati ia menahan gondok.
Takdir yang tidak diduga ini jelas tidak mudah.
"Mama berharap kalian selalu akur. Bina rumah tangga harmonis. Saling menjaga. Obati luka hati Jefran. Seiring berjalannya waktu, Mama yakin kalian akan saling mencintai." Mama Indah mengusap bahu Divya.
"Yang sabar ya Nak. Jaga anak Mama baik baik."
"Baik, Ma." Divya tidak punya jawaban lain, hanya mengiyakan perkataan ibu mertuanya.
Begitu Mama meninggalkan kamar, Divya menatap Jefran yang tidur pulas dengan bertelanjang dada sampai mendengkur.
"Baru satu malam kita menikah, udah banyak tingkah kamu yang nyebelin banget, tau nggak!" Dumelnya.
Ia menyelimuti Jefran dan berbalik duduk di sofa, melihat kotak berwarna perak di meja.
Begitu dibuka ia terdiam.
Mas kawin yang diberikan Jefran padanya, bukan jumlah yang sedikit.
Ada beberapa batangan logam mulia yang beratnya 100 gram dan uang tunai 100 juta.
Jelas ini dipersiapkan untuk Fiona. Hanya saja keadaan berbalik semua jadi miliknya.
"Mending nanti aku deposito kan ke bank aja deh." Divya menutup kotak dan melihat cincin di jari manisnya.
"Nggak nyangka cincinnya bisa pas di tanganku. Dia pinter juga pilih cincin sebagus ini. Huffftt... Mungkin emang udah jalannya. Aku harus terima ini, dan jalani hidup sebagai istrinya Jefran si berondong nyebelin. Semoga nyebelinnya berkurang deh."
Melihat kotak kotak seserahan yang jumlahnya nggak sedikit membuat Divya menguap.
"Mending aku tidur ah. Buka beginian besok aja." Divya berbaring di sofa dan mulai terlelap.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments