Sudah hampir dua minggu, Divya belum menemukan keberadaan Aldo. Bahkan Divya sudah menghubungi beberapa kawan Aldo di kantor, mereka tidak ada yang tahu Aldo dimana. Seperti sengaja menghindar dari Divya.
Sedangkan ia menghindar datang ke rumah Pak Ardi menemui Bapak dan Nenek. Kupingnya panas mendengar omelan Nenek yang tak ada habisnya gara-gara dia gagal nikah.
Bapak bilang, Nenek sudah pikun sering lupa. Tapi untuk masalah Divya sendiri, sepertinya Nenek pakai obat penangkal pikun. Terus saja diingat dan dibahas dengan omelan yang sama.
Walau begitu, bukan berarti ia lepas dari sang Nenek yang greget ingin ia segera menikah.
Pagi siang malem Nenek nggak pernah absen teleponin dia dengan nasehat yang sama, sampai ia bosan sendiri.
Bikin mood nya rusak dan nggak fokus kerja.
Kalau Divya beralasan sedang sibuk bekerja, langsung saja Nenek memarahinya. Terlalu mengejar karir hingga melupakan menikah. Dan menyebutnya cucu durhaka sudah mempermainkan keluarga. Keluarga di kampung sudah mempersiapkan untuk menghadiri pernikahannya, namun ia malah gagal lagi.
Divya pun kehilangan jejak Aldo. Di apartemen miliknya sudah ditempati orang lain. Ternyata Aldo selama ini hanya menyewa apartemen. Bukan milik sendiri seperti pengakuannya. Padahal rencananya apartemen itu akan jadi tempat tinggal mereka setelah menikah nanti.
Kesal karena tertipu kedua kalinya.
Tekanan di usianya yang sudah berusia 31 tahun.
Akhirnya ia sudah memutuskan.
Untuk resign dari kantor dan fokus mencari jodoh.
***
"Kak Divya yakin mau resign?" Tanya Cinta nggak percaya.
"Iya." Divya mengetik laptop, menulis surat pengunduran diri.
"Trus gimana ke depannya? Gimana Kak Divya bakal bayar kost an? Makan sehari-hari?"
Divya tidak menjawab. Masalah uang bukan hal besar. Karena tabungannya setelah bekerja udah lebih dari cukup.
Bahkan setelah Jefran membeli unit apartemen kemarin bonusnya lebih dari 70 juta.
Total tabungannya sekarang sudah lebih dari 150 juta yang rencananya akan ia gunakan untuk modal usaha online shop. Jika ia tidak terikat jam kerja, tentu banyak waktu fokus mencari jodoh.
Tentu saja jumlah tabungannya ia rahasiakan dari siapa pun. Agar tidak kejadian seperti Galih yang terlalu ia percaya, hingga ia beberkan jumlah komisi dan tabungannya.
"Kak, Kak Divya yakin mau resign? Kerjaan Kak Divya bagus lho. Bahkan Kak Divya sering dapat bonus tinggi."
Divya berlagak tidak mendengar terus fokus mengetik.
"Kak Divya.. Kakak denger Cinta nggak sih?" Suara Cinta meninggi.
Divya menoleh pada Cinta yang berusia 5 tahun lebih muda darinya.
"Tenang aja, Cinta. Kamu nggak usah kuatirin aku. Aku masih bisa bayar kost an. Nggak usah takut. Kamu tetep bayar setengah."
Cinta begitu cemas jika Divya tidak punya penghasilan. Ia bisa kost di tempat yang bagus ber AC dan ada kamar mandi di dalam dengan harga hanya 500 ribu karena join berdua dengan Divya yang membayar sama.
"Kamu nggak kerja, Cin?" Tanya Divya sambil menutup laptop.
"Ini mau mandi dan siap-siap. Shift Cinta kebagian sore minggu ini."
"Oohh..." Divya membuka laci mengambil mie.
"Ya udah aku mau ke dapur dulu. Mau masak mie. Kamu mau juga? Biar aku buatin sekalian." tawarnya.
"Nggak usah, Kak. Cinta bisa telat kerja kalo makan dulu. Lagian tadi Cinta udah makan roti bakar. Masih kenyang."
"Oke." Divya membawa sebungkus mie instan lalu keluar kamar menuju dapur.
Tiba di dapur dan mengambil panci.
"Eh telur sama sayurannya lupa." Ia menyimpan panci dan mie, lalu kembali ke kamar.
Baru mau masuk, ia mendengar suara Cinta.
"Iya Mas, Kak Divya malah resign dari pekerjaannya. Dia bakal sering di kost an. Mas jangan jemput Cinta ke sini lagi. Nanti ketahuan. Dia kan nggak tau Mas itu pacarnya Cinta."
Divya urung masuk, mendengarkan pembicaraan Cinta di telepon karena menyebut nama dirinya. Berarti yang menelpon itu mengenal dirinya.
Siapa itu?
Kenapa Cinta kuatir dirinya tahu?
"Mas Aldo jangan gitu dong. Kalo Cinta tiba-tiba pindah kost an, uang dari mana? Mas Aldo juga udah resign dari kantor, kalo sampai Kak Divya tau, bisa..."
"Bisa apa?"
Cinta kaget begitu pintu terbuka lebar, panik menyembunyikan HP-nya.
Divya melipat kedua tangan di dada menatap tajam Cinta.
"Jadi kamu tuh sebenernya pacaran sama Mas Aldo?"
"Ngg.. Kak, itu.. bukan.."
"Sini HP kamu."
"Ngg.. Kak Divya salah denger. Cinta bukannya..."
Divya tidak peduli dan merebut HP Cinta yang ternyata masih tersambung.
"Halo Cinta..."
Mendengar suara Aldo membuat emosinya naik. "Maksud kamu apa, Mas?"
Aldo terdiam mendengar suaranya. "Divya?"
"Maksud kamu apa ngelakuin ini sama aku? Cuma mau bikin aku malu?"
Aldo tidak menjawab.
"Pengecut kamu, Mas! Untung aja aku nggak jadi nikah sama b*nci kayak kamu!" Divya mematikan telepon dan melempar HP ke kasur.
Cinta gugup setengah mati, tak berani menatap Divya di depannya.
"Kita temenan udah lama. Maksud kamu ngelakuin ini itu apa?" Divya jalan mendekat membuat Cinta ketar ketir.
Sebenarnya Divya juga sudah tidak peduli penjelasan. Hanya saja ingin sekali menampar Cinta yang membuatnya seperti orang bodoh ditipu mentah-mentah.
Tanpa bicara, Divya keluar kamar. Lebih baik ia makan di warung dekat kost an.
"Kak, Kak Divya dengerin penjelasan Cinta dulu ..."
Tapi Divya tidak peduli teriakannya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments