Menjelang sore, Jefran dan Divya sudah meninggalkan tempat acara dan dipersilakan masuk kamar Jefran yang menjadi kamar pengantin mereka.
Pengantin baru dadakan itu pada diem-dieman kayak ABG pacaran yang lagi marahan.
Jefran langsung duduk di sofa memeriksa HP nya. "Fiona, lo di mana sih? Pasti lo cuma nge prank gue. Tapi tega banget, gue jadi nikah sama perempuan lain. Gue mesti gimana sekarang?"
Divya mendengus pelan. Jefran masih juga memikirkan Fiona yang sudah menipunya.
Seakan tak peduli, Divya ke luar kamar ingin meminta baju ganti pada Bi Esih.
Karena semua pakaiannya ada di kost an.
Begitu sudah dapat baju ganti, Divya kembali ke kamar. Suka nggak suka, mau nggak mau, ia harus menerima dirinya sekarang sudah menikah.
Dengan Jefran si berondong nyebelin.
Tiba di kamar, Jefran masih duduk di sofa, hanya melepas jas. Masih sibuk menghubungi beberapa orang untuk dapat info keberadaan Fiona.
"Tanya agensinya Fiona. Mungkin ada nomor kontak lain yang bisa dihubungi. Dan cari yang namanya Ganni. Fotografer yang dapat project pemotretan di agensinya Fiona. Dia terlibat hilangnya Fiona." Begitu titah Jefran pada kawannya yang bekerja di kantor detektif.
Divya tidak mau ambil pusing, langsung masuk kamar mandi.
Menggunakan kapas dan pembersih, ia menghapus make up di wajahnya. Begitu sudah bersih, ia melepas kebaya pengantinnya dan mulai mandi.
Sambil mandi, ia memikirkan yang terjadi. Dalam sehari, ia menjadi pengantin. Hari yang ia duga akan kacau karena Jefran ditipu, ternyata malah ia yang menggantikan posisi menjadi pengantin dan istri Jefran. Demi menjaga kehormatan keluarga.
Divya tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.
Bagaimana bisa ia menikah dengan pria yang sepanjang kenal saja selalu menyebalkan. Apa ia bisa menjalankan pernikahan yang harmonis?
Selesai mandi dan ganti baju, Divya keluar kamar mandi.
Jefran masih menekuk muka, kesal.
"Jef..." Divya duduk di sampingnya.
"Apaan?" Nada bicara Jefran dingin kayak es.
"Kamu bikin salah apa sama Aneth?" Tanya Divya membuat Jefran tersentak.
"Itu..."
"Salah apa?" Tanya Divya lagi. "Fiona bilang, dia mau bales karena kamu udah nyakitin Aneth. Fiona itu adiknya Aneth."
"Gue mana tau."
Divya menatapnya tajam. "Kita udah suami istri, bisa bicara lebih sopan?"
Jefran terdiam menyadari fakta dia dan Divya sudah menikah. Seketika mengubah cara bicaranya.
"Aku nggak tau. Waktu putus aja dia main pergi gitu aja."
"Yakin nggak tau? Cerita aja. Aku juga nggak akan marah."
Jefran berdecak kesal. "Nggak ada!"
Divya mencebikkan bibir, meledek. "Makanya jangan mainin perempuan. Kena kan kamu ditipu."
Jefran mendengus sebal. "Tau ah!" Ia masuk kamar mandi.
Divya geleng-geleng kepala dan keluar kamar hendak menemui Bapak.
Ternyata Bapak sedang bersama Nenek.
"Eh cucu Nenek.." sikap Nenek begitu beda daripada sebelumnya dia gagal menikah. Kentara Nenek begitu bahagia ia sudah menikah.
"Pak, Nek, gimana ya sekarang? Aku bingung tiba-tiba jadi menantu Pak Ardi." Curhat Divya.
"Kenapa bingung? Kan Pak Ardi sendiri yang meminta kamu jadi menantunya," kata Nenek. Nenek sudah dengar lengkap dari Bapak bagaimana ceritanya Divya menikah dengan Jefran.
Divya diam saja hanya memilin-milin ujung bajunya, gelisah.
"Sudahlah, terima dengan ikhlas sekarang kamu sudah menjadi istri dari Mas Jefran. Berbakti pada suamimu, layani dia dengan baik. Nenek masuk dulu. Nenek mau hubungi Mamang Beben di kampung, untuk memberitahu kamu sudah menikah. Nenek juga ada foto kalian berdua, Nenek akan tunjukkan sama keluarga kita di kampung." Nenek masuk kamar dengan gembira.
"Kamu kenapa Nak?" Tanya Bapak.
"Bingung aja kenapa jadi begini situasinya, Pak? Sekarang aku ini menantu Pak Ardi. Dan Bapak itu besan Pak Ardi."
Bapak mulai paham kegelisahan putrinya. "Bapak juga belum ada pembicaraan lebih lanjut dengan Pak Ardi. Kamu yang sabar, pasti Pak Ardi punya rencana."
Divya mengangguk.
Tidak mungkin Bapak masih bekerja sebagai tukang kebun jika sudah menjadi besan Pak Ardi.
Lalu Bapak dan Nenek harus ke mana?
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments