Divya memang kenal dengan Aneth, mantan pacar Jefran. Pernah beberapa kali ia bertemu di rumah. Namun seingatnya hubungan mereka sudah lama putus. Entah apa sebabnya.
Mereka tidak pernah membicarakan perihal hubungan asmara. Tentang Fiona pun Divya baru tahu model cantik itu menjadi calon istri berondong nyebelin Jefran.
Kalau benar yang Fiona katakan barusan, bahwa Fiona hanya mendekati Jefran untuk membalas sakit hati Aneth, kasian banget Jefran udah cinta mati malah dimainin.
"Pengen tau aja. Semenjak kalian putus, aku nggak pernah liat dia."
Jefran menyentil jidat Divya sebel.
"Iihh Jefran, apaan sih sopan dong aku ini lebih tua dari kamu.."
"Terus, gue mesti manggil lo Kakak gitu?" Jefran menutup map. "Gue kan udah putus sama Aneth. Nggak ada urusan gue harus ketemu dia."
"Emang kenapa kalian bisa putus?" Tanya Divya.
Jefran mengibaskan tangan. "Lo nggak perlu tau."
"Iya deh. Eh tapi dulu Aneth pernah cerita sama aku, dia punya adik perempuan."
"Iya dia juga pernah cerita sama gue. Kenapa emang?"
"Kamu tau siapa adiknya itu?"
Jefran menggeleng. "Namanya aja gue nggak tau. Aneth nggak pernah bahas lebih lengkap."
Divya jadi kasihan Jefran dipermainkan oleh kekasihnya. Fiona pasti adiknya Aneth. Dan karena Aneth sakit hati pada Jefran, adiknya beraksi menggoda Jefran hingga akan menikah dan berniat meninggalkannya agar malu.
"Eh gue harus ke kantor wedding organizer dulu. Lo ikut gue ya?" Jefran memanggil waitress dan membayar bill makanan minuman.
Begitu waitress pergi, Divya mengernyit heran.
"Emang aku pengangguran? Aku harus ke kantor lah. Masih ada pekerjaan."
"Yaelah hari ini kan lo udah dapet customer, lo harus temenin gue pokoknya."
"Tapi nanti atasanku nyariin. Panas tau ni kuping diomelin dia mulu."
Baru bilang begitu, HP Divya berbunyi.
"Tuh kan panjang umur. Baru aja diomongin." Divya mendengus kesal.
"Halo Pak Rido."
"Divya! Kamu ke mana sudah siang begini belum kembali ke kantor? Belum ada laporan juga. Kamu kan tau, time is money. Jangan sia-siakan waktu, cari customer lebih banyak dan jual banyak unit. Paham?"
Baru Divya mau menjawab, Jefran mengambil HP Divya dan berbicara.
"Saya Jefran Abdi Wirata. Saya membeli unit apartemen yang dipasarkan Divya."
"Ooohh Pak Wirata. Wah saya tersanjung anda membeli unit apartemen dari kami."
"Divya juga tidak kembali ke kantor hari ini, karena saya perlu penjelasan sangat detail tentang apartemennya. Tidak apa-apa?"
"Oh silahkan. Lagipula Divya sudah mencapai target hari ini. Tidak apa-apa dia tidak kembali ke kantor."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Telepon ditutup, Jefran mengembalikan HP pada Divya.
"Udah ni. Lo temenin gue hari ini. Bos lo udah serahin lo sama gue untuk malam ini."
Divya melotot galak, apalagi orang-orang dekat mereka mendengar yang pasti pada salah paham.
Jefran tidak peduli, menarik tangan Divya meninggalkan restoran.
***
Tiba di kost, Divya kelelahan.
Ia sampai mandi kilat dan membersihkan make up di wajahnya.
Lalu berbaring di kasur.
Sepertinya Cinta yang bekerja di hotel sebagai resepsionis akan pulang pagi.
Hari ini ia sungguh lelah, lelah bekerja, lelah mencari Aldo juga.
Pun lelah menemani Jefran wara-wiri ke sana-sini mempersiapkan pernikahan nya dengan Fiona.
Divya heran, harusnya Jefran mengajak Fiona bersama bukan dirinya. Namun Jefran beralasan Fiona sibuk.
Harusnya sesibuk apapun kalau urusan persiapan pernikahan begini di handle sendiri.
Barusan saja ia risih di kantor wedding organizer malah dikira dirinya calon istri Jefran. Karena yang datang biasanya berpasangan.
Teringat Aldo lagi, Divya belum menyerah menemukan lelaki itu.
Esok ia akan mendatangi apartemen tempat tinggal Aldo. Karena ia butuh penjelasan yang sejelas-jelasnya. Bukan penolakan tanpa alasan. Dia harus tuntaskan agar mendapat alasan membela diri jika ia disalahkan.
Baru mau terlelap, teringat pembicaraan Fiona dengan pria di telepon bernama Ganni tadi siang.
Divya menatap langit-langit kamar, dengan perasaan gamang. "Kalo bener yang aku dengar tadi, berarti Fiona nggak serius sama Jefran dan udah hamil oleh lelaki lain. Tapi mana mungkin Jefran mau percaya kalau aku cerita juga."
Tapi Jefran sendiri udah kadung cinta sama model bohay itu, sama sekali tidak curiga bahkan sejak perjalanan barusan Jefran tak henti membicarakan Fiona. Konsep wedding apa yang diinginkan Fiona, warna kesukaan, makanan kesukaan.
Divya hanya mendengar saja tak berminat menanggapi, orang sedang jatuh cinta emang berjuta rasanya.
"Aahh udahlah ngapain aku pikirin? Biar aja Jefran urus masalahnya sendiri." Divya memejamkan mata, baru beberapa detik matanya terbuka lagi.
"Apa aku kasih tau aja yang aku denger tadi? Ahh jangan deh, ntar aku dituduh fitnah. Cowok lagi bucin akut begitu yang ada aku disalahin."
Divya berusaha tidur.
Berbalik ke samping, matanya menyipit melihat kasur milik Cinta. Seprai pink fanta dengan motif hati merah.
Divya teringat ketika dirinya berjalan-jalan dengan Aldo ke mal, sedang hunting barang yang akan dibeli untuk mengisi rumah yang akan mereka huni begitu menikah.
Dan seprai itu...
Divya mengerjapkan mata, dan geleng-geleng kepala. "Cinta punya seprai yang aku mau untuk kamarku dengan Mas Aldo nanti. Ah mungkin kebetulan aja dia beli motif itu."
Meski begitu, tetap saja Divya kepikiran. Sampai akhirnya tertidur pulas.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments