"Terima kasih untuk Pak Abdul, sudah mengizinkan Divya menikah dengan Jefran."
Divya dan Bapak duduk menghadap Pak Ardi.
"Jujur, saya terkejut dengan kejadian hari ini. Semua sungguh di luar dugaan. Walau begitu, saya yang meminta Divya menikah dan sekarang Divya sudah menjadi menantu keluarga Wirata. Maka dari itu, Pak Abdul sudah bukan pekerja keluarga kami lagi. Saya nggak mau ada omongan buruk saya mempekerjakan besan saya di rumah."
Bapak dan Divya saling pandang. Ini yang dia takutkan sejak tadi. Di mana Bapak dan Nenek harus tinggal?
"Tidak usah bingung, Divya. Papa sudah menyiapkan tempat untuk Pak Abdul dan Bu Ira. Kamu nggak usah khawatir."
"Tempat apa, Pak? Eh Pa..." Divya agak canggung memanggil Pak Ardi dengan sebutan Papa.
"Sebagai ucapan terima kasih, Papa akan berikan rumah dan kebun. Pak Abdul bisa memulai bisnis florist di sana."
"Tidak perlu repot-repot, Pak Ardi. Saya dan Ibu akan pulang ke kampung saja." Bapak menolak dengan halus.
"Bapak mau tinggal dimana? Rumah kita di kampung kan udah nggak ada." Divya jadi cemas.
Ia ingat rumahnya di kampung sudah diratakan menjadi bendungan sejak 15 tahun lalu.
Dan selama ini kalau datang ke kampung mereka menginap di rumah Mamang Beben keponakan Nenek, saudara sepupu Bapak.
"Mohon diterima saja, Pak Abdul. Sebagai ucapan terima kasih dan hadiah kita sudah menjadi besan." Bujuk Pak Ardi.
Kebaikan Pak Ardi membuat Bapak tidak enak hati.
Lagi bicara begitu, Jefran turun tangga sudah mengenakan baju pergi, kemeja biru yang digulung sampai siku, dan celana jins hitam, sepatu kets putih.
"Pa, aku pergi dulu."
"Mau ke mana, Nak?"
"Ada urusan. Tolong bilang Mama ya, Pa." Jefran ngeloyor pergi membuat Pak Ardi geleng-geleng kepala.
"Anak itu benar-benar. Divya, ikut dengan suami kamu. Papa tidak mau dia aneh-aneh."
Divya mengangguk. "Baik, Pa. Pak, aku pergi dulu."
"Hati-hati, Nak."
Bergegas Divya menyusul Jefran.
***
"Ngapain kamu ikut?" Jefran heran Divya muncul.
"Kamu mau ke mana?"
"Bukan urusan kamu."
"Ya urusan aku dong. Pasti kamu mau nyari Fiona."
Jefran terdiam dan masih kesal Fiona pergi meninggalkannya.
Divya membuka pintu mobil. "Anter aku ke kost an."
"Ngapain?"
"Aku mau ambil barang-barangku."
"Pergi aja sendiri."
"Ya nggak apa-apa kalo nggak mau. Berarti kamu sekarang temenin aku belanja ke mal, karena aku nggak ada baju ganti."
Jefran benar dibuat tidak bisa bicara, akhirnya masuk mobil.
Sepanjang perjalanan menuju kost an, Jefran dan Divya tidak bersuara.
Tiba di kost an, Divya turun dari mobil.
"Mau nunggu di sini apa mau ikut masuk?" Tawar Divya.
"Masa' aku masuk kost an cewek?"
Divya mendengus sebal. "Ya kamu kan suami aku. Mau nginep di sini juga nggak akan digrebek." Ia melengos masuk kamar kost nya.
Jefran melepas seat belt. "Nasib apes gini sih, perawan tua gitu malah jadi istri gue." Ia turun dari mobil dan menyusul masuk kamar Divya.
Divya sibuk membereskan pakaian ke dalam tas. Jefran hanya duduk di kasur, sibuk dengan HP-nya.
Diam-diam Divya melirik Jefran yang cuek saja melihatnya beres-beres, nggak ada sedikitpun membantu. Takdir jadi istri berondong nyebelin, mau nggak mau harus aku terima, batinnya.
Divya membereskan alat jahitnya. Baru saja ia mau mulai membuat boneka, keahliannya sejak dulu, ia harus menikah dan menunda rencananya membuka online shop boneka Teddy Bear nya.
"Udah belum?" Tanya Jefran mulai bosan.
"Sedikit lagi." Divya masuk kamar mandi hendak membereskan alat mandinya.
HP Jefran berbunyi. Rion.
"Halo, Yon."
"Jef, gue baru nyampe Jakarta. Penerbangan delay jadi gue terlambat. Sorry nggak sempet dateng ke nikahan lo."
"Lo dimana sekarang?"
"Gue diajak clubbing sama Andre. Di tempat biasa."
"Gue ikut deh."
"Hah? Lo gila ya mau ikut? Ini kan malam pengantin lo. Lo malah mau ke club bareng gue."
"Ada hal yang nggak bisa gue jelasin di telepon. Nanti gue cerita. Oke. Gue on the way."
Begitu telepon ditutup, bertepatan Divya keluar kamar mandi.
"Aku ada urusan. Kamu pulang naik taksi aja."
Divya menatapnya tajam. "Kamu mau ke mana?"
"Ketemu temanku."
"Kalo gitu aku ikut." Kata Divya membuat Jefran kaget.
"Ikut? Nggak salah?"
"Kalo nggak boleh ikut, berarti kamu nggak boleh pergi."
"Berani ngelarang aku?"
"Kenapa enggak? Kita suami istri sekarang. Suka nggak suka, mau nggak mau, kita ini udah menikah. Dan aku nggak mau kamu pergi sendiri."
Nada tegas Divya membuat Jefran mati kutu.
Masa' mau seneng-seneng di club diekorin istri perawan tua?
"Ya udah, ayo pergi." Nggak punya pilihan selain setuju Divya ikut.
Divya menahan mangkel begitu Jefran keluar kamar begitu saja tanpa membantu membawakan tas barang-barangnya.
Nasib emang nikah sama anak manja.
Divya mengangkat beberapa tas ke bagasi mobil.
Setelah berbicara sebentar dengan Mang Udin penjaga kost an, karena Tante Anna pemilik kost an tidak ada di tempat, Divya berpamitan akan pindah dari kost an.
Ia masuk mobil, dan Jefran langsung tancap gas meninggalkan lokasi kost.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments