Tersesat

Tangan Siti meraih batu dan segera memeluknya. Meskipun begitu, arus sungai tetap berusaha menyeret tubuh Siti.

Satu tangan Siti terulur ke arah Tiger. "Tiger, aku mohon tolong aku."

Tiger menghela nafas. Dia melompat ke batu yang jaraknya lebih dekat dengan Siti, lalu dia berjongkok dan menatap Siti dengan tatapan yang tenang tanpa ada rasa khawatir.

"Aku bakal tolongin kamu asal kamu mau ngucapin kata sandinya dulu."

"Apaan sih? Kamu niat tolongin orang apa kagak?" tanya Siti jengkel dengan satu lengan yang semakin kuat mendekap batu agar tak terseret arus.

"Enggak," jawab Tiger singkat.

"Ya sudah sana, pulang!" Siti berteriak meluapkan rasa jengkelnya.

"Oke, aku bakal pulang. Tapi siapa yang bakal nolongin kamu?"

Siti terdiam. Lalu bergumam, "Iya, juga ya?"

Tak ingin ditinggal seorang diri berada di sungai yang semakin lama, alirannya semakin deras, Siti pun akhirnya berkata pada Tiger. "Ya sudah deh. Memang apa kata sandinya?"

Tiger tersenyum penuh makna. "Katakan, 'Tiger tampan, i love you'!"

"Idih, ogah amat aku ngucapin kalimat haram itu."

"Ya sudah kalau nggak mau mengucapkan kata sandinya, aku pulang nih," ledek Tiger yang hendak berdiri dan berniat meninggalkan Siti.

Sontak hal itu membuat Siti panik. Lalu dengan cepat Siti pun berkata, "Iya, ya, oke. Aku bakal bilang."

Seketika itu Tiger menghentikan pergerakan kakinya. Bibir Tiger melengkungkan senyum penuh kemenangan.

"Tapi kata sandinya bisa diganti nggak?" Siti berusaha mengadakan tawar menawar sambil bola matanya mengedarkan ke sekeliling mencari bantuan lain.

"Enggak," jawab Tiger singkat. "Ayo cepat katakan!"

Kemudian Tiger memutar badan agar bisa menatap Siti. Dia melipat tangan di depan dada menanti ucapan dari mulut Siti.

Sebelum mengucapkan kalimat yang membuat tubuhnya bergidik itu, Siti menelan salivanya dengan susah payah.

Lalu dia berucap dengan ekspresi jengkel, "Tiger tampan, i love you."

"Yang ikhlas dong," protes Tiger melihat wajah Siti yang seperti ingin baku hantam.

"Sudah ah. Orang kamu juga nolongnya nggak ikhlas."

Tiger semakin melebarkan senyum. Bahkan sampai gigi serinya terlihat. Lantas dia pun berjongkok dan mengulurkan tangan setelah setelah puas mengerjai Siti.

Namun, saat tangan Tiger terjulur dan menarik tangan Siti, justru dia yang tergelincir. Disebabkan batu yang diinjak Tiger terlalu licin dan mengakibatkan dia juga ikut tercebur ke dalam air sungai.

Alhasil baik Siti maupun Tiger terseret arus sungai. Keduanya berteriak minta tolong.

Namun, sayang. Mereka berdua berada di tengah hutan yang tak ada satu orang pun lewat.

Deras arus sungai membawa tubuh Siti dan Tiger yang berusaha untuk tetap menyembulkan kepala supaya bisa mengambil nafas.

Kemudian, Tiger melihat sebongkah kayu yang mengapung di permukaan sungai. Segera Tiger mengambil inisiatif berenang mendekati batang pohon tersebut.

"Sit, pegangan!" perintah Tiger seraya meletakan tangan Siti untuk berpegangan pada batang pohon.

Siti menurut. Maka kedua orang itu pun sama-sama memeluk batang pohon yang mengambang di atas permukaan air.

Perlahan mereka menepi ke bagian sungai yang airnya tidak terlalu deras. Lalu tiba-tiba saja, Tiger tertawa. Menjadikan Siti mengerutkan alis heran.

"Kenapa kamu ketawa?"

"Kita mirip Jack sama Rose di film Titanic ya? Itu lho yang pas adegan kecebur di tengah laut malem-malam," seloroh Tiger sambil cengengesan.

Sementara Siti memberengut. Dia tak habis pikir dengan Tiger yang masih bisa memikirkan adegan film di tengah keadaan genting.

Melihat Siti yang hanya diam dan acuh, Tiger pun kembali berceloteh, "Kamu tahu nggak film Titanic? Jangan bilang kamu nggak pernah nonton! Orang kampung biasanya cuma nonton layar tancap kan?"

Siti memilih untuk tidak menanggapi ucapan Tiger. Dia lebih fokus untuk berenang menepi hingga akhirnya tangan Siti mampu meraih akar pohon di tepi sungai.

Kemudian Siti menyeret tubuhnya ke atas tanah. Meski sekarang tubuhnya basah kuyup, tapi Siti selamat juga dan berhasil menginjak tanah.

Tiger yang meniru cara Siti menepi juga telah berada di daratan. Nafas pria itu terengah, rambutnya basah dan tampak ada sedikit lumpur mengotori wajah tampannya.

Siti memutar badannya, mengamati di mana mereka berada. Lalu wajah Siti mulai panik dan menegang kala dia tak mengenal hutan yang ada di sekitarnya.

"Gawat!"

"Apanya yang gawat?" Tiger bertanya dengan wajah tenang, karena dia belum menyadari bahaya yang akan dia hadapi.

"Kita tersesat."

"Apa? Tersesat?" Tiger berseru dengan manik mata nelebar sempurna tampak tak percaya.

Krik... Krik... Krik...

Beberapa saat mereka terdiam. Namun, tiba-tiba...

"Yes, tersesat. Kita tersesat," Tiger bersorak bahagia. "Akhirnya aku tersesat."

Melihat tingkah Tiger, Siti mendelikkan mata penuh keheranan. Sekali lagi dia tak habis pikir dengan sikap orang-orang kota.

Di saat semua orang pasti akan panik dan takut mengetahui mereka tersesat. Tapi berbeda dengan manusia bernama Tiger.

Dia malah bersorak gembira bak baru saja memenangkan lotre.

"Kamu gila apa ya? Kita tersesat dan kemungkinan kita nggak bisa balik lagi."

*

*

*

Diwaktu yang sama, namun di tempat yang berbeda, Farhan sedang sama girangnya seperti yang dirasakan Tiger.

Dan keheranan para warga sama persis seperti keheranan yang dirasakan Siti.

Pasalnya, baru kali ini ada pria dan wanita yang kepergok sedang bermesraan di tengah hutan lalu mereka dipaksa menikah, namun sang pria sama sekali tidak keberatan.

Justru dari pihak wanita yang sangat keberatan. Terlihat jelas dari raut wajah Rihana yang memajukan bibir seperti paruh bebek.

Beberapa kali Rihana menoleh pada Brian agar menolongnya dan menyelamatkannya dari pernikahan konyol itu.

Namun, Brian tidak bisa berbuat banyak. Sebab ada banyak warga yang melihat langsung bahwa Farhan dan Rihana tidur di dalam tenda yang sama dan dalam posisi saling memeluk.

"Bapak-bapak sekalian, saya bisa hubungi orang tua saya dulu nggak?" Rihana berusaha mencari alibi agar pernikahan konyolnya dengan Farhan batal.

Warga yang didominasi bapak-bapak itu pun saling menoleh. Lalu mereka mengangguk.

"Boleh," jawab salah satu warga. "Sekalian kita juga mau melapor ke orang tua kamu bahwa kamu sudah mencoreng nama baik kampung kita."

Mendengar ucapan si bapak itu, Rihana terlonjak kaget. Dia menggigit jari dengan menampakan wajah yang frustasi.

"Waduh, bagaimana nih? Berpikir! Berpikir! Ayo, Rihana, berpikir!" Rihana bergumam sambil memijat kedua pelipisnya.

"Jadi bagaimana? Jadi menghubungi keluarga kamu, nggak? Kalau nggak jadi, kita segera langsungkan akad pernikahannya."

"Tunggu!" pekik Rihana penuh dengan perasaan panik. "Tunggu, Pak! Saya baru ingat, Tiger, pacar saya nggak ada sejak semalam."

Farhan dan Brian yang mendengarnya terlonjak. mereka berdua baru ingat kalau Tiger sejak semalam belum kembali dari hutan.

"Oh iya, Tiger."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!