Farhan dan Brian hanya bisa pasrah kala mobil yang membawa mereka ke tempat entah berantah itu sudah pergi. Lalu mereka pun melempar pandangan tajam pada Tiger yang masih bisa santai.
"Tiger, jelaskan ini! Katamu, kita akan liburan, dan akan ada banyak cewek cantik. Tapi mana?" protes Farhan dengan suara yang menggebu-gebu.
"Iya, betul. Yang ada malah kita bakal menginap di rumah hantu seperti ini," imbuh Brian yang juga tak kalah kesal.
Seketika Tiger menekan jari telunjuk ke bibir. Sebagai tanda agar dua sahabatnya itu tidak menaikan suara.
Tiger menoleh ke arah rumah dan juga ke sekeliling. Memastikan tidak ada orang di sekitar mereka.
Kemudian, Tiger maju satu langkah lebih dekat dengan Farhan dan Brian. Dia berkacak pinggang layaknya bos bagi dua temannya.
"Kalian berdua sahabat setiaku atau bukan, hah? Kalau iya, temani aku di sini. Sampai masa hukumanku berakhir."
Baik Farhan maupun Brian sama-sama mengerutkan dahi mendengar penjelasan dari Tiger. Apalagi saat mereka mendengar kata hukuman, membuat keduanya langsung dapat menyimpulkan apa yang telah terjadi.
"Hukuman? Maksud kamu, kamu lagi dihukum untuk tinggal di sini?" tanya Farhan.
Tiger pun mengangguk sebagai jawaban.
"Terus kita disuruh temenin kamu di sini?" tanya Brian seringai tersungging di bibir. "Ogah ah. Mending kabur."
Satu detik berikutnya, Brian langsung memutar badan dan hendak lari menuju jalanan yang sepi di depan rumah. Namun, sayang, tangan Tiger lebih dulu menyambar bagian belakang kerah baju Brian.
Sehingga pria itu hanya bisa lari di tempat.
"Nggak bisa," tegas Tiger. "Kalian ini teman setia nggak sih? Lagian nih ya? Sisi positifnya, kita bisa menyegarkan pikiran di desa ini. Kita bisa cari cewek baru, kita bisa meninggalkan sejenak kesibukan kita di kota. Iya kan?"
Farhan menghela nafas. Badannya sungguh sangat lelah dan lengket oleh keringat. Belum lagi perjalanan di dalam mobil yang memakan waktu setengah hari membuat perutnya protes minta diisi.
Sehingga Farhan pun menyetujui permintaan Tiger. Lagi pula menurut Farhan, hari sudah mulai gelap dan dia tidak tahu desa apa yang mereka singgahi sekarang ini.
Mungkin di lain kesempatan, Farhan bisa pulang sendiri tanpa sepengetahuan Tiger. Begitulah pemikiran Farhan.
"Ya, sudah deh. Kita masuk aja yuk. Lagi pula kalau may pulang bagaimana caranya?" ucap Farhan yang ikut menarik lengan Brian untuk melintasi halaman rumah.
Mereka bertiga pun berjalan hingga berada di depan pintu masuk. Sejenak mereka saling menoleh satu sama lain.
Lalu dengan penuh keraguan, Tiger mengetuk pintu kayu berwarna coklat pudar itu.
Tak butuh waktu lama, terdengar suara derik pintu terbuka. Membuat tubuh tiga pemuda dari kota itu seketika mematung karena merasakan aura yang mencekam.
Cahaya remang senja menjadikan mereka tidak dapat melihat jelas wajah sang pemilik rumah. Apalagi dari dalam rumah pencahayaan lampunya juga terasa kurang.
Sampai pintu itu pun terbuka setengahnya, dan tampaklah oleh mereka seorang pria, mungkin berusia lima puluh tahun, dengan rambut dan brewok yang mulai beruban.
Pria itu mengamati tiga pria yang menjadi tamunya dari bawah sampai ke atas. Dahinya tampak mengerut hingga beberapa lipatan lalu memandangi wajah ketiganya dengan wajah terheran.
"Maaf, apa betul ini rumah Pak Mansur?" tanya Tiger dengan perlahan.
Pria itu bergumam dengan menatap tajam pada Tiger. Lalu dia pun berkata, "Kamu pasti Tiger, anak dari Tuan Elang, kan?"
Tiger tersenyum lebar, sebab pria itu tahu akan identitas dirinya. Sehingga Tiger tak perlu repot-repot memperkenalkan diri.
"Betul, Pak."
"Kalau begitu silahkan masuk!" Pak Mansur melirik ke arah Farhan dan Brian. "Tapi tunggu dulu! Kalian berdua siapa?"
"Kami temannya Tiger, Pak. Nama saya Farhan. Diambil dari nama bapak dan ibu saya," kata Farhan dengan penuh keramah tamahan. "Bapak saya bernama Farel, ibu bernama Hani. Digabung menjadi Farhan."
"Hmm, saya nggak nanya," kata Pak Mansur yang cukup membuat Farhan tertohok. Kemudian Pak Mansur menunjuk Brian. "Kalau kamu?"
"Saya Brian, Pak," jawab Brian sambil mencoba tersenyum ramah.
"Saya bukan nanya nama kamu. Tapi kamu siapanya Tiger?"
"Ooh, saya temannya juga, Pak. Kamu di sini mau ikut Tiger liburan."
Pak Mansur mengibaskan tangan, mengisyaratkan agar mereka bertiga masuk ke dalam rumah yang yidak terlalu banyak perabotan.
Di bagian ruang tamu, hanya ada empat kursi rotan dan meja kayu. Fi salah satu sudut, tergeletak radio di atas sebuah lemari kecil.
Tiger mengedarkan pandangan ke sekeliling dan dia menyadari jika rumah Pak Mansur hanya ada dua kamar.
Kemudian Pak Mansur pun menunjuk salah satu kamar yang letaknya paling dekat dengan dapur.
"Nah, kalian tidur di kamar itu. Jangan sungkan-sungkan! Anggap saja seperti rumah sendiri."
"Terima kasih, Pak," kata Farhan yang kemudian langsung berlari ke dalam kamar.
Di susul juga Brian dan Tiger yang juga berlomba untuk lebih dulu masuk ke dalam kamar. Tak mengehrankan jika mereka berebut masuk ke kamar. Sebab, mereka bertiga sungguh sangat penat dan ingin membaringkan tubuh.
Namun, begitu masuk, mereka melongo mendapati kamar yang berentakan. Seprei tak terpasang pada tempatnya, begitu juga bantal dan debu tebal berselimut di setiap sudut.
Lalu Tiger memutar badan menghadap kembali oada Pak Mansur.
"Pak, kenapa kamar kami berantakan?"
"Terus kenapa? Tinggal kalian bersihkan. Apa susahnya?" Kata Pak Mansur santai sambil duduk di kursi dan menyeruput cangkir kopinya.
"Tapi kita kan tamu, Pak," protes Brian ikut melayangkan protes.
Pak Mansur menoleh kepada tiga pemuda kota yang dia yakin selama hidupnya selalu dimanja.
"Saya kan sudah bilang, anggap seperti rumah sendiri. Kalau rumah kalian sendiri berantakan, ya tinggal dibereskan. Begitu kan, kalau kalian di rumah?"
Tiger berkacak pinggang dengan menghembuskan nafas kesal. "Nggak, Pak. Kita selalu perintah pembantu kami "
"Tapi sayangnya di sini nggak ada pembantu. Sudah sana rapikan kamar kalian sendiri. Kalau nggak mau, kalian bisa tidur di kandang ayam."
Mau tak mau, Tiger hanya bisa menghela nafas dan pasrah dengan perintah Pak Mansur. Dia sadar betul jika alasan utama dia dikirim ke ruamg Pak Mansur adalah agar but sa hidup mandiri.
Dan terbukti kini Tiger memang harus melalukan segala sesuatu sendirian. Meskipun begitu, Tiger tidak begitu khawatir sebab, dia datang bersama dua sahabatnya yang bisa dia jadikan babu.
"Hai, kalian berdua, bereskan kamar ini! Aku mau ke luar dulu sebentar." perintah Tiger yang langsung melesat pergi.
"Kamu mau kemana, Ger?" Teriak Brian namun Tiger tetap berjalan tanpa menjawab sepatah kata.
Tiger keluar melalui pintu belakang rumah yang ada di dapur. Begitu keluar, Tiger langsung di sungguhkan hamparan sawah menghijau dan sebuah bukit menjulang di kejauhan sana.
Membuat siapapun yang menadangnya pasti akan terpana. Wajah Tiger berubah berseri.
Rasa lelah karena seharian seketika lenyap secara ajaib. Semburat warna jingga di langit sore pun menambah indah pemandangan desa kecil itu.
Tak terasa langkah kaki Tiger sudah membawanya ke tepi sungai dan di sana dia mendengar suara wanita yang mengobrol riang.
Karena penasaran, Tiger pun menyibak rumput ilalang di depannya. Dan bola mata Tiger membola kala melihat sekelompok gadis sedang mandi di sungai.
Tiger tersenyum sambil bergumam, "Rezeki anak sholeh."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Azkayravelora
waadduhh Tiger nih ya...pasti dia suka banget ngelihat kayak gituan😄😄
2023-03-16
0