Malak

"Apa?" Tiger berseru setelah mendengar penjelaaan dari Pak Mansur bahwa mulai hari ini dia tidak akan menerima jatah uang sepersen pun dari ayahnya.

Tiger menunduk lemas dan menggelengkan kepala. Dia tidak akan menyangka sang ayah memang benar-benar bertindak setegas ini.

Tiger pun menghela nafas. Kaos yang dipakainya tampak ketat disebabkan basah oleh keringat.

Dari kaos yang ketat itu pula terlihat jelas postur tubuh Tiger dengan dada yang naik turun karena menahan rasa marah.

Sementara itu, Farhan dan Brian yang berada di sisi Tiger menepuk bahu sahabatnya. Berusaha untuk menghibur pria malang itu.

"Jadi, mulai hari ini kalian harus cari cara untuk menghasilkan uang dengan tangan kalian sendiri," kata Pak Mansur mengakhiri perbincangan kali ini dan dia pun masuk ke dalam rumah.

Farhan menatap Tiger yang masih tertunduk dengantatapan nanar. Jujur dia sangat kasihan pada temannya itu.

Bagaimana bisa orang tua Tiger sekarang menjadi tegas sekali pada Tiger? Padahal Elang dan Ayana sangat menyayangi Tiger sejak dulu.

"Ger, sabar!" ucap Farhan memberi nasehat. "Orang sabar pantatnya lebar."

Tiger menoleh menengok pantatnya. Lalu beralih menatap Farhan dengan sorot mata sinis.

Tahu Tiger akan mengeluarkan kata-kata kasar, Farhan pun hanya bisa menyengir lebar dan mengguncangkan bahu Tiger.

"Bercanda, Ger," kata Farhan buru-buru. "Begini saja deh. Sekarang kita pikirakan bagaimana cari di desa pelosok seperti ini?"

Tiger dan Brian terdiam. Hanya bedanya Tiger terdiam karena dia masih marah, sedangkan Brian diam karena dia menjaga jarak dengan Tiger.

Farhan menerawang ke atas mencari ide. Pasalnya dia pun kesulitan jika mencari uang. Apalagi di desa seperti Desa Rawuh.

Terbesit pikiran untuk kembali ke kota, namun ide tersebut langsung ditampik oleh ketiga pria dari kota itu.

Farhan tidak mau pergi dari desa, karena menurutnya inilah kesempatan Farhan untuk bisa dekat dengan Rihana. Untuk Brian sendiri alasannya karena dia ingin mendapatkan hati Siti terlebih dahulu sebelum pergi meninggalkan desa.

Karena tak kunjung mendapatkan ide, Tiger mengacak rambutnya yang semakin membuat berantakan. Lalu dia menggerang kesal dan pergi berlalu meninggalkankedua sahabatnya.

"Hai, Ger, mau kemana?" Farhan berteriak menatap punggung Tiger yang semakin lama semakin menjauh.

Namun Tiger sama sekali tidak menyahut. Dia terus berjalan dengan nafas memburu. Kedua tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih. 

Puncak amarah telah mengusainya sehingga dia nengikuti saja langkah kaki membawanya. Hingga tak terasa Tiger sampai di tepi sungai, barulah dia berteriak sepuasnya.

Tiger meluapkan segenap amarahnya melalui teriakan yang menggema di antara pepohonan. 

Kemudian Tiger menjatuhkan bokongnya ke atas batu besar. Dia duduk sambil menunduk dan merenung.

Tepat saat itu, Tiger mendengar suara samar-samar. Seperti orang wanita yang mengoceh. Di dorong rasa penasaran, Tiger pun mencari sumber suara tersebut.

Dia menengok ke kanan kiri. Ternyata suara itu berasal dari Siti yang berdiri tak jauh darinya 

Tampaknya Siti juga tidak menyadari keberadaan Tiger. Wanita itu sedang fokus pada ponselnya yang dalam mode merekam video.

"Bye, guys, sampai ketemu Miss Kitty di video-video selanjutnya," kata Siti sebelum akhirnya berhenti merekam.

Tiger mendengus dan memanggil Siti yang pada saat itu hendak pergi. "Hai, Siti."

Siti yang merasa dipanggil pun menoleh ke arah sumber suara. Dia berdecak dan menghela nafas jengah kala mendapati dirinya bertemu lagi dengan Tiger.

"Ada apa lagi?" tanya Siti sinis.

"Aku ingin minta pertanggungjawaban," kata Tiger singkat seraya menampilkan senyum penuh makna.

"Tanggung jawab apa? Perasaan aku merasa nggak bikin kamu hamil," sahut Siti enteng.

"Apa kamu nggak ingat? Tadi siang kucing kamu itu mencakar pipi aku. Nih buktinya," Tiger menunjuk pipinya yang terdapat tiga garis merah bekas cakaran kucing milik Siti.

Namun, Siti tampak santai menaggapi protes dari Tiger. Bahkan dia berkata, "Terus aku harus berbuat apa? Toh itu cuma belas cakaran kucing. Ntar juga sembuh."

"Aku mau minta uang buat berobat ke dokter. Siapa tahu kan kucing kamu ini menularkan penyakit rabies."

Siti mendengus, mengejek permintaan Tiger yang telihat konyol dan juga Siti sangat heran dengan pemuda kota satu ini.

Sebab baru pertama kali ini Siti mendapati seorang pria malak uang pada seorang wanita.

"Aku nggak mau," seru Siti tegas.

"Beri aku uang atau ciuman!"

"Hei, jangan kurang kamu ya!?"

Sebenarnya Tiger pun tak ada maksud memaksa. Dia hanya sedang butuh hiburan untuk melampiaskan rasa kesalnya.

Tiger mengcengkeram tangan Siti dengan sangat kuat secara tiba-tiba membuat wanita melototkan mata karena kaget.

"Hai, kamu mau apa?"

Tiger hanya diam. Dia mendorong bahu Siti sampai punggung Siti menabrak pohon kelapa yang ada di belakangnya.

Siti tampak ketakutan terlebih Tiger menampilkan senyuman licik yang membuat bulu roma Siti merinding.

"Awas kalau kamu macam-macam. Aku bakal teriak," ancam Siti dengan dada naik turun. Nafasnya tersengal di sebabkan dia sangat panik.

Tiger yang pada saat itu hanya sekedar bercanda, semakin mendekatkan kepalanya. Tiger tertawa dalam hati begitu melihat wajah Siti yang semakin ketakutan.

Namun, Tiger justru malah hanyut dalam permainannya setelah dia menghirup aroma harum dari tubuh Siti.

Tiger memejamkan mata dan menghirup nafas panjang. Tubuh Siti benar-benar harum, wanita itu bagaikan habis mandi kembang tujuh rupa.

Tiger yang kalap, tak bisa mengontrol dirinya. Dengan mata yang masih terpejam, dia semakin mendekatkan kepalanya dan tak bisa dipungkiri lagi, bibirnya pun menyatu dengan bibir Siti.

Seketika Siti semakin melotokan mata. Mendapati seorang pria menciumnya.

Apalagi ini adalah ciuman pertama bagi Siti.

Tiger tak bisa mengusai dirinya sendiri. Lidah Tiger menerobos bibir Siti lalu memainkan lidah wanita itu yang tetap diam tak bergerak.

Lidah Tiger terus memainkan lidah Siti seolah meminta gadis itu juga ikut menggerakan lidahnya. 

Meski benak Siti ingin memberontak, tapi tubuhnya justru merespon sebaliknya. Tangan Siti yang tadinya ingin memukul dada Tiger, malah hanya mencengkram kuat kaos pria itu.

Siti hanyut dalam ciuamn yang diberikan oleh Tiger. Begitu pula Tiger yang merasakan sensasi berbeda.

Jelas Siti berbeda dengan pacar-pacar Tiger yang sudah ahli dan ribuan kali berciuman dengan pria lain. Tiger tahu bahwasanya ini pertama kalinya Siti berciuman.

Tiger mengetahuinya dari pergerakan Siti yang sangat kaku dan masih takut-takut.

Sementara itu, tak jauh dari mereka ada sepasang mata yang mengawasi Tiger dan Siti berciuman. 

Orang itu mengepalkan tangan sangat kuat dan dadanya bergemuruh menahan amarah yang meledak. Ingin sekali dia meloncat ke sana dan memisahkan mereka berdua.

Terpopuler

Comments

Azkayravelora

Azkayravelora

Brian itu pastinya

2023-03-29

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!