Rihana Ingin Tinggal

"Tiger, Sayang, are you okey?" Rihana bertanya dengan nada mendayu-dayu. Dia menatap penuh khawatir pada tiga garis merah di pipi Tiger.

Sementara Tiger sendiri meringis merasakan perih akibat cakaran kucing abu-abu yang muncul dari dalam tas Rihana.

"Gimana ada kucing di tas kamu sih?" Tiger bertanya sambil menampilkan wajah sebal.

"Nggak tahu, Sayang. Tadi tuh…" ucapan Rihana berhenti mendadak kala dia menyadari satu hal.

Lantas Rihana pun menoleh ke belakang mencari sosok Siti. Namun, wanita desa iti sudah pergi entah kemana. 

Rihana menggeram kesal. Dia menghentakan kaki seraya mengepal tangan kuat-kuat.

"Ini gara-gara perempuan tadi, Tiger. Awas saja kalau aku ketemu dia pagi," geram Rihana.

"Ck, sudah deh nggak usah nyalahin orang lain. By the way, kamu ada urusan apa datang kemari?"

Seketika Rihana menggelayut manja di lengan Tiger. Senyum sempurna dia tampilkan untuk kekasihnya itu seperti biasa.

Namun kali ini ada yang berbeda, Tiger terkesan cuek bahkan tidak dia memalingkan muka.

"Aku kangen kamu, Sayang," kata Rihana manja. "Dan kamu juga berhutang penjelasan sama aku. Kenapa kamu bisa ada di tempat seperti ini?"

Tiger menghela nafas, lalu menjatuhkan dirinya di atas kursi kayu yang ada di teras rumah. Tanpa dipersilahkan Rihana pun mengikutinya dengan duduk di samping Tiger.

" Aku dipaksa tinggal di sini sama orang tua aku," jawab Tiger singkat tanpa memandang wajah Rihana.

"Tapi kenapa?"

Tiger mengangkat bahu dan baru lah dia melempar pandangan menatap Rihana. Jika pada biasanya dia akan berbohong demi membahagiakan kekasihnya.

Tapi berbeda dengan sekarang. Entah apa yang membuat Tiger merasa lelah untuk menyenangkan hati Rihana. Kali ini dia ingin menjawab jujur meski akan melukai hati wanita itu.

Toh, Tiger tidak peduli lagi pada Rihana sebab dia sudah berniat mensedekahkan pacarnya pada Farhan.

Maka Tiger pun menceritakan pada Rihana perihal alasan dia dikirim ke kampung Rawuh karena dia yang selalu menghamburkan uang demi membiayai keinginan Rihana.

"Jadi sekarang kamu salahin aku?" Rihana bertanya dengan bibir di manyunkan setelah mendengar penjelasan dari Tiger.

"Aku nggak salahin kamu. Memang kenyataannya seperti itu kan?"

Rihana melongo saking terkejutnya dengan jawaban Tiger. Lalu Rihana menyipitkan matanya dengan tatapan penuh selidik.

Rihana mencurigai perubahan sikap Tiger yang tiba-tiba saja menjauhinya.

Ada rasa sesak di dalam dada Rihana. Tentu saja dia tidak terima jika pria yang dia cintai memiliki kekasih hati yang lain.

"Lebih baik sekarang kamu pulang lagi saja ke kota. Sebab aku nggak tahu mau sampai kapan akan tinggal di sini?" kata Tiger yang hendak berdiri meninggalkan Rihana.

Namun, tepat saat itu juga Rihana menahan lengan Tiger, meminta agar pria itu tetap berada di sisinya.

"Aku juga mau tinggal di sini," ucap Rihana tegas.

"Enggak," Tiger lebih tegas lagi. "Kamu pikir ini tempat penampungan."

"Tiger, akhirnya aku bisa nyalain apinya," Farhan dari dalam rumah tiba-tiba saja berseru sambil berlari girang.

Akan tetapi suara kegirangan Farhan berhenti mendadak kala dia melihat ada Rihana. 

Sontak membuat Farhan salah tingkah. Dia buru-buru mengusap pipinya yang menghitam karena terkena arang.

Lalu Farhan menyisir rambutnya menggunakan jemari. Tentu saja Farhan lakukan itu karena ingin terlihat keren di depan Rihana.

"Rihana? Kamu ada di sini?" Farhan bertanya berbasa-basi.

Rihana memutar bola matanya malas sambil melipat tangan di depan dada. Sungguh dia tidak berniat berbincang dengan Farhan.

Meskipun begitu dia tetap menjawab dengan ketus, "Ya kelihatannya aku di sini. Memang di mana lagi?"

"Mending kaluan bicara berdua, aku mau ngurus singkongnya Pak Mansur," Tiger yang merasa waktunya terbuang sia-sia berniat masuk ke dalam rumah.

Tapi sekali lagi Rihana menarik tangan Tiger seolah tidak mau jauh darinya. Lalu dia merengek layaknya anak kecil yang minta dibelikan es krim pada ibunya.

"Tiger, pokoknya aku mau tinggal di sini sama kamu. Titik."

"Nggak bisa. Di rumah ini penghuninya cowok semua. Kamu mau jadi korban gangbang."

Mendengar hal itu, Farhan pun langsung tanggap dan mengerti akan apa yang sedang terjadi. 

Tentu saja ada rasa senang mendapati Rihana ingin tinggal di desa. Itu berarti Farhan memiliki kesempatan dekat dengan Rihana.

Lantas Farhan pun ikut berbicara, "Ger, biarkan Rihana tinggal di sini saja kenapa? Mungkin dia juga butuh liburan."

"Iya bener," Rihana mengangguk setuju. 

Meski sejatinya Rihana tidak menyukai Farhan tapi saat ini dia sedang membutuhkan dukungan.

Sedangkan Tiger hanya bisa menarik nafas untuk menangkan pikirannya. "Oke, dia tinggal di sini. Tapi kalian ingat, ini bukan rumah aku. Jadi kalau Rihana ingin tinggal, dia harus minta izin dulu sama Pak Mansur."

*

*

*

"Jadi bagaimana, Pak Mansur? Rihana boleh tinggal di sini kan?" Farhan bertanya setelah menceritakan dari A sampai Z alasan Rihana ingin tinggal di desa.

Pak Mansur yang kala itu baru pulang dari sawah mendapati seorang tamu wanita dan dirinya langsung diminta untuk duduk. Lalu Farhan bercerita panjang lebar.

Pak Mansur diam sejenak. Dia mengusap dagunya sambil melirik Rihana dan Farhan yang duduk bersebelahan.

"Boleh," jawab Pak Mansur pada akhirnya.

"Yyeeeaahh," Rihana dan Farhan bersorak riang secara bersamaan hingga membuat Pak Mansur terlonjak kaget.

"Tapi," kata Pak Mansur melanjutkan dan menjadikan Rihana dan Farhan diam.

"Dia nggak boleh tinggal di rumah ini."

"What?" pekik Rihana kaget. "Terus aku mau tinggal di mana dong. Masa iya aku tinggal di dalam mobil."

"Maaf, Mba. Di desa berbeda dengan di kota. Kalau ada laki-laki dan perempuan bukan mahrom tapi tinggal di satu rumah, nanti dikkawatirkan akan timbul fitnah," jelas Pak Mansur seraya memandang penampilan Rihana. "Apalagi Mbak ini pakai baju yang seperti kurang bahan."

"Ini fashion, Pak. Bukan kurang bahan," Rihana memprotes dengan menampilakan wajah masam.

Baru beberapa detik yang lalu dia sangat senabg diizinkan tinggal di Desa Rawuh. Tapi malah diminta untuk tidak serumah dengan Tiger dan lebih parahnya, penampilan Rihana juga kena kritikan Pak Mansur.

Namun, untung saja Farhan langsung sigap menjadi penengah. 

"Jadi, selama Rihana tinggal di sini, dia akan tinggal di mana, Pak Mansur?" Farhan bertanya agar topik pembicaraan tidak melebar kemana-mana.

Pak Mansur mengernyit tanda bahwa dia sedang berpikir. Dia mengusap dagunya beberapa kali hingga dia menganggukan kepala mantap.

"Dia bisa tinggal di rumahnya Pak RT. Di sana dia bisa tingal bersama anak perempuan Pak RT."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!