Liburan

Pagi hari, terasa berat bagi seorang Tiger. Pria dua puluh tiga tahun yang melangkah ke keluar rumahnya. Di halam rumah sudah ada sebuah mobil hitam yang menunggunya.

Tiger menghela nafas. Dia berbalik memandang rumah besar yang menjadi tempat dia tumbuh sejak kecil. Di rumah itulah dia menghabiskan masa kecilnya dengan bermain bersama mendiang Kakek Bram.

Namun, hari ini dia akan berpindah ke tempat yang asing. Bahkan dia tidak tahu tempat seperti apa yang akan dihadapinya nanti.

Tak jauh dari tempat Tiger berdiri, Ayana dan Elang memandang sang anak dengan perasaan tidak tega. Akan tetapi sekali lagi mereka menegaskan pada diri mereka sendiri jika ini adalah salah satu jalan terbaik.

"Nanti kamu di sana akan tinggal sama seorang kakek bernama Pak Mansur. Beliau itu orangnya baik kok tapi dia juga orang yang tegas," kata Elang memberi nasehat kepada anaknya.

Tiger mendengarkan perkataan sang ayah sambil lalu. Saking berat hatinya dia harus pergi dari rumah.

"Apapun yang dikatakan oleh Pak Mansur, kamu harus nurut. Oke?" tambah Ayana.

Tiger hanya menganggukan kepala tanpa berbicara apapun. Bahkan dia tidak memandang ayah dan ibunya sampai dia masuk ke dalam mobil.

Ayana dan Elang tetap berdiri di tempat mereka sampai mobil yang ditumpangi Tiger berbelok di jalan raya. Lalu Ayana menghembuskan nafas berat, seberat hatinya yang harus melepaskan sang anak.

Elang pun menoleh pada Ayana. Dia tahu persis bagaimana perasaan saat ini. 

Sehingga dia mengulurkan tangannya ke pundak Ayana, mengusapnya dengan lembut sambil memberikan semangat.

"Aku tahu ini berat, tapi menurutku Tiger memang harus dijauhkan dari kemewahan yang sudah dia dapat selama ini," ucap Elang menyakinkan Ayana.

"Tapi apa dia mampu bertahan di luar sana? Secara kan, kita sudah memanjakan dia sejak kecil."

"Kamu tenang saja. Dulu pun aku meninggalkan rumah besar ini lalu tinggal di kontrakan kecil," kata Elang seraya tersenyum penuh makna. 

Tangan Elang yang sedang merangkul Ayana semakin dia eratkan. Sehingga tubuh Ayana semakin terjerembab di dalam pelukan Elang.

Kemudian Elang berbisik, "Lagi pula dengan perginya Tiger, kita bisa berdua tanpa ada yang mengganggu. Iya kan?"

"Ck, kamu kok malah pikirannya ke sana sih," gumam Ayana yang sudah tahu keinginan suaminya.

Sedangkan Elang hanya tersenyum. Tanpa aba-aba, seketika dia menggendong Ayana. "Ayo, kita bikin anak lagi."

Detik berikutnya, Elang pun bergegas membawa Ayana ke dalam kamar.

Di waktu yang sama, Tiger tetap memasang wajah murung sambil memandang ke luar jendela. Pepohonan di pinggir jalan terlihat seperti bergerak melewatinya. 

Namun, tiba-tiba Tiger menoleh pada sang sopir yang duduk di depannya. Lalu Tiger meminta sopir itu mampir sebentar ke rumah Farhan, salah satu sahabat Tiger.

Sang sopir menurut saja tanpa banyak protes. Dia membelokkan arah setir kemudi sesuai petunjuk dari Tiger. 

Lalu tak sampai lima belas menit, mobil mereka sampai di sebuah rumah mewah tapi masih kalah besar dengan rumah Tiger.

Secepat kilat, Tiger turun dari mobil dan langsung bergegas berjalan masuk ke dalam rumah. Dia tidak perlu mengetuk pintu, karena orang tua Farhan sudah sangat mengenal Tiger. Begitu pula para penjaga di sana. 

Mereka membiarkan saja Tiger menyelonong masuk begitu saja. Karena tuan rumah mereka pun tak melarang. Bahkan sudah menganggap Tiger seperti anak sendiri.

Tiger masuk hingga di sampai di sebuah tepi kolam renang. Di sana ada Farhan dan satu lagi sahabat mereka bernama Brian.

Tiger, Farhan, dan Brian sudah berteman sejak mereka bayi. Hubungan mereka terjalin karena orang tua mereka pun saling berteman.

"Farhan, Brian," panggil Tiger pada dua sahabatnya yang bertelanjang dada seraya mencelupkan diri di tepi kolam.

"Hai, Bro," sapa Brian. "Dari mana aja? Sibuk terus ngurus cewek ya?"

Farhan tertawa seperti membenarkan perkataan Brian. "Tega banget ya kamu, Ger. Cewek terus yang diurus sampai lupa sama teman. Aku tebak nih, kamu datang ke sini pasti karena kamu baru diputusin sama salah satu dari pacar kamu kan?"

"Justru aku tuh sudah memutuskan semua pacar aku demi kalian tahu," jawab Tiger sombong.

Farhan dan Brian saling menoleh dengan menampakan tak percaya.

"Masa sih?"

"Ya iya lah. Aku tuh datang kemari mau ngajak kalian jalan-jalan. Mau nggak?" kata Tiger berkacak pinggang. " Semua biaya aku yang tanggung."

"Emang liburan kemana?" tanya Farhan.

"Ada deh. Nanti juga kalian tahu. Pokoknya nanti kita cari cewek-cewek cantik di sana."

Seketika Farhan dan Brian bersorak girang. Mereka langsung mentas dari kolam renang dengan badan yang masih basah mereka menatap Tiger dengan mata berbinar.

"Serius, Tiger?" tanya Brian menyakinkan dirinya.

"Serius lah," jawab Tiger sambil berusaha menyembunyikan senyum nakalnya. "Kalian cepat siap-siap. Bawa baju ganti yang banyak, karena kita bakal menginap lama. Aku tunggu di mobil."

Kemudian Tiger memutar badannya. Dia terkekeh pelan sambil melangkah keluar rumah.

Seperti yang diperintahkan, Farhan dan Brian segera berkemas. Farhan membawa tas ransel yang terlihat besar.

Sementara Brian yang tidak mau pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Akhirnya memaksakan diri untuk meminjam baju-baju milik Farhan.

Dua sahabat itu masuk ke dalam mobil bergabung dengan Tiger yang sudah menunggunya. Mereka sama sekali tidak tahu bahwasanya, mereka sedang dimanfaatkan oleh Tiger.

Selama perjalanan pun Tiger tidak memberitahu Farhan dan Brian akan kemana mereka pergi. Karena pada dasarnya, Tiger juga tidak tahu menahu tentang desa yang menjadi tempat tinggal Pak Mansur.

Yang Tiger tahu, Pak Mansur dulunya adalah mantan pegawai di perusahan Elang. Namun, sudah lama pensiun dan menghabiskan waktu di desa.

Hampir separuh hari mereka lewati di dalam mobil. Perjalanan begitu melelahkan dan membuat badan terasa pegal meski mereka berada di dalam mobil mewah.

Sampai akhirnya mobil pun berhenti. Si sopir mengatakan jika mereka telah tiba di tempat tujuan. Sontak Brian dan Farhan yang saat itu setengah mengantuk langsung membelalakan mata.

Dengan penuh semangat, mereka turun dari mobil. Akan tetapi senyum mereka pudar dalam hitungan detik tatkala pemandangan yang mereka lihat.

Bagaimana tidak?

Apa yang ada di depan Farhan dan Brian adalah sebuah rumah tua di pinggir sawah. Dedaunan kering berserakan di halam rumah yang dicat warna abu-abu namun sudah mengelupas di mana-mana.

"Tiger, ini tempat wisata kita? Kamu yakin?" tanya Brian pada Tiger yang baru saja menapakan kakinya dari dalam mobil.

"Iya," jawab Tiger santai.

"Kita tinggal di rumah ini?" kali ini Farhan yang bertanya sambil berharap tebakannya salah.

"Kata Daddy aku, iya. Kita akan tinggal di sini."

Secara bersamaan, Farhan dan Brian langsung memutar badan dan hendak masuk kembali ke dalam mobil. Namun, sayang mobil yang membawa mereka sudah melesat pergi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!