Kamu Lagi

Malam hari, semua sunyi. Terlebih di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota. Hanya ada suara jangkrik menjadi musik pengantar tidur penduduk desa.

Suasana sunyi dan juga lelah seharian beraktivitas, membuat Farhan tidur lelap. Namun, berbeda dengan dua sahabatnya yang tidak bisa tidur malam ini.

Ialah Brian dan Tiger. Mereka bertiga tidur di sebuah kasur yang tergeletak di atas lantai. Tidak ada dipan sehingga hawa dingin sungguh terasa menusuk tulang.

Akan tetapi bukan itu penyebab utama Brian dan Tiger tidak bisa tidur.

Dua pria itu sama-sama tengah memikirkan seorang wanita yang sama.

Tiger yang tidur di ujung kanan Farhan, beberapa kali mengusap pipinya bekas tamparan wanita bernama Siti.

Sedangkan Brian yang tidur di sisi kiri Farhan, sekaligus yang paling dekat dengan tembok, hanya memandang kosong ke arah langit-langit.

Bibirnya sejak tadi tersungging senyuman yang tak pernah pudar. Ingatannya melayang pada pertemuannya pada Siti, putri dari ketua RT.

Flashback on.

"Kamu tadi bilang apa?"

Brian gelagapan saat dirinya kelepasan bicara. Lantas dia pun melempar pandangan ke arah sawah yang membentang di samping rumah.

"Enggak. M-maksud aku, pemandangannya cantik."

Siti hanya mengangkat bahunya. Bersikap acuh pada Brian. Setelah meletakan semua cangkir dia pun berlalu pergi.

Namun, kala itu, Brian menjadi tidak tenang. Dia selalu menoleh ke dalam pintu rumah. Berharap pandangannya bisa menangkap sosok Siti di dalam sana.

Sayangnya, sampai Pak Mansur mengajak Brian pulang, Brian tak bisa lagi bertemu Siti.

Flashback off.

"Pokoknya besok aku harus ketemu dia lagi," gumam Brian dan Tiger bersamaan.

Detik berikutnya, dua pria itu menoleh satu sama lain dengan memasang wajah terheran.

"Kok kita bisa samaan ya?" tanya Brian. Dia pun menyipitkan mata penuh selidik. "Jangan bilang, kamu nemu cewek cantik, Ger!"

Tiger terkekeh. Tanpa menjawab pun, Brian sudah mengambil kesimpulan bahwa benar Tiger telah menemukan wanita pengganti Rihana dan Miranda.

Lantas Brian pun menyeringai sambil menggelengkan kepala tak percaya.

"Heran ya aku. Kamu tuh jago banget kalau urusan cari cewek cantik."

"Tiger gitu loh," ucap Tiger penuh percaya diri. "Lah kamu sendiri?"

Brian tersenyum semringah. "Aku juga baru saja nemu cewek cantik, Ger. Pokonya, lebih cantik dari cewek-cewek di kota. Nggak nyesel deh aku ikut kamu ke desa ini."

Beberapa saat mereka terdiam. Lalu tiba-tiba Brian terlonjak duduk dan raut mukanya berubah sangat bahagia layaknya seorang pengemis memenangkan lotre.

"Tiger," panggil Brian pada Tiger yang sudah mulai merasakan kantuk.

"Bagaimana kalau kita cari cewek di sini, terus kita nikahin mereka."

Tiger mendengus tanda mengejek pada Brian. "Memangnya orang tua kita bakal setuju? Apalagi aku. Aku datang ke sini kan karena sedang dihukum."

"Justru itu, Ger," kata Brian semangat. "Justru karena kita jauh dari orang tua, kita bisa nikah kontrak sama cewek-cewek di desa ini. Rata-rata kalau cewek desa itu, mereka gambang dirayu, gampang dibohongi, dan gampang diajak nikah."

"Itu namanya mempermainkan wanita, Bri."

Plak.

Mendadak Brian memukul jidat Tiger dengan keras. Dia sangat gemas dengan ucapan Tiger yang keluar dengan wajah polos dan sok bijak.

"Hey, memangnya yang selama ini kamu lakukan itu bukan mempermainkan wanita, Ger?" Brian balik bertanya.

Membuat Tiger mengerutkan dahi dan berpikir sejenak. "Iya juga ya?"

"Terserah kamu aja deh, Tiger. Kalau kamu nggak setuju juga nggak apa-apa. Yang penting, aku bakal berusaha untuk dapetin cewek yang buat aku nggak bisa tidur malam ini. Titik."

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Brian langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke tembok. Dia menarik selimutnya sampai menutupi kepala.

Lalu tak terdengar suara apapun dan tidak ada pergerakan sedikitpun dari tubuh Brian.

Sementara itu, Tiger menghela nafas panjang. Kini tinggal dirinya yang masih terjaga.

Suara jangkrik di luar sana semakin terdengar keras. Begitu pula suara dengungan nyamuk di dekat telinga, tak dipedulikan oleh Tiger.

Dia terus memandang langit-langit kamar yang ada sarang laba-labanya. Lalu tanpa sadar dia tersenyum.

"Terpenting cewek yang diincar Brian, bukan cewek yang tadi sore nampar aku. Titik."

Tak berselang lama, Tiger pun ikut terlelap dengan sendirinya. Tiga pria yang selalu tidur di kasur empuk itu selalu tarik menarik selimut dan juga saling tendang menendang selama tidur.

Hingga tak terasa sinar matahari pun menyingsing. Suara ayam berkokok dengan sangat nyaring.

Namun, tiga pemuda dari kota masih terlelap bak bayi yang berada di dalam gendongan sang ibu. Lalu tiba-tiba…

Brak.

Pintu kamar menjeblak terbuka, menampakan Pak Mansur yang masuk dengan mata melotot. Dia berjalan sembari menghentakan kaki dan menarik selimut yang menutupi tubuh Tiger, Farhan dan Brian.

"Kebakaran! Kebakaran! Tolong, ada kebakaran!" teriak Pak Mansur sangat keras.

Membuat ketiga pemuda dari kota langsung terlonjak bangun dengan bola mata yang membelalak lebar. Bukan hanya itu, saking paniknya Farhan sampai melompat turun dari kasur dan menoleh kanan kiri.

"Mana kebakaran? Mana?" tanya Farhan cemas.

"Iya, Pak Mansur. Mana yang kebakaran?" Brian bertanya sambil mengucek mata.

Tiger yang juga masih setengah mengantuk pun ikut menoleh kanan kiri, mencari asap atau api yang menjadi pemicu kebakaran.

"Kebakaran di mana sih?"

"Ini jenggot saya yang kebakar lihat kalian bertiga masih tidur jam segini," bentak Pak Mansur bercakak pinggang dan melotot pada Farhan, Tiger dan Brian secara bergantian.

Serempak tiga pemuda itu pun menghela nafas serta memutar bola mata. "Yey, kirain apaan."

"Jangan mentang-mentang kalian tamu di sini, lalu kalian seenaknya saja. Kalian pikir, kalian datang ke sini untuk tidur-tiduran."

"Terus, kita harus apa, Pak Mansur?" tanya Brian yang kemudian menguap lebar.

"Kalian pergi ke sungai, terus kalian mandikan kambing-kambing saya."

"Kita di sini kan cuma menamani Tiger. Jadi yang seharusnya kerja itu ya Tiger dong, Pak," protes Farhan yang tidak mau diperintah memandikan kambing.

Namun, Tiger sendiri hanya diam beberapa saat. Dia termenung saat Pak Mansur menyebutkan kata sungai.

Lalu Tiger menyeringai sambil di dalam hati berharap dapat bertemu lagi dengan Siti. Kemudian Tiger pun berdiri penuh dengan semangat berapi-api.

"Baik, Pak. Mana kambingnya?"

Farhan dan Brian langsung melempar pandangan pada Tiger dengan sorot mata tak percaya. Bahkan mulut Farhan dan Brian yang terdapat garis air liur kering melongo lebar.

"Kamu yakin, Ger, bisa mandiin kambing?" tanya Farhan tak percaya.

"Iya tuh. Bukannya kamu mandi sendiri saja harus dibantu sama pelayan?" imbuh Brian.

"Enak saja. Tentu saja aku bisa lah," Tiger berkata dengan sikap percaya diri maksimal.

Sayangnya, apa yang dibayangkan Tiger tidak semudah kenyataannya. Bahkan baru saja Tiger keluar rumah dan Pak Mansur melepaskan sepuluh ekor kambing, Tiger langsung berlari kencang.

Di belakang, Tiger kesepuluh kambing juga ikut berlari siap menanduk pantat Tiger.

Melihat pemandangan itu, Brian dan Farhan hanya bisa tertawa terpingkal. Sebab baru kali ini mereka melihat ada kambing yang mengejar harimau (Tiger). Bukan Tiger yang mengejar kambing.

Di saat Tiger berlari sambil sesekali menoleh ke belakang, dia tidak melihat orang yang berjalan di depannya. Sehingga tabrakan pun tak dapat terelakan.

"Auw," jerit wanita yang ditabrak Tiger kala dirinya tersungkur ke atas tanah.

Lalu wanita itu mendongak untuk melihat orang yang telah menabraknya. "Kamu lagi. Kamu lagi."

Terpopuler

Comments

Azkayravelora

Azkayravelora

jodoh nihh setiap kali keluar pasti ketemu

2023-03-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!