Cara Mandi Kambing

Tiger menoleh pada wanita yang baru dia tabrak. Beberapa makanan yang terbungkus daun pisang jatuh berserakan di tanah.

Ternyata wanita itu adalah Siti. Wanita yang kemarin Tiger lihat mandi di sungai. Siti mendengus kesal pada Tiger namun buru-buru dia memungut satu per satu makanan yang berserakan.

Belum sempat mengeluarkan satu patah kata, Tiger dikejutkan oleh suara kambing yang mengejarnya. Lantas dia pun melonjak kaget dan langsung bersembunyi di balik punggung Siti.

"Siti, tolong aku, please!" pinta Tiger yang bersembunyi di balik punggung Siti.

Sesekali Tiger mengibaskan tangan untuk mengusir kawanan kambing yang kini mengerubunginya. Sedangkan Siti hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah pria dari kota tersebut.

"Apaan sih? Gitu aja takut," kata Siti dengan nada mengejek. 

Lantas Siti pun menggiring sepuluh ekor kambing itu ke tanah lapang yang dekat dengan sungai. Kawanan kambing itu langsung memakan rerumputan hijau yang ada di sana.

"Sekalian dong mandiin kambing-kambingnya Pak Mansur," pinta Tiger dengan memasang wajah tanpa dosa.

Siti mendengus sebal. Tentu saja tidak mau akan permintaan Tiger itu. 

Dia lebih memilih memlaingkan muka dan hendak beranjak pergi. Namun, salah satu tangannya dicegat oleh Tiger.

"Kalau kamu nggak mau. Seenggaknya ajarin aku mandiin kambing."

"Aku nggak mau," jawab Siti tegas seraya menepis tangan Tiger agar terlepas dari tangannya.

Tiger yang pada dasarnya selalu dimanja sejak kecil. Merasa terhina jika permintaannya ditolak dengan tegas. Apalagi oleh seorang wanita.

Dia pun menarik kuat tangan Siti ke arah sungai. Niat hati hanya ingin mencegah Siti untuk tidak pergi, namun yang terjadi malah Siti terjebur ke dalam sungai.

Siti pun menjerit karena kaget. Dia segera berdiri ke aras sebuah batu di tepi sungai lalu memandang ke bawah tubuhnya yang sudah basah kuyup.

Lalu dia melempar pandangan sebal ke arah Tiger yang sedang menarik tali kekang salah satu kambing dan menyeret kambing itu ke sungai.

"Nah, sekarang ajarin aku cara memandikan kambing," kata Tiger.

Siti menghela nafas jengah. Dia membuang muka dengan tangan terlipat.

"Aku nggak mau," jawab Siti tegas.

"Aku bakal bayar kamu."

"Enggak," tolak Siti dengan meninggikan suaranya. "Sudah bersyukur aku mau bantu kamu bawa kambing-kambing itu ke sini. Selebihnya, itu urusan kamu sendiri."

Tak mau berlama-lama berhadapan dengan pria kota yang menyebalkan, Siti pun berbalik badan dan berjalan meninggalkan sungai.

Akan tetapi baru beberapa langkah, tiba-tiba Tiger berteriak yang membuat Siti memutar badannya. Dia terperangah kala tak mendapati Tiger.

Dia pun menoleh mencari sosok pria kota yang sudah dua hari ini bertemu dengannya. Namun, dia tidak melihat Tiger di mana-mana. 

Hanya ada satu ekor kambing yang tadi sempat ditarik Tiger di tepi sungai. Selebihnya tak ada siapapun di sekitar sana.

"Woy, orang kota," teriak Siti dengan raut wajah panik.

Tak ada sahutan apapun. Hanya terdengar suara gemericik air sungai. 

"Waduh. Jangan-jangan tuh orang tenggelam," gumam Siti yang langsung menghampiri titik di mana Tiger terakhir kali terlihat.

Lalu tiba-tiba, dari arah belakang Siti…

"Kena kamu."

Tiger langsung memeluk tubuh Siti dengan sangat erat seperti tak ingin wanita itu lepas dari dekapannya. 

Siti yang terperanjat tak dapat berkutik. Dia telah masuk perangkap pria kota yang menyebalkan. Bahkan kini pria itu memeluknya tanpa rasa risih sedikit pun.

"Lepaskan aku! Lepaskan!" Siti menjerit seraya memukul lengan Tiger. "Atau aku akan teriak minta tolong."

"Aku nggak akan lepas sampai kamu mau ngajarin aku cara mandiin kambing," kata Tiger tanpa mengindahkan pukulan Siti. Malah Tiger semakin mempererat pelukan.

Perseteruan Siti dengan Tiger tanpa sadar dilihat oleh empat orang petani yang hendak berangkat ke ladang.

Langkah kaki mereka berhenti kala menyaksikan Siti,  yang mereka kenal sebagai gadis baik-baik sedang bermesraan dengan seorang pria.

Ya, di mata empat petani itu tampak Siti seperti sedang bermesraan dengan seorang laki-laki di pinggir sungai. Para empat petani itu saling pandang terheran.

Apalagi di tepi sungai sana, Tiger tak dapat lagi menahan Siti yang terus memberontak. Akibatnya, merek berdua terjatuh ke atas rumput dan secara kebetulan sekali bibir merek saling berbenturan.

"Hai, kalian!" seru salah satu warga yang langsung berjalan cepat ke arah Tiger dan Siti. "Kalian sedang apa di sini?"

"Waduh, gawat!" ucap Siti yang langsung membebaskan diri dari jeratan tangan Tiger dan berdiri tegak.

Siti tahu bahwa empat pria yang datang menghampirinya pasti telah salah paham dengan apa yang baru saja dilihat.

"Siti, kamu kok bisa-bisanya berbuat hal yang nggak pantas seperti tadi?" tanya salah satu dari empat perani itu.

Dengan cepat, Siti menggelengkan kepala. "Nggak, Pak. Saya tadi itu mau ngajarin dia cara mandiin kambing."

"Jangan bohong, Siti! Kita lihat dengan mata kepala kita sendiri. Kamu sama pria ini mesra-mesraan di balik semak."

"Bukan, Pak," bantah Siti yang tampak frustasi. Lalu dia menoleh pada Tiger yang sejak tadi diam seribu bahasa. "Hai, orang kota, bicara dong. Kasih tahu mereka kalau kita memang nggak ngapa-ngapain."

"Ah, sudah lah. Jangan banyak bersandiwara! Sekarang kaluan berdua harus ikut kami."

"Betul," sahut warga yang lain. "Apalagi kamu, Siti. Kamu itu anaknya Pak RT. Harusnya kamu malu sama diri kamu sendiri."

"Tapi, Pak…" kata Siti membela diri namun salah seorang warga sudah dulu menarik lengannya.

Begitu pula dengan Tiger. Hanya bedanya Tiger tampak biasa saja. Dia terlihat santai tanpa ada rasa bersalah saat empat warga menggiringnya.

*

*

*

Di waktu yang sama namun tempat yang berbeda. Brian menyisir rambutnya dengan sangat rapi.

Dia tersenyum lebar melihat bayangan wajahnya di sebuah cermin yang tergantung di dinding kamar.

Merasa telah sempurna akan penampilannya, Brian lalu melirik jam di layar ponselnya. Dia hendak pergi ke rumah Siti untuk melakukan pendekatan.

Brian yakin seratus persen jika tak ada wanita yang akan menolak pesonanya. Lalu setelah itu, Brian akan berniat melamar Siti.

"Memangnya, cuma Tiger aja yang bisa dapetin cewek. Aku juga bisa kali."

Tepat saat itu, kamar pun terbuka dan Farhan masuk dengan handuk yang melilit di pinggang. Dia bersiul saat mengambil baju dari dalam tas ranselnya.

Tubuh Farhan agak menggigil disebabkan air sumur di belakang rumah Pak Mansur terasa segar dan dingin.

"Eh, Tiger kok belum pulang ya?" Farhan bertanya sambil memakai kaos.

"Enggak tahu. Paling tuh anak lagi tebar pesona ke gadis desa," sahut Brian yang sedang memakai sepatu.

"Eh, tunggu! Kamu mau kemana? Rapi banget."

Brian berdiri tegap setelah selesai mengikat kedua tali sepatu. Dia tersenyum semringah dan sesaat sebelum pergi dia berkata, "Mau lamar anak orang."

"Hah? Apa?"

Terpopuler

Comments

Azkayravelora

Azkayravelora

wahhh keduluan tiger nihh yang nikah duluan

2023-03-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!