Rihana Datang

Sebuah mobil melaju dengan kecepatan lambat menyusuri jalan pedesaan. Mobil itu sebenarnya berwarna putih, namun cipratan lumpur telah membuat warna monil tersebut menjadi coklat.

Sementara itu wanita yang menjadi pengemudi mobil menoleh kanan dan kiri. Dia tampak kesal karena sepanjang perjalanan dia tidak menemukan orang yang dapat ditanya. 

Sejauh mata memandang dia hanya melihat hamparan sawah yang seperti tiada berujung.

Wanita yang tak lain adalah Rihana berdecak kesal. Lalu mengambil ponsel yang tergeletak di atas dashboard.

Rihana mencoba untuk menelepon Brian. Namun, ternyata di desa itu jaringan telepon sangat susah. Rihana pun menggerang jengkel. 

Dia takut jika Brian hanya membual saja dan dia dijadikan bahan prank untuk datang desa terpencil itu.

Merasa sumuk di dalam mobil, Riahana pun memutuskan untuk keluar dari mobil. Lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Kebetulan sekali Rihana melihat seorang wanita yang sedang menggendong kucing. Rihana menghela nafas lega dan berjalan setengah berlari kepada wanita itu.

"Sorry," kata Rihana pada wanita yang menggendong kucing yang tak lain adalah Siti. "Apa benar nama desa ini, desa Rawuh?"

"Iya, benar," jawab Siti. 

Dia melihat wanita yang ada di depannya. Meneliti dari bawah sampai ke atas. 

Penampilan wanita itu terlihat sangat modern dan tentu saja bukan warga desa Rawuh, karena Siti sangat asing dengan wajah wanita itu.

"Mbak cari siapa?" tanya Siti.

"Saya cari rumahnya Pak Masur," jawab Rihana. "Kamu tahu rumah Pak Mansur?"

Siti mengangguk sebagai jawab. "Masih dari sini, Mbak. Kalau Mbak nya mau saya bisa tunjukin rumah Pak Mansur tapi saya numpang ke mobilnya Mbak. Bagaimana?"

Sejenak Rihana menimbang-nimbang. Lalu tak berapa lama, dia pun setuju. Karena yang terpentung bagi Rihana saat ini adalah bertemu dengan Tiger dan bisa menemukan tempat istirahat.

Akhirnya Siti pun masuk ke dalam mobil Rihana. Dia duduk di kursi samping pengemudi dengan kucing abu-abu kesayangannya berada di pangkuannya.

Siti menunjukan arah jalan menuju rumah Pak Mansur dengan sesekali bermain dengan kucing kesayangannya itu. 

Di sisi lain, Rihana sebenarnya sangat geli dengan keberadaan kucing milik Siti. Namun bagaimana lagi? Dia terpaksa membawa Siti bersama kucingnya agar dia bisa menemukan Tiger.

"Nah, itu tuh rumahnya, Mbak," kata Siti menunjuk rumah sederhana milik Pak Mansur.

Rihana menghentikan mobilnya dan menoleh pada arah yang ditunjuk Siti. Betapa terkejutnya Rihana kala melihat kondisi rumah yang menjadi tempat tinggal kekasihnya.

Bahkan Rihana sampai menutup mulutnya yang menganga lebar. 

"Oh my gods," seru Rihana. "Bagaimana bisa Tigerkunsayang bisa tinggal di sini?"

"Mbak, sudah beres kan? Aku pulang ya?" Kata Siti yang hendak keluar dari mobil Rihana.

"Eh, tunggu!" Rihana mencegah Siti untuk keluar. "Bantu aku sekali lagi dong."

"Bantu apa, Mba?" Siti bertanya dengan mengerutkan dahi. Dia takut wanita kota yang bersamanya meminta yang macam-macam.

"Tolong kamu masuk ke dalam rumah Pak Mansur dan bilang ke pria yang tinggal di sana kalau aku datang ke sini."

Siti menghela nafas seraya menyeringai. Dia pikir Rihana akan meminta bantuan apa tapi hanya sekedar memberitahu orang yang tinggal di rumah Pak Mansur.

"Kenapa nggak Mba sendiri saja?"

"Ck, nggak usah banyak tanya deh. Sudah syukur kamu tadi numpang ke mobil aku," kata Rihana berwajah kesal.

Siti pun tak kalah kesal dengan Rihana. Namun begitu, dia tetap turun dan melangkahkan kaki melintasi halaman rumah Pak Mansur.

Sementara itu, di dalam rumah, lebih tepatnya di dapur rumah Pak Mansur, Tiger yang sedang disibukan dengan tumpukan katu bakar. 

Tiger mendapat tugas lagi setelah mengembala kambing, yaitu memasak singkong rebus namun dengan menggunakan tungku tang masih menggunakan kayu bakar.

Tak jauh dari Tiger berada, ada Farhan yang sedang duduk mengupas singkong. Dia dipakaa oleh Tiger untuk membantunya.

"Eh, ini bagaimana sih? Susah banget nyala," Tiger mengeluh di depan tungku karena sejak tadi api selalu saja padam. "Farhan kasih solusi dong."

"Aku nggak bakal kasih solusi kalau kamu belum memenuhi janjimu, Ger," ucap Farhan yang memasang wajah masam sejak tadi.

"Janji apa sih?" Tiger bertanya dengan nada yang tak kalah kesal. 

"Tuh kan kamu juga lupa," Farhan mengerucutkan bibirnya sambil melirik sinis Tiger. "Katanya kamu bakal cariin aku cewek cantik. Mana?"

Tiger menghela nafas. Dia memutar tubuhnya agar bisa menatap lurus ke arah Farhan.

"Memang kamu mau cewek yang seperti apa?"

"Yang cantik lah. Kalau bisa yang mirip sama Rihana pacar kamu itu," Farhan terkekeh tanpa rasa bersalah menginginkan wanita seperti pacar sahabatnya.

"Kalau kamu pacarin Rihana juga silahkan. Aku nggak keberatan," kata Tiger enteng.

Namun, cukup membuat Farhan terlonjak senang. Kedua ujung bibir Farhan melengkung ke atas membentuk senyuman lebar yang menampilkan dereran gigi.

Begitu pula dengan bola matanya yang membelalak senang. 

"Kamu yakin, Ger?"

"Iya," sahut Tiger masih dengan nada yang ringan. "Aggap saja aku sedang beramal jariyah. Mensedekahkan pacarku kepada sahabatku. Tapi ini tolong dong. Bagaimana caranya supaya apinya nyala?"

Tepat ketika Farhan menghampiri Tiger untuk menyalakan api, tiba-tiba terdengar suara ketuka pintu yang membuat keduanya saling bersitatap.

"Siapa tuh ya? Coba aku buka pintu dulu, kamu yang nyalain apinya. Oke?" kata Tiger yang beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu depan.

Sepanjang melangkah menuju pintu, Tiger menduga kalau yang mengetuk pintu pastilah Brian atau mungkin Pak Mansur, karena kedua orang itu pergi sejak tadi dan belum terlihat kembali.

Namun, ketika Tiger membuka pintu, dia tertegun dengan wanita yang berdiri di depannya. Begitu pula Siti yang tak menyangka akan bertemu lagi dengan Tiger.

"Kamu?" tanya Tiger memandang Siti penuh keheranan. "Ada apa kemari?"

"Ada yang nyari kamu tuh," jawab Siti sambil menunjuk ke arah mobil.

Tiger melempar pandangan ke arah yang ditunjuk Siti. Dan rupanya di sana sudah ada mobil yang dia kenal betul adalah milik Rihana.

Hanya saja mobil itu sudah berubah warna karena tertutup lumpur. Saat itu juga, Rihana menyembulkan kepalanya dari jendela mobil dan melambaikan tangan pada Tiger.

Namun, Tiger memandang Rihana dengan tatapan yang datar. Tidak ada perasaan bahagia saat melihat kekasihnya datang menemuinya.

Bahkan ketika Rihana berlari menghampiri dan memeluknya, Tiger tetap diam mempertahankan raut wajah datar.

"Sayang, aku kanget banget sama kamu," ungkap Rihana menggelayut manja di dada Tiger. "Kok kamu nggak bilang kalau kamu sekarang tingal di sini?"

"Nggak ada signal," jawab Tiger singkat.

"Oh ya, aku punya sesuatu buat kamu," kata Rihana yang kemudian menoleh pada Siti. "Siti, sorry. Aku minta bantuan kamu lagi. Tolong ambilin paper bag di mobil dong! Kamu tahu paper bag, kan? Kantong yang terbuat dari kertas."

Siti melingkarkan bola matanya malas sekaligus menggela nafas. "Aku juga tahu. Tapi nggak mau ambil."

Siti memanyunkan bibir, karena kesal dengan sikap Rihana yang main suruh seenaknya saja. Apalagi dengam orang yang baru dia kenal.

Dia hendak melangkah pergi dari rumah Pak Mansur tapi sekai lagi, Rihana mencengkal lengan Siti sehingga gadis desa itu tidak bisa kabur.

"Hei, tolong dong. Baru juga disuruh ambil paper bag. Nanti aku kasih kamu bayaran deh."

Siti menarik nafas panjang. Sebenarnya Siti berniat menolak permintaan Rihana namun kala itu dia menadapatkan sebuah ide.

Siti teringat jika selama berada di dalam mobil, Rihana tampak jijik setiap melihat kucingnya.

Maka Siti mengambil paper bag yang dimaksud oleh Rihana. Dia mengintip isinya yang ternyata hanya sebuah kaos laki-laki.

Siti menaruh kucingnya ke dalam paper bag tanpa sepengatahuan Rihana. Lalu menyerahkan pada wanita kota itu.

"Waktu itu jalan-jalan ke Mall, terus aku nemu baju yang bagus banget buat kamu. Kamu pasti suka," celoteh Rihana pada Tiger yang tampak tidak tertarik dengan cerita Rihana.

Rihana yang tidak tahu ada kucing di dalam paper bag langsung memasukan tangannya ke dalam.

Detik berikutnya, Rihana terdiam seketika kala tangannya merasakan sesuatu yang berbulu dan hangat.

Karena penasaran, Rihana mengangkat benda itu dan…

"Aaarrgghhhh, kucing!"

Rihana berteriak dengan sangat histeris mendapati ada kucing di dalam paper bag. Bukan hanya itu saja, dia pun otomatis melempar kucing itu.

Namun, sayangnya Rihana asal melempar yang mengakibatkan kucing itu mendarat tepat ke muka Tiger.

"Aarrhhh, mukaku!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!