Tiger melepaskan ciuman begitu dia kehabisan nafas. Perlahan dia membuka mata dan wajah merah merona Siti yang menjadi pemandangan pertamanya.
Tiger menyunggingkan seringai kala menatap pipi Siti yang sudah semerah kepiting rebus. Sementara Siti masih syok pada apa yang baru saja dialami.
Dada Siti naik turun dan nafasnya pun terengah. Bola matanya membelalak. Dia terdiam sesaat karena tubuhnya bergetar hebat.
"Apa yang kamu lakukan tadi?" Siti bertanya dengan menatap tajam Tiger.
Sebenarnya Siti pun tahu bahwa yang tadi itu adalah ciuman. Namun, Siti tak akan menyangka dia akan mendapatkan ciuman pertama dari pria yang tidak dia cintai.
Siti segera mengusap bibirnya dengan kasar dan wajah yang tampak jijik. "Berani-beraninya bibir kamu itu cium aku."
Tiger hanya terkekeh kecil. Lalu dia semakin berani menggoda Siti dengan berkata, "Kenapa? Kamu mau mengulang satu kali lagi?"
Bugh.
Tak tanggung-tanggung Siti langsung meninju sudut bibir Tiger yang pria itu meringis.
Lalu Tiger melempar pandangan pada Siti dengan tatapan tak percaya. Dia menatap lekat wajah Siti yang memendam rasa marah.
"Hai, ingat ya, pria kota! Aku bukan tipe wanita bodoh yang gampang terayu dengan gombalan murahan seperti tadi," seru Siti berapi-api.
Meski juniornya masih terasa sakit, Tiger memaksakan diri untuk berdiri tegap agar tak dianggap lemah oleh Siti.
"Jangan terlalu percaya diri! Siapa tahu, suatu hari nanti kamu yang mengejar-ngejar aku," kata Tiger yang tidak begitu dihiraukan oleh Siti.
Detik berikutnya, Siti memutar badan dan meninggalkan Tiger seorang diri. Dia berjalan dengan langkah yang lebar dan masih menggeram kesal.
Namun, tiba-tiba sebuah tangan menyambar lengan Siti yang membuat dia sigap melayabgkan tinju berikutnya.
Siti mengira dia adalah Tiger yang berusaha mengejarnya. Akan tetapi Siti salah, ternyata orangbyang menarik lengannya adalah Brian.
Pria itu mencengkeram lengan Siti dengan kedua bola mata menatap serta meneliti setiap ekspresi yeng tergambar di wajah Siti.
"Aku tadi lihat semuanya," kata Brian masih dengan pa dangan yang lurus pada bola mata Siti.
Sementara Siti menghela nafas berat. Dia mengusap wajahnya dengan kasar karena merasa malu sekaligus frustasi.
"Lalu kamu mau apa?" Siti bertanya dengan nada kesal. "Kamu mau melaporkan aku ke ayah aku?"
Brian menggelengkan kepala. "Aku nggak mungkin melakukan itu. Justru aku mau memperingatkan kamu untuk tetap waspada pada Tiger. Dia itu memang cowok playboy."
Siti mendengus sambil melipat tangan di depan dada. "Kalau itu aku juga tahu."
Sekilas Brian mengulas senyum. Dia berdeham untuk mempersiapkan suara serta berniat mengutarakan perasaannya pada Siti.
Namun, tepat ketika dia sedang membuka mulutnya, tiba-tiba Tiger memanggil, "Brian? Syukurlah kamu di sini."
Brian mendesah sekaligus menoleh pada Tiger yang sedang berjalan ke arahnya dengan langkah tertatih.
Dia menatap jengah pada Tiger yang datang di saat tidak tepat.
"Brian, kamu jangan dekat-dekat dengan wanita ini," ucap Tiger menunjuk pada Siti. "Nanti bisa-bisa junior kamu bisa ditendang."
Tiger mengalihkan pandangannya ke arah Siti, "Hai, kamu wanita, gara-gara kamu pipiku kena cakaran kucing, sekarang kamu juga tendang juniorku. Awas saja pembalasanku nantinya!"
"Aku nggak takut," kata Siti sedikit menaikan suaranya.
"Tiger," Brian menyela pembicaraan Tiger dan Siti. Dia menepuk bahu sahabatnya itu. "Sudahlah, mending kita pulang aja yuk."
Brian langsung saja menarik lengan Tiger agar mereka segera berpisah dengan Siti.
*
*
*
Malam hari pun menyambut. Kegundahan dan keresahan masih menyelimuti hati Tiger.
Dia dan dua sahabatnya duduk di halaman rumah Pak Mansur sambil mengelilingi api unggun yang mereka buat sendiri untuk menghangatkan badan.
Maklum di desa terpencil seperti desa Rawuh tidak ada orang yang rela menghabiskan uang untuk memasang penghangat ruangan.
Tiger, Brian dan Farhan duduk sambil menatap kobaran api yang semakin lama semakin mengecil. Mereka sesekali menyeruput minuman jahe lalu kembali melamun.
"Kita nggak bisa tinggal diam. Kita harus putar otak supaya dapet cuan di desa seperti ini," kata Tiger tiba-tiba.
Farhan yang mendengar perkataan Tiger hanya bisa mendesah. Dia merapatkan baju karena angin malam berhembus semakin kencang.
"Tapi gimana, Ger? Kita mau bajak sawah? Jadi buruh tani gitu?" ucap Farhan dengan nada kesal.
"Bagaimana kalau kita bikin konten aja?" usul Tiger sambil menatap kedua sahabatnya, mengharapkan respon dari mereka. "Seperti yang dilakukan Siti."
"Siti? Siti siapa?" Farhan bertanya karena sejatinya dia belum pernah bertemu dan berkenalan dengan Siti.
"Memangnya kita mau bikin konten apa di desa seperti ini, Ger?" Brian yang sejak tadi menyimak kini mulai buka suara.
"Kita bikin konten seperti Siti lah. Konten horor."
"Tapi nanti Siti jadi ada saingan dong," kata Brian.
"Ya biarin," ucap Tiger santai. "Lagian aku jamin konten yang kita buat bakal lebih menarik dari kontennya Siti. Karena apa? Karena kita bertiga ganteng," Tiger tersenyum penuh percaya diri.
Bayangan akan banyaknya orang yang akan menonton video kontennya sudah tergambar jelas di benak Tiger.
Namun berbeda dengan Brian yang menggelengkan kepala tampak tidak setuju.
Sedang Farhan sejak tadi hanya beralih menatap Tiger dan Brian secara bergantian dengan mulut yang melongo.
"Tunggu! Siti itu siapa sih? Cantik nggak."
"Enggak," Tiger buru-buru menjawab. "Dia nggak cantik. Jadi nggak usah kepo sama dia. Kan aku sudah sedekahkan Rihana buat kamu. Kamu urus saja tuh Rihana."
Brian menghela nafas dan wajahnya tertunduk lemas. Ingatan akan adegan ciuman Tiger dan Siti masih mengusik pikirannya.
Sehingga dia memilih untuk masuk ke dalam ruang mendahului temannya.
Farhan yang merasakan perbedaan sikap Brian pun bertanya, "Brian kenapa ya? Kok semenjak di sini, dia jadi agak berubah."
Tiger mengangkat bahu, "Nggak tahu. Lagi pms kali."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments