Hari baru telah dimulai. Bersamaan dengan dimulainya rencana Tiger. Semalaman dia telah menyusun rencana bersama dengan Farhan.
Dan rencana pertamanya adalah mencari tempat yang dinilai angker di desa Rawuh. Kebetulan sekali pagi iti Tiger menerima tugas dari Pak Mansur untuk mencari kayu bakar di pinggiran hutan.
Momen itu Tiger gunakan untuk berkeliling desa mencari tempat yang sekiranya cocok untuk dijadikan kontennya.
Maka Tiger dan Farhan pun berjalan-jalan mencari kayu bakar. Sedangkan Brian berada di belakang mereka.
Sejak semalam, pria itu tampak lesu. Padahal dia yang paling awal tidur.
"Tiger, menurutku rencanamu itu nggak akan berhasil," kata Brian tiba-tiba.
Sontak Tiger menghentikan langkahnya secara mendadak. Dia pun memutar badan untuk bisa menatap wajah Brian yang berada di belakangnya.
"Kenapa?" Tiger bertanya sambil menaikan alisnya.
Brian tak langsung menjawab. Justru dia memalingkan wajah dan menghela nafas.
"Aku rasa itu nggak akan berhasil. Lebih baik kita cari cuan dengan jalan lain."
Tiger mendengus seraya berkacak pinggang. Dia tertawa mencemooh sikap Brian yang berubah total sejak awal datang ke desa Rawuh.
"Kamu itu kenapa sih, Bri?"
"Iya. Sekarang kamu jadi aneh tahu," imbuh Farhan membenarkan ucapan Tiger.
"Kalau kamu ada masalah, cerita dong. Kamu nggak betah? Mau pulang?" Tiger menepuk pundak Brian.
Namun, dengan cepat Brian menampik tangan Tiger yang berada di pundaknya. Lalu dia menarik nafas dan memasang wajah setenang mungkin agar Tiger tidak curiga.
"Aku nggak apa-apa kok," kata Brian. Kemudian Brian beralasan, "Aku duluannya ya? Kebelet boker nih."
Brian pun berjalan lebih dulu menuruni bukit untuk lebih dulu sampai ke rumah Pak Mansur. Semalaman suntuk Brian memikirkan cara agar dia bisa mendapatkan Siti.
Dan pada pagi hari, Brian menemukan solusi yaitu dengan cara mendekati ayah Siti. Brian akan lebih dulu mengambil hati Pak RT agar menyetujui dan mendukung hubungannya dengan Siti.
Maka menurut Brian, inilah waktu yang tepat. Brian berencana mendatangi rumah Pak RT tanpa sepengetahuan Tiger dan Farhan.
Sementara itu, masih dengan perasaan yang heran, Tiger dan Farhan berdiri selama beberapa saat. Mereka saling pandang setelah melihat kepergian Brian.
Mereka menjadi semakin penasaran akan perubahan tingkah Brian. Namun, tak mau berpikir panjang, Tiger akhirnya menarik nafas panjang dan mengajak Farhan untuk pulang.
"Nanti malam, kita camping di hutan ini. Oke?" ucap Tiger sambil berjalan berjajar bersama Farhan.
"Maksudnya kita itu aku sama kamu aja, Ger? Brian enggak?"
"Mau gimana lagi? Dia sepertinya nggak setuju."
"Tiggggerrr!"
Suara jeritan mendayu dari seorang wanita mengejutkan Tiger dan Farhan. Mereka berdua berhenti berjalan lalu menoleh ke sumber suara.
Dari suaranya, Tiger sudah dapat menebak jika orang yang memanggilnya adalah Rihana.
Ternyata memang benar. Rihana sedang bersandar di sebuah pohon. Setelah itu Rihana berlari kecil ke arah Tiger, kekasihnya.
Tiger hanya berdecak dan menggelengkan kepala. Lalu dengan wajah yang jengah, dia bertanya, "Kamu mau apa?"
"Tiger, aku mau cerita," kata Rihana manja. Tak lupa dia menggelayut manja di lengan Tiger seperti biasa. "Kemarin aku dikunci di dalam kamar sama ananknya Pak RT, coba. Mana kamarnya kotor gelap lagi. Ih sebel."
"Anaknya Pak RT? Maksud kamu Siti?" Tiger bertanya untuk memastikan.
"Lho kamu kenal sama dia?"
Tiger tak menjawab. Dia hanya mengangkat bahu dan kemudian mempercepat langkahnya.
Rihana yang fitinggal begitu saja pun mejado heran. Dia sangat tidak percaya Tiger menjadi menjauhinya.
Sebagai seorang wanita, Rihana pun merasakan ada sesuatu yang telah membuat Tiger berubah. Dan yang paling dikhawatirkan oleh Rihana ialah kemunculan wanita lain di hati sang kekasih.
Sepertinya aku harus bicara sama Brian, pikir Rihana dalam hati.
"Rihana, ehem." Sapa Farhan yang tampak malu-malu kucing. "Aku boleh tanya sesuatu nggak?"
"Enggak," jawab Rihana galak dan tegas.
Lalu Rihana pun pergi dengan kaki yang dihentak-hentakan. Sementara Farhan yang ditinggal pergi oleh Rihana hanya bisa menggerutu kesal.
Meskipun begitu, cinta Farhan pada Rihana tidak membuatnya surut hanya disebabkan oleh sikap cuek wanita itu.
Yah, terkadang cinta membuat pelakunya menjadi orang yang aneh. Sama halnya dengan Farhan.
*
*
*
"Wah, Nak Brian ini selalu bawa bawa makanan kalau datang kemari," kata Pak RT setelah melihat kotak makanan yang dibawa oleh Brian. "Terima kasih lho, Nak. Sudah repot-repot."
Brian sengaja membeli makanan di pasar yang jaraknya lumayan jauh dari desa demi mendapatkan simpati dari ayahnya Siti.
Brian tersenyum sambil menundukan kepala sopan. Lalu dia pun bertanya, "Sama-sama, Pak. Sama sekali nggak ngerepotin kok. Oh ya, Siti nya ada, Pak?"
"Siti lagi pergi. Nggak tahu kemana. Tadi sih bilangnya mau ke rumah temen," Pak RT menatap Brian dengan sorot mata curiga. "Memang ada apa?"
Brian tersenyum dan menggelangkan kepala. "Enggak, Pak. Cuma nanya saja."
Pak RT yang sudah merasakan masa muda pun paham akan gelagat dari tubuh Brian. Ditambah lagi sikap Vrian yang selalu mampir ke rumahnya dengan membawa makanan.
Lantas Pak RT pun menegakkan punggungnya, lalu berdehem karena dia hendak berbicara topik yang sedikit serius
"Maaf, kalau saya terlalu percaya diri, Nak Brian. Tapi saya lihat sepertinya Nak Brian itu menaruh hati sama anak saya ya?"
"Saya…" Brian terdiam sejenak. Lalu dia pun menganggukan kepala perlahan. "Iya, Pak. Saya jatuh cinta dengan Siti sejak pertama bertemu dan saya…"
"Brrriiaaann!"
Teriakan dari Rihana secara tiba-tiba membuat perhatian Brian dan Pak RT teralihkan. Kedua pria beda generasi itu menoleh pada Rihana yang baru saja datang.
Rihana berdiri di antara Pak RT dan Brian. Nafas wanita itu tersengkal, belum lagi keringat yang membasahi dahinya, pertanda bahwa Rihana baru saja berjalan jauh.
"Untung kamu di sini. Aku cariin kamu, tahu."
"Ck, Ri. Bisa diam sebentar nggak sih. Aku lagi ngobrol sama Pak RT nih," protes Brian yang ucapannya yerpotong gara-gara kehadiran Rihana.
"Tapi aku juga mau ngobrol sama kamu, Brian. Ini penting."
"Kamu pikir yang sedang aku bicarakan denganPak RT nggak penting? Begitu?" Brian semakin marah dan menaikan nada bicaranya.
"Nak Brian," Pak RT mendadak menyela dengan suara yang lembut. "Nggak apa-apa Nak Brian bicara dulu saja sama Rihana. Nanti baru dilanjut bicara dengan saya."
Pak RT yang paham bahwa Brian dan Rihana memperlukan ruang pribadi, pun mengizinkan Brian dan Rihana duduk berdua di terasnya. Sedangkan Pak RT sendiri memang sedang ada perlu di dalam rumah.
Rihana menjatuhkan bokongnya ke kursi setelah Pak RT perdi lalu bertanya, "Brian, kamu tahu nggak kenapa Tiger sekarang ini berubah?"
Brian mendengus, memalingkan muka dan memasang wajah muak.
"Bukankah sudah jelas tanda-tandanya? Dia memang jatuh cinta pada wanita lain selain dirimu. Itulah sebabnya aku memintamu datang kemari."
"OMG, oh no," ucap Rihana manja. "Terus gimana ding nasibku? Dan memangnya siapa sih yang berani-beraninya merebut My Little Tiger?"
"Wanita yang tinggal serumah denganmu," kata Brian lirih.
"Maksudnya Bu RT. Masa iya Tiger bisa berselera sama ibu-ibu."
"Ck, Rihana, maksud aku, wanita itu adalah Siti."
"OMG," Rihana menutup mulutnya dengan rapat
Brian mencondongkan tubuhnya untuk bisa berbicara dengan jelas dengan Rihana. Sambil menatap tajam bola mata Rihana, Brian berkata, "Kita harus berkomplot, agar Tiger dan Siti berpisah."
"Caranya?"
Brian menyeringai, lalu dia semakin memiringkan badannya dan berbisik sesuatu di telinga Rihana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
hanhan
yg ini nih namanya srigala berbulu musang,gunting dalem lipatan... kata nya temen ga tauny nusuk dr belakang... chuaaakkkksss...
2023-04-02
0