"Kita harus cari cara jalan pulang," kata Siti penuh tekad.
Kemudian, dia menoleh kanan kiri tampak mencari sesuatu. Dia baru sadar jika tas ranselnya sudah tidak ada di dekatnya lagi.
Raut wajah Siti makin panik tatkala dia melihat tas ransel miliknya hanyut terbawa arus sungai. Mulut Siti melongo betapa bodohnya dia melupakan benda yang sangat penting.
Namun, Siti tak bisa berbuat apa-apa. Tas itu sudah sangat jauh terbawa arus dan sudah tak mungkin untuk diambil.
Siti mendesah pasrah. Dia memegang kedua lututnya yang terasa lemas. Semua barang seperti kompas, botol minum bahkan tenda juga telah ikut hanyut bersama tas ransel.
"Ini semua gara-gara kamu," tuduh Siti pada Tiger.
Pria itu membulatkan mata, merasa heran dirinya disalahkan. "Kok aku? Salah kamu sendiri yang kecebur ke sungai."
"Selama ini aku kemah di hutan nggak pernah sekalipun mengalami kejadian seperti ini. Tapi sejak ada kamu, hidupku selalu berantakan."
Tiger berkacak pinggang. Dia membalas tatapan tajam yang diarahkan padanya dengan balik menatap tajam Siti.
"Kamu pikir, hidupku juga baik-baik saja?" Tiger menunjuk pipinya yang tempo hari lalu dicakar oleh kucing milik Siti. "Nih, perbuatan kucing kamu."
Kemudian tanpa rasa malu, Tiger menunjuk ke arah juniornya. "Ini juga pernah sakit gara-gara kamu, tahu. Kadi sekarang anggap saja kita impas."
Siti memalingkan muka dan mendengus. Dia sadar, berdebat dengan Tiger tak akan ada ujungnya.
Sehingga dia lebih memilih diam dan mencari cara untuk pulang.
Sekali lagi Siti mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mencoba untuk menerka di mana tepatnya dia berada. Sayangnya, yang Siti dapati adalah pepohonan dan semak belukar yang terasa asing bagi Siti.
"Sekarang kita bagaimana?" Tiger bertanya setelah beberapa saat mereka berdua saling diam.
Siti menghembuskan nafas. Berusaha untuk tetap sabar bersama Tiger.
"Kita ikuti saja arus sungai, pasti akan bertemu sebuah pemukiman warga," kata Siti yang kemudian berjalan menyusuri tepi sungai.
Tiger yang memeng tidak punya pengalaman menjelajah hutan pun akhirnya menurut saja. Dia berjalan mengekori Siti.
Tubuh mereka berdua sama-sama menggigil karena baju mereka yang basah kuyup. Namun, mereka tak punya pilihan lain.
Mereka hanya berharap agar terik sinar matahari bisa menghangatkan tubuh mereka.
Setelah sekitar setengah jam mereka berjalan menyusuri sungai, tiba-tiba Tiger berkata, "Sit, aku lapar."
Hal itu memang benar. Perut Tiger sudah mulai terdengar bunyi gemeruyuk minta diisi dengan makanan enak. Terakhir kali Tiger makan, ialah ketika makan malam di rumah Pak Mansur. Itu pun dengan mie instan.
Sekarang waktu sudah siang dan perut Tiger belum diisi dengan sesuatu apapun kecuali air sungai yang tadi tak sengaja dia telan.
Namun, tampaknya Siti salah dalam memahami perkataan Tiger. Kentara dari raut wajah Siti yang berubah mendadak.
Siti melotot tajam pada Tiger. Lalu berkata, "Apa kamu bilang? Bisa nggak bicara dengan baik-baik?"
Tiger mengerutkan dahi kebingungan. Dia menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal dan balik bertanya, "Maksud kamu apa sih?"
"Kamu baru saja bicara dengan kata yang kasar," jelas Siti tanpa basa-basi.
"Apaan sih? Orang aku bilang 'Sit' untuk Siti. Bukan '****'" Tiger mendengus karena dia ingin sekali tertawa melihat raut malu menghiasi wajah Siti.
Akan tetapi masalah perut membuat Tiger menurunkan egonya. Dia duduk di sebuah batang pohon yang tumbang karena tubuhnya sudah sangat lemas.
Dan Siti pun sepertinya merasakan hal yang sama seperti Tiger rasakan. Wajah Siti juga sama pucat, jemarinya bergemetar dan dia ikut duduk di samping Tiger sambil memegangi perut.
"Aku juga sama lapar."
"Bagaimana kalau kita mancing ikan, Sit?" Tiger bertanya memberikan saran.
"Mau mancing bagaimana? Lagian arus sungai deras banget. Yang ada nanti kita hanyut lagi."
Tiger menghela nafas putus asa. "Iya juga ya?"
Apa yang dikatakan Siti memabg benar, air sungai semakin lama semakin deras dan warnanya pun keruh. Sehingga tidak memungkinkan untuk menangkap ikan.
Lalu Tiger berpikir lagi. Begitu pula dengan Siti. Mereka berdua sama-sama mengerutkan dahi seperti orang yang sedang menahan kentut.
Lalu tiba-tiba secara bersamaan, keduanya terlonjak dan serempak berkata, "Bagaimana kalau..."
Tiger dan Siti saling pandang. Mereka terkesiap karena bisa-bisanya mereka bisa kompak dalam mendapatkan ide.
"Kamu dulu yang bicara," kata Siti mempersilahkan.
"Kamu dulu aja. Ladies first," ucap Tiger. Lalu dia melanjutkan dengan bertanya, "Kamu tahu ladies first kan?"
Siti mencibir dan menyahut, "Ya tahu lah. Meski aku gadis kampung aku juga bisa bahasa inggris. Nih, bagaimana kalau kita bagi tugas. Aku cari sumber mata air bersih, semantara kamu cari tumbuh-tumbuhan yamg sekiranya bisa kita makan."
"Nah itu yang mau aku bilang," ungkap Tiger setuju dengan usulan Siti.
Tiger dan Siti bangkit dari duduk. Mereka berdua saling tersenyum setelah mendapatkan ide brilian.
Dan mereka pun tersadar jika inilah pertama kalinya mereka bisa akur dan bekerja sama.
Lalu mereka berdua pun berpisah dan sepakat akan kembali lagi ke tempat semula jika sudah menemukan apa yang merek cari.
Meski tubuhnya lemah dan dalam keadaan kedinginan, Siti berusaha untuk mengumpulkan tenaganya mencari sumber mata air yang bisa digunakan untuk minum.
Tampaknya keberuntungan sedang berpihak pada Siti kali ini, sebab tak lama setelah dia berjalan cukup jauh, dia melihat sumber mata air.
Meski sumber mata air itu sangat kecil, namun sangatlah berharga bagi Siti yang tenggorokannya sudah sangat kering.
Siti mengambil daun yang dibuat mengerucut agar bisa menampung air. Lalu dia minum untuk dirinya sendiri.
Setelah puas, Siti menampung lagi untuk dia berikan pada Tiger.
Secepat kilat Siti kembali ke tempat semula. Dimana dia dan Tiger berpisah.
Namun, begitu sampai, kaki Siti seolah membeku tak dapat digerakan. Kedua manik mata Siti pun membulat sempurna tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Bahkan Siti sampai tak sengaja menjatuhkan air di dalam daun yang dibawanya tatkala menyaksikan Tiger yang terkapar di tanah dengan wajah pucat dan nafas yang memburu cepat.
Di samping tubuh Tiger, Siti melihat ada beberapa potong jamur yang Siti tahu itu adalah jamur beracun.
"Nggak mungkin, Tiger."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments