Suatu Tempat

Mobil yang ditumpangi Tiger mendecit kala berhenti mendadak di depan rumah berlantai tiga dengan cat putih. Bangunan megah itu menjulang tinggi hingga bayangannya menaungi bagian teras. 

Tiger menyisir rambutnya dengan jemari sebelum keluar dari mobil. Di tangannya tergenggam sebuah kotak berisi roti bakar.

Tiger sengaja membeli roti bakar untuk sang ibu tercinta, sebab dia tahu Ayana pasti akan luluh jika dibelikan roti bakar.

Kemudian Tiger berjalan dengan jantung berdegup kencang memasuki dalam rumah. Salah satu pelayan pria menundukan kepala begitu Tiger berada di depannya.

"Di mana Mommy?" tanya Tiger pada pada sang pelayan.

"Nyonya ada di ruang baca, Tuan."

Mendengar jawaban sang pelayan, tanpa basa-basi lagi Tiger berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai dua. Dia masuk ke salah satu pintu yang merupakan jalan menuju ruang baca.

"Mommy," sapa Tiger penuh keceriaan sambil merentangkan tangannya.

Namun, Ayana yang sedang duduk di sebuah kursi besar mengulurkan tangan sebagai tanda agar sang anak tidak mendekat. 

Wanita yang masih cantik meski telah menginjak kepala empat itu memasang wajah galak dan aura kemarahan sangat terasa bagi siapun yang ada di dekatnya.

"Mom?" tanya Tiger bingung.

"Duduk!" Ayana menunjuk kursi kecil di depannya.

"Kenapa, Mom? Nggak biasanya Mommy seperti ini?" Tiger yang masih berdiri bertanya lagi dengan ekspresi wajah kebingungan.

"Mommy bilang duduk!" kata Ayana menaikan suaranya sambil kembali menunjuk kursi.

Maka Tiger pun menurut setelah melihat muka sang ibu memerah karena marah. Jantungnya yang berdegup kencang bertambah dua kali lipat lebih cepat dan pikirannya semakin was was.

Setelah Tiger duduk, Ayana mengalihkan pandangannya pada sebuah dokumen di tangannya. 

"Hari ini Mommy mendapat laporan kalau kamu sudah menghabiskan uang 250 juta untuk membeli jam tangan korek dan sebuah cincin berlian."

"Mom, itu cuma…" sela Tiger namun tiba-tiba dia terdiam tak bisa berkata begitu Ayana mendelikan mata.

Tiger tertunduk lemas dan pasrah. Sementara Ayana menyilangkan tangan di depan dada tanpa meredupkan tatapan tajamnya.

"Sekarang, jawab jujur pada Mommy! Apa alasan kamu membelikan semua barang-barang itu?"

Tiger mengangkat kepala, senyum terukir di bibirnya yang tipis lalu dia mengangkat kotak berisi roti bakar. "Mom, sebelum aku jawab, bagaimana kalau Mommy coba roti bakar yang baru aku beli ini? Enak lho."

"Tiger, jawab!" bentak Ayana seraya menggebrak meja. "Atau Mommy laporkan pada Daddy."

Tiger pun kembali menghela nafas pasrah dan diturunkan kembali kotak makanan yang ada di tangannya.

"Baiklah. Aku akan jawab jujur," kata Tiger dengan suara pelan. "Sebenarnya aku belikan itu semua untuk pacarku, Mom. Aku ingin membuat mereka senang apa itu salah?"

"Tapi yang kamu berikan itu berlebihan, Tiger. Apa kamu nggak sadar kalau pacar-pacar kamu itu hanya merayu kamu supaya mendapatkan apa yang mereka mau?"

"Tapi, Mom. Kata Grandpa, harta kekayaan Daddy nggak bakal habis tujuh turunan."

Ayana berdecak sambil mengalihkan pandangan jengah. Lalu dia berkata, "Iya, dan kamu itu keturunan ke tujuh."

"Ada apa ini?" tanya sebuah suara yang datangnya dari arah pintu.

Serempak Ayana dan Tiger menghadapkan wajah mereka ke arah pintu yang sudah ada Elang berdiri di sana. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah perlahan namun tetap terkesan tegap dan mantap.

Pantas Ayana segera berdiri untuk menyambut suaminya yang baru pulang kerja. Seperti biasa, Elang akan merangkul pinggang istrinya dan mendaratkan kecupan singkat di kening.

"Ini lho, Sayang. Aku baru saja dapat laporan keuangan Tiger selama satu bulan terakhir dan dia kedapatan membelanjakan uang untuk barang-barang yang nggak penting," Ayana mengadu pada Elang dengan suara yang manja. "Coba deh, kamu kasih pelajaran sedikit buat anak kita."

Seketika Elang menoleh pada Tiger yang semakin pasrah dengan nasib hidupnya. Sebab dia tahu betul kalau sang ayah pasti akan memihak pada sang ibu.

"Apa itu benar, Tiger?" tanya Elang.

"Oh come, Dad. Daddy kan punya banyak uang, aset, dan jabatan yang tinggi. Jadi apa salah sih aku membahagiakan pacar-pacarku?" 

Elang tak langsung menjawab. Dia menarik nafas panjang, duduk di kursi berdampingan bersama Ayana lalu ditatapnya sang putra dengan intens.

"Jadi benar apa kata Mommy kamu?" Elang bertanya lagi dengan penekanan yang lebih dalam.

Tiger menghela nafas. Dia pun pasrah dan berkata jujur, "Iya, benar, Dad."

Elang bergumam sambil melipat tangan di depan dada. Dua bola mata Elang menyipit sambil terus memandang wajah Tiger.

Sedangkan Ayana yang ada di sampingnya mencondongkan badan lalu berbisik.

"Kita harus melakukan sesuatu agar anak kita nggak terus-terusan seperti ini, Lang. Dia harus bisa mandiri dan nggak bijak menggunakan uang."

"Kamu benar, Ay," ucap Epang mengakui perkataan Ayana memang ada benarnya juga. 

Elang kembali mengamati Tiger dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia mengerutkan dahi, tenagh berpikir dan mempertimbangkan keputusannya untuk terakhir kali. Hingga dia akhirnya berkata, "Mulai besok Daddy akan kirim Tiger ke suatu tempat yang jauh dari perkotaan."

"What?" teriak Tiger terkejut. 

Ada rasa tidak terima dalam diri pria itu. Lantas dia pun berdiri untuk memprotes.

"Tapi, Dad. Bagaimana bisa aku tinggal di luar kota?"

"Dan Daddy akan mencabut semua fasilitas yang telah Daddy berikan," kata Elang tegas.

"Tapi, Dad," sela Tiger.

"Dan Daddy juga nggak akan memberi uang bulanan."

"No, Dad," seru Tiger menjadi-jadi.

"Dan Daddy juga nggak akan menyita kartu kredit, mobil, ponsel…"

"Stop!" suara Tiger menggelegar ke penjuru ruangan. Dia tidak kuat lagi mendengar ancaman sang ayah yang bisanya tidak pernah main-main dalam ucapannya. "Oke, baiklah. Aku akan putuskan semua pacarku asal Daddy menarik ucapan Daddy tadi."

Elang menyeringai dan menaikan satu alisnya. Lalu hanya dengan gelengan kepala yang pelan, telah membuat Tiger menghembuskan nafas kecewa.

Elang tidak setuju dengan persyaratan yang diberikan Tiger. Meski Tiger adalah anaknya, tapi Elang merasa Tiger tumbuh dalam kemewahan dan kesenangan yang membuatnya menjadi manja.

Sehingga kali ini Elang merasa harus tegas dan tega pada sang anak. Keputusan untuk mengirim Tiger jauh dari kemewahan adalah suatu keputusan yang tepat, menurutnya.

"Mulai sekarang, kemasi pakaianmu, Tiger." 

Setelah berkata seperti itu, Elang pun bangkit berdiri. Lalu berjalan melintasi ruangan yang disusul oleh Ayana. 

Tepat setelah mereka melewati ambang pintu, Ayana bertanya pada Elang.

"Lang, memang kamu mau kirim Tiger ke mana?"

Sontak Elang mendadk mengehentikan langkahnya. Dia seperti orang yang bingung dan sambil menoleh pada Ayana dia malah balik bertanya, "Sebaiknya kemana ya? Aku nggak tahu."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!