"Apa? Tiger hilang?" pekik Ayana saat menerima telepon dari Farhan.
Ponsel yang menempel di telinga Ayana lolos begitu saja dari genggaman. Seketika tubuh Ayana membeku tak dapat digerakan.
Bukan hanya itu, lidah Ayana juga terasa kelu. Tak dapat mengeluarkan satu patah kata pun.
Elang yang melihat perubahan gestur Ayana pun menjadi penasaran. Dia yang awalnya sejak membaca majalah bisnis sambil duduk santai kini mulai menegakkan punggung.
Elang berjalan mendekati Ayana dan mengusap bahu untuk menenangkan hati sang istri.
"Ada apa, Ay?" Elang bertanya setelah cukup lama memeluk Ayana.
"Lang, Tiger hilang di hutan," ungkap Ayana dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. "Sepertinya ini salah kita yang terlalu keras sama Tiger."
Meski ada rasa kaget dan syok, namun Elang berusaha untuk tetap tenang. Dia kembali memeluk erat Ayana dan mengusap punggung sang istri.
Sementara Ayana semakin tak kuasa menahan tangisannya. Dia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Elang.
Sampai kaos yang dipakai Elang basah oleh air mata dan ingus dari Ayana. Namun, Elang tak mengapa. Dengan sabar dia mengusap rambut Ayana.
"Lang, kita ke desa Rawuh sekarang juga ya? Kita cari Tiger sampai ketemu. A-aku... Aku nggak bisa tenang kalau Tiger belum ditemukan," ucap Ayana dengan suara serak dan terbata-bata karena dia terus menangis.
Elang mengangguk mengiyakan tanpa melepas pelukan. "Tapi sebelum itu, kita bikin adiknya Tiger dulu yuk! Siapa tahu Tiger ditemukan dalam keadaan nggak bernyawa, kita jadi punya penggantinya Tiger."
Seketika Ayana mendelikan mata mendengar perkataan suaminya. Dia tak habis pikir dengan Elang yang bisa-bisanya terpikirkan untuk membuat anak di saat kondisi sedang tegang seperti ini.
Lantas Ayana mencubit perut Elang sangat keras hingga sang suami yang lebih muda darinya itu menjerit kesakitan.
"Au auw... Ay. Ampun!"
"Kamu tuh ya. Bisa nggak sih serius sedikit saja. Anak kita, Tiger, dalam keadaan bahaya. Dia tersesat di hutan. Padahal kita tahu Tiger tuh nggak bisa apa-apa. Apalagi bertahan hidup di alam liar."
Ayana terus bercelotoh tak henti mengenai Tiger. Sementara mau tak mau Elang hanya bisa pasrah mendengarkan ceramah panjang Ayana.
"Aya," panggil Elang menyela ocehan Ayana.
Lantas Ayana pun berseru dengan galak, "Apa?"
"Kita kapan pergi ke desa Rawuh kalau kamu bicara terus, Sayang?" tanya Elang sambil menunjuk jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Kamu sudah ngoceh selama tiga puluh menit dua puluh dua detik."
Ayana terdiam. Dia kembali tersadar bahwa apa yang dia lakukan hanya membuang waktu saja.
"Astaga. Iya juga ya?" Ayana menepuk jidatnya. Lalu dia menyeret tangan Elang untuk segera pergi.
*
*
*
Sementara itu, di tempat lain, sebuah mobil mewah berhenti tepat di rumah Pak RT. Lalu dari mobil mewah itu turun seorang pria bertubuh jangkung besar memakai setelan jas rapi.
Pria itu menyisir rambutnya menggunakan jemari. Dia mengedarkan pandangan ke halaman depan rumah Pak RT sekilas.
Dari balik kacamata hitam, manik mata itu menyorotkan pancaran tajam. Lalu sepasang kaki yang memakai sepatu fantofel itu mulai melangkah.
Hingga sampailah pria itu berada di depan pintu rumah Pak RT. Pria itu hendak mengetuk pintu, tapi saat itu juga Pak RT juga membuka pintu hendak keluar.
Pandangan pria itu dengan Pak RT bertemu. Seketika Pak RT langsung tampak gugup, bahkan dia mendelikan mata kala menyadari siapa pria yang ada di depannya.
"T-tuan Andrew?" sapa Pak RT dengan suara yang segan dan tampak waswas.
"Pak Rudi, apa kabar?" sapa Andrew seraya melepas kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di hidungnya.
"B-baik," jawab Pak RT yang belum bisa menghilangkan rasa gugupnya. "Silahkan duduk, Tuan."
Andrew menurut. Dia duduk di kursi yang ada di teras rumah. Lalu dia kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling seperti sedang mencari sesuatu.
"Mau minum apa, Tuan?" Pak RT bertanya.
"Nggak perlu. Saya ke sini juga nggak akan lama," kata Andrew menatap tajam pada Pak RT.
Kemudian Andrew menyipitkan mata kala dia menyadari Rudi, mantan karyawanya, yang kini menjadi ketua RT di desa Rawuh terlihat tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh pria itu.
"Memang Tuan Andrew ada perlu apa kemari?"
Andrew menghela nafas sejenak sebelum dia berkata, "Aku kemari karena aku merasa sudah saatnya putriku tahu akan jati dirinya. Dia harus tahu siapa ayah kandungnya."
Jedar!
Detik itu juga seperti ada petir yang menyambar di siang bolong. Menjadikan rasa gugup semakin mengusik hati Pak RT.
Seketika Pak RT terdiam tak bisa berkata-kata. Dia meremas ujung bajunya dengan sangat kuat.
Kepala Pak RT tertunduk dengan bola mata yang bergerak tak tentu arah sambil benaknya mencari cara yang tepat untuk menyampaikan kondisi putri Tuan Andrew saat ini.
"Jadi... Begini, Tuan Andrew," kata Pak RT mengumpulkan semua keberaniannya.
"Kenapa? Putri saya masih ada di sini kan? Dia baik-baik saja kan? Saya sudah mempercayakan putri saya pada Pak Rudi dan Pak Rudi nggak merusak kepercayaan saya kan?" Andrew mencecar sederet pertanyaan penuh rasa penasaran.
"Sebenarnya, putri Tuan Andrew semalam pamit pergi berkemah di sekitar hutan," ucap Pak RT menjelaskan. Dia menelan saliva sambil melirik penuh takut sebelum melanjutkan. "Tapi sampai saat ini dia belum juga kembali."
"Apa?" Andrew terlonjak kaget dan seketika bangkit berdiri dengan menggebrak meja. "Anak saya hilang?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
hanhan
wait Thor.. tlg ingetin LG Andrew itu siapa ya,msh ad hub ny kah di kehidupan Ayana n elang
2023-04-09
1