Ini Saatnya

"Kamu yakin ini bakal berhasil?" Rihana bertanya setelah mendengar semua rencana Brian.

Brian tersenyum dan mengangguk. "Aku yakin karena warga desa ini mudaj sekali terprovokasi apalagi kalau sudah melihat buktinyang jelas."

Rihana menarik nafas panjang. Sebenarnya, Rihana tak yakin seratus persen rencana Brian ini akan berjalan lancar.

Tapi dia pun tidak memiliki jalan lain. Dia tidak mau Tiger menjadi milik orang lain.

"Oke, kalau begitu kapan kita akan memulai rencana kita?"

"Nanti malam," jawab Brian.

*

*

*

Tiger mengecek lagi alat-alat yang akan dia gunakan berkemah. Meski barang bawaannya sedikit dan ala kadarnya, tetapi dia tidak mau ada sesuatu yang tertinggal.

Sementara itu, Farhan berada tak jauh darinya, juga tengah melakukan hal yang sama. Dia memasukan barang-barang ke dalam tas ransel.

Tiger melirik alat penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul delapan malam. Ini waktunya Tiger dan Farhan berangkat menuju hutan.

"Bri, kamu nggak ikut?" tanya Farhan pada Brian yang sedang berbaring di kasur sambil memainkan ponselnya.

"Enggak, Far, Ger. Sorry ya, aku cape banget hari ini," kata Brian beralasan.

"Oke, nggak masalah," kata Tiger seraya mengangkat tas ranselnya ke bahu. Kemudian dia menepuk bahu Farhan. "Yuk, Far. Kita berangkat."

Farhan mengangguk. Lalu mereka berdua pun berjalan menuju keluar rumah. 

Setelah memastikan Tiger dan Farhan pergi, Brian segera menghubungi Rihana. "Ri, mereka sudah berangkat. Ini saatnya kamu beraksi."

"Tapi, Bri. Aku takut. Masa malam-malam begini aku harus keluar sih?" keluh Rihana dari seberang sana.

"Ck, Rihana. Kamu mau Tiger jadi milik kamu nggak?"

"Mau," jawab Rihana singkat.

"Ya, sudah. Laksanakan rencana awal kita."

Tut.

Brian segera mematikan telepon daripada dia harus mendengar ocehan dari bibir Rihana. Lalu Brian berdiri, meraih jaketnya, dan berjalan keluar dengan sesekali mengedarkan pandangan.

Diam-diam, Brian mengikuti arah perginya Tiger dan Farhan. Dia berjalan perlahan dari jarak yang lumayan jauh.

Brian ingin tahu dimana lokasi Tiger berkemah. Hanya itu saja tujuan membuntuti Tiger.

Sementara Tiger dan Farhan yang berjalan di depan, merasakan jika ada sesuatu yang mengikuti mereka sejak dari tadi. Namun, setiap kali mereka mengedarkan pandangan, sama sekali tak ada yang aneh.

Mereka sudah berada di tepi hutan, dan tak ada siapapun kecuali mereka berdua. 

"Ger, kok aku merasa ada yang ngikutin kita ya?" tanya Farhan dengan nada takut serta bulu kuduknya pun mulai meremang.

"Nah, bagus dong."

"Kok bagus, sih? Orang lagi ngerasa horor, malah bagus."

Tiger berdecak sambil melirik Farhan sekilas. "Kamu itu gimana? Kita kan memang mau bikin konten horor."

"Oh iya ya?"

Tiger menghentikan langkah kakinya ya g diikuti juga oleh Farhan. Tiger menyorot lampu senter ke sekeliling.

Ditemukannya sebuah tempat yang datar dan cocok untuk mendirikan tenda. Maka Tiger pun tersenyum.

Mereka berdua membagi tugas. Tiger yang mendirikan tenda, sementara Farhan menyiapkan kamera.

Selang lima belas menit, semua yang mereka butuhkan sudah siap. Hanya tinggal pengambilan gambar.

Brian yang menyaksikan dua sahabatnya dari kejauhan, tepatnya di balik sebuah pohon besar, menunggu dengan tidak sabar. 

Beberapa kali Brian menampar pipinya sendiri karena nyamuk-nyamuk nakal mencoba untuk hinggap dan mengambil darahnya.

Meski Brian sangat kesal akan gangguan nyamuk, dia tetap sabar menunggu kedatangan Rihana.

Lalu tiba-tiba…

"Dor!"

Rihana menepuk punggung Brian yang membuat pria itu terlonjak kaget. Secepat kilat, Brian memutar kepala dan menempelkan jari telunjuk ke bibir.

Dengan soror mata sebal, Brian memberi isyarat agar Rihana tidak membuat gaduh. Apalagi Rihana tertawa puas karena berhasil mengejutkan Brian.

"Ish, kamu itu ya? Kalau rencana kita sampai gagal, bagaimana?"

Rihana menutup mulutnya agar berhenti tertawa. "Ups, sorry."

Di tempat lain, Farhan samar-samar mendengar suara Rihana tertawa. Dia mengira jika suara itu merupakan suara tawa kuntilanak.

"Ger, aku dengar suara kuntilanak," ucap Farhan dengan badan dan suara yang bergemetar. "Suaranya seperti dari kejauhan gitu."

Berbeda dengan Farhan yang ketakutan, Tiger justru semakin girang akan adanya suara tawa seorang wanita. Lantas dia menghadapkan wajahnya ke kamera.

"Kalian dengar nggak, guys? Farhan tadi denger suara seperti seorang wanita yang sedang tertawa," kata Tiger sok serius.

"Biasanya itu kalau suara kuntilanak terdengar dari kejauhan, berarti kuntilanak itu ada di dekat kita. Kalau suaranya seperti dari dekat, itu tandanya kuntilanaknya berada jauh dari kita," jelas Farhan masih dengan ekspresi yang ketakutan. "Nah, ini suaranya terdengar jelas banget. Itu tandanya kuntilanaknya ada di sekitar sini, guys."

Lama mereka berdua berbincang-bincang tentang hawa mencekam yang mereka rasakan. Merasa sudah cukup, mereka memutuskan untuk tidur ke dalam tenda.

Tiger dan Farhan berbaring di dalam tenda yang muat untuk dua orang.

Farhan merupakan orang pertama yang berhasil menyelam ke alam mimpi. Namun, Tiger kesulitan tidur dikarenakan dia merasa sangat kedinginan. 

Sialnya, Tiger tidak membawa jaket tambahan. Maka dia pun merogoh tas milik Farhan. 

Senyum berkenbang di bibir Tiger kala tangannya menyentuh sebuah jaket tebal. Tak mau pikir panjang, dia menarik jaket itu dan memakainya.

Lalu gangguan tidak berhenti sampai situ. Tiger mendadak mendapatkan panggilan jiwa yang tidak dapat dia tahan lagi.

Hawa dingin yang menusuk tulang membuat Tiger ingin buang air kecil. 

Sehingga Tiger keluar dari tenda untuk menuntaskan hajatnya tersebut.

Brian yang melihat dari kejauhan mengira jika Tiger adalah Farhan. Dikarenakan Tiger menggunakan jaket yang diyakini Brian adalah milik Farhan.

Sehingga Brian menduga jika yang berada di dalam tenda adalah Tiger.

"Ini saatnya, Ri," kata Brian.

"Oke."

Rihana keluar dari tempat persembunyiannya. Lalu berjalan denganlangkah yang cepat menuju ke dalam tenda.

Rihana melihat di dalam tenda itu ada seorang pria tengah tertidur yang Rihana yakini adalah Tiger. 

Pria itu menggunakan selimut tipis hingga menutupi wajahnya. Namun, Rihana yakin betul jika pria itu pastilah Tiger.

Tak mau lama-lama, Rihana melancarkan rencana sesuai ide dari Brian. Dia melepas jaketnya dan tidur di sebelah pria tersebut.

Bahkan tak tanggung-tanggung, Rihana mendekap tubuh pria itu. Sedangkan Farhan yang memang merasa kedinginan, merasa beruntung dengan kehadiran seseorang yang memekuknya.

Kok tiba-tiba anget ya? Serasa dipeluk Rihana. Kata Farhan dalam hati.

Farhan malas untuk membuka mata dan melihat siapa orang yang memeluknya. Disebabkan juga kelopak matanya yang sudah sangat berat.

Sementara itu, di luar tenda, Brian segera berlari kembali menuju desa untuk memanggil para warga. 

Inilah rencana Brian yang sesungguhnya, dia ingin agar para warga salah sangka terhadap Tiger dan langsung menikahkan Tiger dengan Rihana.

Kebetulan sekali Brian melihat ada pria yang sedang duduk di pos siskampling Sepertinya mereka memang sedang bertugas ronda.

"P-pak, lapor! A-ada yang berbuat mesum di hutan," kata Brian tersengal kehabisan nafas akibat berlari.

Terpopuler

Comments

Azkayravelora

Azkayravelora

brian mah temen nggk setia itu namanya...jahat banget sihh

2023-04-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!