Wajib Diam

Siti tidak bisa bergerak sama sekali meski dia telah mengerahlan segala tenaga supaya terbebas dari pelukan Tiger.

Lalu samar-samar terdengar suara dengkuran halus. Maka Siti oun mendongak, ternyata Tiger sudah tidur lelap. 

Meskipun begitu, pelukan Tiger sangat kuat dan sulit dilepas. Membuat Siti pun pasrah.

Dia juga merasa lelah akibat tenaganya terkuras habis untuk aktivitas hari ini. Sehingga tak butuh waktu lama, Siti juga ikut menyusul tidur terlelap dengan dada Tiger sebagai bantalnya.

Mereka berdua tidur dengan posisi perpelukan di saat dinginnya malam tengah menyergap mereka. 

Keduanya tanpa sadar saling memberikan kehangatan satu sama lain dalam tidur mereka. Hingga sinar matahari menyingsing, kedua insan itu masih terlelap.

Sontak Siti membuka mata kala menyadari dirinya tidur di samping Tiger. Dia terbangun setelah mendengar suara kicauan burung yang mengusik tidurnya.

Lantas Siti pun keluar tenda untuk melihat keadaan. Ternyata saat itu sudah terang benderang. Membuat Siti buru-buru membangunkan Tiger.

"Hai, bangun!"

Siti menendang perut Tiger agar pria itu terbangun. Namun, yang terjadi Tiger hanya menggeliat dan memejamkan matanya kembali.

Siti berdecak. Lalu membungkukan badan mengguncangkan tubuh Tiger.

"Tiger, bangun! Sudah siang."

Plak.

Siti menampar pipi Tiger yang tak mau bangun. Maka kali ini Tiger pun membuka mata dengan berteriak mengaduk kesakitan. 

Lekas Tiger menyentuh pipi kirinya yang terasa sangat panas dan mungkin saat ini sudah memerah. 

Sedangkan Siti berdiri di depannya sambil berkacak punggang serta menampilkan wajah garang seperti banteng mengamuk.

"Enak banget ya. Numpang tidur di tenda aku."

Bukannya menyahut perkataan Siti, Tiger justru menoleh ke kanan kiri. Lalu dia menjatuhkan lagi kepalanya dan kembali meringkuk.

"Jadi, tadi malam aku tidur di tenda kamu?" tanya Tiger tanpa rasa berdosa. "Berarti semalam kita tidur berdua?"

Langsung pada saat itu, kedua pipi Siti memerah. Siti segera berpaling ke arah lain agar Tiger tidak melihat wajahnya.

"Sudah. Jangan banyak bicara! Sekarang bantu aku kemasi tenda."

Setelah itu Siti pun keluar tenda dan membereskan semua peralatannya. 

Tiger menarik nafas panjang, menggeliat, dan bangun dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

Sebenarnya Tiger pun tahu jika Siti tersipu malu kala dia membahas peristiwa tadi malam. Jiwa playboy Tiger yang sudah beberapa minggu tertidur, kini bangkit lagi.

Ada perasaan senang ketika Tiger menggoda Siti. Meski wanita itu mampu menyembunyikan perasaanya dengan sempurna.

Setengah jam mereka mengemasi barang, membongkar tenda dan membersihkan tempat berkemah.

Tak ada pembicaraan diantara mereka selama berkemas. Namun, Tiger mendapati Siti sesekali melirik ke arahnya.

Dan saat Tiger menoleh pada wanita itu, Siti langsung memalingkan muka.

"Jangan lihatin aku terus! Nanti naksir lagi," kata Tiger penuh percaya diri.

Siti membuat gerakan seperti ingin muntah. Lalu memalingkan muka dan berpura-pura disibukan dengan memasukan barang ke dalam tas.

"Kamu belum jawab pertanyaan aku. Apa tujuan kamu ada di hutan ini?" kata Siti menyipitkan mata curiga. "Atau, jangan-jangan kamu nguntit aku ya?"

Tiger menghela nafas. Sebenarnya dia malas untuk menjelaskannya pada Siti tapi supaya wanita itu tidak mencecarnya dengan pertanyaan yang sama, Tiger pun memberi penjelasan.

Siti mengangkat alisnya dengan bibir yang melengkungkan senyum mengejek. 

"Jadi, kamu mau menjadi saingain aku? Sama-sama menjadi konten kreatir, gitu?" tanya Siti setelah Tiger selesai bercerita.

"Ya. Tapi yang terpenting kita bersaing secara sportif, kan?" kata Tiger membela diri.

Siti mengangkat bahu. Lalu berdiri dan menggendong tas. 

"Oke, kita bersaing secara adil. Lagipula aku juga nggak takut saingan sama kamu."

"Eh, Siti, tunggu!" seru Tiger ketika mendapati Siti berbalik dan pergi meninggalkannya.

Tiger berlari menyusul Siti. Namun, dia tak ingin membuka percakapan lagi. Sebab saat ini yang terpenting adalah Tiger bisa pulang kembali ke desa. 

Mereka berdua berjalan beriringan dengan Siti berada di depan dan Tiger mengekor di belakang. 

Tak berapa lama, mereka berdua dihadapkan oleh sungai yang airnya sangat deras dan tak ada jembatan sejauh mata memandang.

Membuat Siti dan Tiger terpaksa harus loncat dari satu batu ke batu lain untuk menyeberang sungai.

"Siti, kamu biasa kemah di tempat ini?" tanya Tiger pada Siti yang sedang berusaha meloncati batu sungai yang besar.

Siti hanya diam tak menjawab. Sedangkan Tiger tak mau berhenti begitu saja.

BagiTiger, berdiam diri selama menempuh perjalanan bersama seseorang sangatlah membosankan. Maka Tiger pun melancarkan pertanyaan selanjutnya.

"Sepertinya kamu pantes jadi vlogger pemandangan alam, deh," celoteh Tiger. "Dan kamu tahu pemandangan alam yang bagus? Yaitu dua bukit kembar yang…"

Plak.

Tiba-tiba saja, Siti memutar badan dan langsung menampar pipi Tiger.

Tiger pun membulatkan mata terkejut akibat tamparan mendadak yang mengenai pipi kirinya. Belum juga setengah hari dia melewati waktu bersama Siti tetapi wanita itu sudah menamparnya dua kali.

"Kok kamu nampar aku sih? Salah aku apa?"

"Kamu masih tanya salah kamu apa?"  Siti mengulang ucapan Tiger dengan nada mencemooh. "Cowok dengan pikiran kotor seperti kamu itu memang pantas ditampar tahu."

"Pikiran kotor bagaimana sih?" Protes Tiger masih dengan satu tangan yang memegangi pipi. "Orang aku mau bilang dua bukit kembar yang ada di sebelah selatan desa Rawuh."

Siti mendengus kesal. Tatapan tajam dia layangkan pada Tiger yang justru menampilkan wajah yang bagai yak berdosa.

Maka Siti pun menarik nafas panjang. Berusaha untuk tetap berada di garis kesabarannya.

"Hai, pria kota. Bisa nggak kamu itu diam dan nggak bikin ulah?"

"Siapa yang bukin ulah. Yang ada kamu tuh yang sering bikin ulah," kata Tiger tak terima jika dia selau disalahkan.

"Pokoknya selama sisa perjalanan ini. Kamu wajib diam dan jangan bikin gara-gara. Ngerti?"

"Iya," Tiger menjawab dengan nada malas.

Beberapa saat Tiger dan Siti yang berdiri di atas batu besar, saling bertatapan tajam. Lalu Siti memutuskan pandangan, karena dia berkeinginan cepat pulang.

Siti melompat ke batu lain yang lebih kecil. Diikuti pula oleh Tiger.

Namun, kala itu Siti kehilangan keseimbangan tubuh dan membuatnya terjebur ke dalam air sungai. Derasnya debit air, menyeret tubuh Siti tanpa ampun.

"Tiger, tolong!" teriak Siti sambil berusaha meraih apapun yang ada di sekitarnya.

Tiger yang melihat Siti tenggelam justru hanya memandang tanpa ekspresi. "Sorry, Sit. Kamu yang bilang kan, supaya aku wajib diam."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!