Perintah Elang

Dengan tubuh yang terasa lelah, Rihana menyeret tubuhnya melangkah melintasi halaman rumah Pak RT. Selama delapan jam dia menghabiskan waktu di perjalanan dan kini yang dia inginkan adalah tempat tidur yang empuk.

Rihana memandang sekilas rumah Pak RT dari depan. Dia menghela nafas lega, setidaknya rumah Pak RT jauh lebih baik dari ruamh Pak Mansur.

Kemudian Rihana mengetuk pintu dengan ketukan lemah sambil berharap pintu segera dibuka oleh sang pemilik rumah.

"Permisi," teriak Rihana yang bersuara parau dan letih.

Tak lama, pintu berderik terbuka dan tampaklah seorang pria berkumis lebat dan juga perut yang buncit. Pria itu juga memakai peci yang perumapak ciri khas ketua RT yang ada di dalam sinetron.

Pria itu memandang Rihana dari atas hingga ke bawah. Membuat Rihana sendiri malu karena penampilannya sekarang sungguh sangat berantakan.

"Silahkan masuk, Mba? Ada yang bisa saya bantu?"

Dengan tak sabar, Rihana langsung masuk begitu Pak RT menggeser tubuhnya menyisakan ruang kosong yang dapat dilewati Rihana.

Lalu dia duduk di sebuah sofa usang di ruang tamu. Sejenak, Rihana kembali mengedwrkan pandangan yang mana ruang tamu itu cukup nyaman meski jauh dari kata mewah.

Rihana pun mengutarakan niatnya untuk tinggal di Desa Rawuh untuk beberapa hari. Dia juga menceritakan saran Pak Mansur yang mana Rihana akan tinggal di rumah Pak RT selama dia tinggal.

Pak RT tak mempermasalahkan kedatangan Rihana. Dia menerima Rihana dengan baik dan menunjukan kamar Rihana yang berhadapan langsung dengan kamar putri semata wayangnya.

"Siti," teriak Pak RT memanggil nama anaknya.

Saat itu Rihana tertegun sebab nama anak Pak RT sama persis dengan nama wanita yang tadi membawa kucing.

Rihana mendengar suara derap langkah kaki yang semakin lama semakin terdengar jelas. Rasa penasaran di dalam dada membuat Rihana menoleh ke arah pintu.

Dia menatap lekat pintu itu untuk menunggu kedatangan Siti, anak Pak RT.

Lalu tiba-tiba, Rihana terlonjak kaget. Dia bahkan sampai berdir dari duduknya kala melihat wanita yang tadi membawa kucing sekarang berada di hadapannya.

Begitu pula dengan Siti yang kaget setengah mati. Dia membelalakan mata dan tubuhnya seketika gugup.

"Kamu?" Siti dan Rihana bersamaan dan mereka saling tunjuk.

"Lho? Kalian sudah saling kenal?" Pak RT bertanya sambil memandang Rihana dan Siti secera bergantian.

Pak RT tersenyum, berdiri, lalu menepuk bahu Siti dan Rihana. "Syukur deh kalau gitu. Saya jadi nggak perlu kenalin kalian kan?"

Kemudian Pak RT pun melangkah pergi meninggalkan Siti dan Rihana yang masih berdiri mematung. Mereka berdua saling tatap dengan mulut yang sedikit menganga.

Beberapa saat berlalu, Siti pun hanya bisa pasrah. Dia tahu Rihana pasti akan membalas dendam dan merepotkannya dilain waktu.

Maka dari itu, Siti harus tetap waspada dengan Rihana. Kalau perlu Siti yang harus membuat Rihana tidak betah tinggal di rumahnya.

"Aku lagi capek banget. So, please, katakan mana kamar aku," kata Rihana yang saat ini tak kuasa menahan rasa lelah.

"Ayo, ikut aku," kata Siti yang kemudian berjalan masuk ke ruangan lain. 

Rihana sengaja meninggalkan kopernya di ruang tamu dan hanya membawa badannya yang terasa pegal di setiap sendi.

Kemudian Siti berhenti di sebuah pintu yang sepertinya adalah kamar Rihana. Maka kedua bola mata Rihana pun berbinar seketika.

"Ini kamar kamu tapi…"

"Yes, finally," teriak Rihana yang tidak mau mendengarkan ucapan Siti.

Dia langsung berlari dan masuk ke dalam kamar tanpa pikir panjang. Namun, begitu masuk, senyum di bibir Rihana hilang seketika kala mendapati kamar yang penuh dengan debu.

"What? Apa ini?" pekik Rihana tak terima mendapatkan kamar kotor seperti itu.

Rihana memutar badan hendak protes pada Siti namun terlambat, Siti lebih dulu menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya dari luar.

"Sssiiittiii!"

Teriakan Rihana di dalam kamar bergema, berpadu dengan suara gelak tawa dari Siti yang berlari ke luar rumah.

"Biar tahu rasa tuh anak kota."

*

*

*

Beberapa hari ini Pak Mansur senang sebab pekerjaan hariannya semakin ringan berkat kedatangan anak dari mantan bosnya dulu.

Ditambah lagi si anak mantan bos, alias Tiger, membawa dua orang teman pria. Menjadikan keseharian Pak Mansur menjadi lebih santai.

Seperti sore ini, Pak Masur yang biasanya menata katu bakar, kini hanya tinggal duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi dan cemilan berupa singkong rebus.

Pandangan Pak Masur terus memperhatikan tiga pemuda dari kota yang sedang menata dan membelah  kayu bakar.

Bibir Pak Masur melengkung ke atas membentuk senyuman kala melihat Tiger yang sangat kesusahan memebelah kayu bakar. Sedangkan dua orang temannya dia suruh untuk menata dan membawanya ke dalam dapur.

Ayia… Ayia… Ayia…

Ayia… Ayia… Ayia…

Bunyi ponsel jadul milik Pak Mansur yang tersimpan di saku kemeja. Dengan segera, Pak Mansur mengambil ponsel jadul itu dan mengangkat telepon dari Elang.

"Halo, mantan Bosku."

"Pak Mansur, bagaimana progres anakku di sana?" Elang bertanya to the poin tanpa adanya basa-basi.

"Ya, dia seperti anak kota pada umumnya. Masih kesusahan beradaptasi dengan kondisi di desa," ungkap Mansur seraya terus memperhatikan Tiger yang menyeka keringat menggunakan punggung tangannya.

"Hmm, begitu ya?" Elang bergumam dengan dahi mengerut tampak seperti sedang mencari ide. Tak lama dia pun mepanjutkan ucapannya, "Tolong katakan pada anakku, kalau selama dia tinggal di desa, aku nggak akan kasih uang bulanan. Jadi dia sendiri yang harus berusaha mencari uang."

Pak Mansur terlonjak kaget mendengar ucaoan Elang. Bahkan dia sampai tersedak kopi yang sedang dia seruput.

Pak Mansur terbatuk-batuk sesaat, lalu bertanya, "Apa Bos yakin?"

"Ya, aku yakin. Karena kalau dia tetap mendapat uang dariku, dia pasti akan tetap berbuat seenaknya. Apalagi yang aku dengar, pacar Tiger ada yang datang menyusulnya ke desa."

"Iya, benar, Bos."

"Kalau begitu sampaikan pesanku tadi. Biarkan dia cari uang sendiri di desa itu. Bagaimana pun caranya," ucap Elang tegas.

"Baik, Bos."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!